
"Iya tuan." Putri menunduk.
Tanpa menjawab, Arga melangkah kan kaki nya mendekati Putri. Muka Arga dan muka Putri hanya berjarak 15 cm.
Putri yang mengetahui Arga yang semakin mendekati nya menutup mata dan melangkah mundur menjauhi Arga sampai anak tangga. Tuan Arga mau ngapain sih ! aduh, apa jangan jangan tuan Arga mau mendorong ku. Putri semakin melangkah menjauh dari Arga, sedangkan Arga masih berjalan mendekati Putri.
Putri yang hampir terjatuh ke bawah. Arg menarik tangan Putri, karena tarikan tangan Arga sangat kuat, membuat Putri memeluk Arga.
Hampir satu menit Putri memeluk Arga dan melepaskan peluk kan nya.
"Mamaaf tuan, saya tidak sengaja memeluk tuan. Kenapa bisa gini sih ! **** banget sih ! kenapa sampai memeluk tuan Arga sih Put ! Putri memaki dirinya sendiri.
Arga sangat puas melihat muka Putri memerah karena malu. "Cepat bawakan dua gelas kopi keruangan kerja ku ! jangan lama !." Arga meninggalkan Putri yang masih mematung karena malu.
"Babaik tuan ." Putri berjalan menuruni anak tangga dan melangkah kan kaki nya ke arah dapur.
***
...Di ruang kerja Arga...
"Bram ! siapa laki laki yang tidur di apartemen Clara semalam." Arga melihat layar ponsel nya.
"David Alfison tuan muda. Direktur utama perusahaan Mitra Abadi." Jelas Bram.
"Sejak kapan Clara bermain gila di belakang ku."
"Hampir 4 bulan tuan." Jawab Bram menunduk.
Pugh. Satu pukulan mendarat di perut Bram.
"Kenapa kau baru bilang pada ku !" Arga menaikan volume suara nya.
"Maaf tuan muda, saya sendiri baru tau informasi nya hari ini. Nona Clara sangat pintar menutupi hubungan nya dengan David Alfison tuan muda." Jelas Bram.
"Clara !! kau berani main gila di belakang ku ! batalkan semua kontrak dengan perusahaan Mitra Abadi." Arga kembali duduk di sofa.
"Baik tuan muda."
****
...Di dapur...
"Nona muda nggak apa apa kan." Tanya Rodiah yang melihat Putri panik.
"Putri nggak apa apa kok bi. Ya sudah, Putri ke atas dulu ya bi." Ucap Putri meninggalkan Rodiah di dapur dan membawa dua gelas kopi menggunakan baki.
__ADS_1
***
Sesampai di lantai atas. Putri menghembuskan napas secara perlahan. "Bismillah, mudah mudahan tuan Arga tidak marah lagi dan menyukai kopi buatan ku." Putri melangkah kan kaki nya menuju ruang kerja Arga.
"Permisi tuan muda, kopi nya." Panggil Putri mengetuk pintu.
Bram yang mendengar panggilan seseorang dari luar segera membuka pintu nya.
"Maaf tuan, ini kopi nya ?" kata Putri.
"Silahkan masuk nona muda." Kata Bram mempersilahkan Putri masuk.
"Ini tuan muda kopinya." Putri menaruh gelas yang berisi kopi di meja sofa. "Ada yang bisa saya bantu lagi tuan ?" tanya Putri.
"Tidak." Jawab Arga tanpa melirik Putri.
"Baik tuan, kalau tidak ada lagi saya permisi dulu tuan." Kata Putri melangkah kan kaki nya keluar ruang kerja Arga.
"Hey ! siapkan air hangat ! Bentar lagi aku mau mandi ! siapkan semua nya, jangan sampai ada yang tertinggal !" Perintah Arga.
Putri yang mendengar Arga berbicara menghentikan langkah kaki nya.
"Baik tuan." Putri melanjut langkah kaki nya keluar dari ruang Arga. Mandi saja harus di siapin, dasar monster. Aku ini kan istri nya, bukan pelayan nya. "Huh. Putri menghembuskan napas nya secara perlahan. "Sabar Putri, kamu pasti bisa bertahan " Gerutu Putri mengusap dadanya.
Putri melakukan semua yang di perintah oleh Arga, baik air hangat, pakaian semua nya sudah di siapkan oleh Putri. Setelah melakukan semua yang di perintah Arga, Putri kembali ke kamar nya, untuk membersihkan tubuh nya.
