Menikah Dengan Ayah Sahabat Ku

Menikah Dengan Ayah Sahabat Ku
Bab 48. Manja nya anak dan bapak


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, Rein sudah bangun lalu mencuci wajah nya. Ia sadar bahwa status nya kini sudah berganti menjadi seorang istri dan juga ibu.


Keluar dari kamar mandi, Rein menatap Davin yang masih tertidur lelap dengan selimut sebatas dada nya.


Rein membulatkan matanya saat melihat tanda merah keunguan di dada serta leher Davin. Astaga, apakah ia yang membuat tanda itu, Rein merona seketika.


Setelah mencepol rambut nya secara acak, Rein berjalan menuju pintu. Tujuan nya kini adalah dapur. Jam masih menunjukkan pukul 6 pagi. Davin yang masih dalam masa cuti nya, sengaja Rein tidak bangunkan.


"Buat apa ya?" gumam nya.


Setelah melihat nasi yang sudah di masak oleh bi Anum, Rein memutuskan untuk membuat nasi goreng sebagai menu sarapan mereka pagi ini.


Beberapa irisan sosis, Sayuran sudah Rein persiapkan. Setelah bumbu yang di tumis harum, Rein segera memasukan irisan sayur lalu Sosis, tak lupa ia juga memasukkan telur yang sudah di kocok di dalam wajan lalu di aduk-aduk.


Rein memasukan nasi yang sudah di kalis menggunakan tangan. Tak lupa ia menambahkan penyedap rasa dan sedikit kecap.


Harum nasi goreng ala Rein tercium di ruang dapur. Bu Anum yang baru saja menyelesaikan tugas membersihkan rumah langsung menghampiri Rein.


"Ada yang bisa saya bantu, nya?" tanya nya sopan. Ia Sekarang memanggil Rein dengan panggilan nyonya, sebagai bentuk hormat nya pada istri tuan nya.


*Minta tolong siapkan piring aja bi." balas Rein dengan tangan yang bergerak lincah memindahkan nasi goreng itu dalam sebuah wadah yang sudah ia persiapkan.


Tak lupa Rein menghiasi nasi goreng itu dengan beberapa irisan tomat dan juga timun. Setelah itu Rein membuat segelas kopi hitam, dan 2 gelas susu.


"Makasih ya bi. Saya ke kamar sebentar. Bibi sarapan saja, Rein tadi sudah sisakan nasi goreng di dapur." Bi Anum menatap Rein sambil mengucapkan terimakasih, lalu berlalu dari sana.


***


"Ami, sudah bangun belum?" Rein mengetuk beberapa kali namun suara Ami belum juga terdengar.


"Aku masuk ya?" ucap Rein. Ia membuka pintu kamar putri sambung sekaligus sahabat nya itu dengan pelan.


Helaan nafas terdengar. Rein menatap kamar yang sangat berantakan itu. Bantal di lantai, selimut tidak di lipat membuat Rein menggeleng pelan. "Aish anak ini." gumam nya.


Rein merapikan kamar Ami, tak lupa membuang bungkus sampah yang berserakan di atas meja.

__ADS_1


"Ngomong-ngomong dia dimana?" ucap Rein setelah membersihkan kamar putri nya.


Ami tak ada di kamar nya, di dalam kamar mandi pun tidak ada setelah ia mengecek tadi. "Ke rumah mamah mungkin." gumam nya, lalu keluar. Ia sekarang harus membangun kan bayi besar nya.


Sesampai nya di kamar, Rein di buat bingung karena Davin juga tidak ada di kamar. "Anak sama bapak pada kemana? Pagi-pagi sudah ngilang aja."


Rein memilih membersihkan dirinya dulu. Nanti baru ia lanjut mencari anak dan suami nya itu.


***


Sedangkan di sisi lain, di sebuah taman di kompleks perumahan seorang pria dan wanita yang memakai pakaian olah raga sedang beradu pandang.


"Perjanjian nya, kalau yang menang nanti dia yang tidur sama bunda malam ini." Davin menatap putri nya protes.


"Nggak bisa gitu. Enak aja, dia istri daddy." ujar nya tak mau kalah.


Benar sekali, pagi-pagi tadi Ami sudah membangun kan Davin untuk joging di taman yang tak jauh dari rumah merek.