Kopi ini seperti kopi yang pernah aku minum di kantor, sudah hampir seminggu kopi buatan OB beda. Arga menyirup kopi berkali kali, karena penasaran dengan rasa nya.
***
...Di ruang kerja Arga...
Dret. Drer. Dret. Ponsel Arga bergetar.
Arga melirik ponsel nya. Ada nama Clara muncul di layar ponsel nya.
Arga membiarkan ponsel nya bergetar terus menerus.
Arga melihat alroji tangan nya sudah hampir magrib. Arga meninggalkan Bram yang masih fokus dengan laptop nya dan Arga melangkah kan kaki nya menuju kamar nya.
****
Sesampai di kamar, Arga langsung menyegarkan tubuh nya di buthup. Hampir 20 menit Arga berendam di buthup.
Arga menekan nomor telpon yang terhubung ke kamar Putri. 3 kali Arga menelpon Putri namun tidak ada jawaban.
__ADS_1
"Kemana lagi wanita munafik itu !" Geram Arga. "Awas saja nanti, kau akan terima hukuman nya."
Selesai mandi, Arga langsung ke kamar Putri.
"Putri ! teriak Arga mengagetkan Putri.
Apa aku buat salah lagi. Kenapa tuan Arga memanggil ku. Putri melangkah kan kaki nya keluar kamar, dengan tubuh gemetaran Putri membuka pintu kamar nya.
Cekrek.
Arga yang mengetahui Putri membuka pintu, segera menarik tangan Putri dan menghempaskan nya ke kasur.
"Apa kau tuli hah ! apa kau tak dengar aku menelpon mu !" teriak Arga membentak Putri.
"Mamaaf tuan. Ta" Kata Putri tersedu sedu.
"Aku tidak butuh penjelasan mu !" Arga semakin menaikan volume suaranya. Arga tidak mau mendengar penjelasan Putri.
"Maaf tuan." Putri mencoba bangkit dari tidur nya namun tangan Arga mendorong Putri, sehingga Putri jatuh ke tempat tidur lagi. Putri yang sudah tidak bisa menahan perlakuan Arga, langsung menangis dan memaksa diri untuk tetap bangun walaupun Arga selalu menjatuhkan nya. "Tuan muda, maafkan saya. Saya bukan nya tidak menerima telpon dari tuan, saya sedang sholat." Putri menghapus air matanya dan memberanikan diri menjelaskan semua nya.
Arga hanya tertawa, ia tidak percaya dengan apa yang di katakan Putri. "Kau sudah berani melawan ku !" Arga meremas mulut Putri yang membuat Putri semakin kesakitan.
Arga yang melihat Putri kesakitan semakin puas. "Ini belum seberapa ! aku akan membuat mu menderita lebih dari ini, sampai kau sendiri yang meminta pisah dari ku !" Ancaman Arga.
Karena sudah puas melihat Putri menangis kesakitan, Arga kembali ke ruang kerja nya.
Setelah kepergian Arga, Putri bangun dari tidur nya dna duduk di ujung kasur.
Ya Tuhan. Apa ini memang jalan hidup ku. Aku tau ini sudah menjadi jalan takdir ku. Ya Tuhan, jika berpisah tidak berdosa, aku ingin secepatnya pernikahan ini berakhir. Aku tidak sanggup lagi. Ma Pa, Putri kangen. Putri ingin pulang ke rumah mama papa. Ibu Nimas, Jemput Putri, Putri mau pulang ke panti. Ayah, Tolong Putri yah, Putri rindu Ayah. Ayah dengar Putri kan, Putri ingin ikut ayah saja, ayah pasti bahagia di sana. Putri menangis tersedu sedu.
Sedangkan di ruang kerja. Arga tertawa bahagia melihat Putri menderita. Arga menghentikan tertawa nya mendegar ponsel bergetar.
Dret.Dret.Dret. Ponsel Arga bergetar.
Arga mengambil ponsel nya, ternyata Clara yang menghubungi nya lagi.
Telpon terhubung.
Iya. tadi ada kerjaan tidak tau kalau kau menelpon ku.
Ya, sebentar lagi aku jalan. Arga mematikan telpon nya.
"Bram. Kau boleh pulang istirahat." Kata Arga.
"Baik tuan." Bram meninggalkan Arga yang masih duduk di sofa.
__ADS_1
Tidak lama kepergian Bram, Arga ikut pergi dan membawa mobil sendiri.
Sedangkan Putri masih menangis terisak isak di kamar nya.