Ayah dan anak itu sengaja tidak mengajak Rein, karena kedua nya melihat Rein sibuk di dapur.


"Ya sudah, gimana kalau yang menang nanti di suapin sama bunda, dan yang kalah harus cuci piring."


Davin dan Ami sedang bertaruh. Kedua nya akan lomba lari dari taman ke rumah. Siapa yang sampai duluan, ia akan mendapatkan hadiah yaitu makan di suapi oleh Rein.


Entah kenapa ayah dan anak itu, sangat manja pagi ini. Setelah melakukan perenggangan otot, Davin dan Ami kini bersiap di garis star yang mereka buat sendiri hehe.


"Siap?" tanya Davin. Ami mengangguk sambil fokus menatap jalan di depan nya, apapun yang terjadi dia harus menang.


"1...2...3...Mulai..." Davin dan Ami langsung berlari sekuat tenaga mereka.


Awal-awal Ami memimpin hingga jarak beberapa meter lagi akan sampai di rumah, Davin tiba-tiba saja menyelip nya.


Ami membulatkan matanya kaget. "Aaa Daddy curang!" teriak nya protes pada Davin yang kini menatap seolah mengejek nya karena kalah.


Rumah mereka terasa ramai akibat kegaduhan Ami yang tak terima karena Davin menang. "Daddy, curang pasti kan?" protes Ami sambil meluruskan kaki nya di depan teras.

__ADS_1


Davin tertawa kecil melihat kelakuan putri nya. "Kalau kalah ya kalah aja, nggak usah banyak protes." ejek nya.


Rein menatap anak dan ayah itu dengan heran. "Kalian dari mana sih? Pagi-pagi udah buat gaduh aja." ujar nya tiba-tiba.


Davin langsung menghampiri sang istri. "Kangen banget sayang." ujar nya sambil mengecup kening dan bibir Rein.


"Nggak boleh peluk. Mandi dulu sana." Ujar Rein menolak saat Davin akan memeluk nya. Pasalnya tubuh Davin penuh dengan keringat dan ia sudah mandi.


Davin mengerucut kan bibir nya membuat Ami tertawa kecil. "Haha rasakan nggak boleh peluk." Ujar nya.


Davin melirik kesal Putri nya itu. "Ingat perjanjian kita tadi, yang kalah cuci piring." Wajah Ami langsung masam. Ia menatap Rein penuh binar, ingin meminta bantuan namun Davin langsung membawa sang istri masuk ke dalam rumah, meninggalkan Ami yang meratapi nasibnya.


"Ami, kamu mandi juga sana. nanti turun sarapan." Ami mengangguk mendengar ucapan Rein.


"Iya bunda ku sayang."


***


Di meja makan, Ami hanya memutar mata malas melihat kebucinan Davin pada Rein. "Daddy makan sendiri lah, masa gitu aja di suapin." ujar nya dengan wajah masam.


"Kalah diam aja. Nggak usah iri." balas Davin sambil melirik Ami.


"Kalian dua kenapa sih?" tanya Rein heran. Ia bingung dengan tingkah suami dan anaknya pagi ini.


"Tadi ada yang ngajak taruhan sayang, tapi dia kalah dan malah nggak terima." jelas Davin pada Rein Sekaligus menyindir Ami. Namun yang di sindir tak peduli sama sekali.


Rein akhirnya mengerti. "Sudahlah, sini bunda suapin juga." Senyum di wajah Ami terbit. Ia menatap Davin penuh kemenangan.


"Makasih bunda." ujar nya sungguh-sungguh.


Jadilah Rein pagi itu menyuapi dua bayi besar nya. Namun ia dengan senang hati memanjakan mereka.


Davin tidak marah saat Rein juga menyuapi Ami, ia senang karena Rein begitu mengerti mereka. "Makasih istri ku."


Anak dan ayah itu langsung memberikan kecupan di pipi kiri dan kanan Rein, membuat istri sekaligus ibu itu tersenyum haru.

__ADS_1


"Makasih." balas Rein sambil menatap kedua nya hangat.


"Jangan lupa cuci piring." ujar Davin di tengah-tengah suasana haru yang baru saja tercipta, membuat Ami menggerutu kesal sedangkan Rein tertawa kecil.


__ADS_2