
Putri menceritakan semua yang terjadi dalam kehidupan nya sekarang dengan Rita. Termasuk pernikahan paksa oleh ayah tiri nya dengan laki laki yang ia tak kenal.
Rita yang mendengar nya terharu, bagaimana tidak. Putri bisa melewati semua nya dengan sabar dan tidak menceritakan kepahitan rumah tangganya dengan orang lain.
"Putri ?" panggil Rita mengehentikan obrolan Putri.
"Iya mbak ?" balas Putri melirik mata Rita yang mulai samar samar dengan air mata.
"Put. Mbak bangga sama kamu ? kamu bisa melewati ini semua nya dengan sendiri. Kamu tidak pernah mengadu kepada semua orang tentang masalah keluarga mu. Dan suami mu ? dia sangat beruntung bisa mendapatkan istri se sabar dan setulus kamu ?" ujar Rita memeluk Putri.
Putri melepaskan pelukan Rita. "Mbak ini kan sudah kewajiban seorang istri. Harus menjaga rumah tangga nya, dan menutupi keburukan suami di depan orang banyak kan. Putri yakin kok suatu saat nanti suami Putri bakalan menerima Putri sebagai istri nya. Ya walaupun ini cukup berat sih."
"Ma sya allah Putri. Hati kamu terbuat dari apa sih." Rita menghapus air mata nya. "Eh ngomong ngomong di mana mertua dan suami mu nggak di kenalin apa sama mbak." Ujar Rita menggoda Putri.
"Iya mbak. Habis ini kita ke ruangan adik ipar Putri di rawat ya. Nanti Putri bakalan ngenalin mbak sama mertua Putri. Alhamdulillah banget mbak mereka menyayangi Putri dengan tulus." Ucap Putri penuh kebahagiaan.
"Alhamdulillah kalau mereka baik sama kamu ?"
"Iya mbak. Putri bersyukur banget masih ada yang sayang nya tulus sama Putri. Eh mbak tunggu bentar ya, Putri mau ambil pesanan makanan Putri tadi."
Rita hanya menatap punggung Putri yang meninggalnya di kursi kantin dengan senyuman. Tidak lama kemudian Putri kembali ke kursi kantin dimana Rita menunggu nya.
"Ayo mbak. Sudah selesai semua nya." Ajak Putri.
Rita pun beranjak dari duduk nya dan mengikuti langkah kaki Putri memasuki rumah sakit di mana Selly di rawat.
***
...... Di mobil Arga......
Lampu merah mobil Arga berhenti. Arga dan Bram serta dua pengawal yang mengikuti mereka hanya tidak ada obrolan di dalam mobil.
Bram tidak sengaja melihat mobil Clara berada di depan mobil mereka.
"Tuan muda. Itu kan mobil nona Clara." Kata Bram menunjuk mobil ungu yang tidak jauh berada di depan mereka.
"Ya ! ikuti mobil dia. Jangan sampai ketinggalan jejak !" tegas Arga.
"Tapi tuan bubur."
"Masalah itu nanti bibi bisa bawa ke rumah sakit. Yang terpenting sekarang ikuti mobil Clara jangan sampai ketinggalan !"
__ADS_1
"Baik tuan."
Tidak lama kemudian lampu hijau. Bram menginjak gas mobil nya dengan cepat supaya tidak kehilangan jejak mobil Clara.
Sementara di belakang Arga menelpon Ningsih.
"Joy ! pantau terus mobil ungu itu ! jangan sampai kita kehilangan jejak mereka !" ucap Bram kepada anak buah nya yang duduk di samping nya.
"Oke bos." balas Joy.
"Tuan muda. Jalan ini menuju apartemen nona Clara. Kita putar balik apa terus buntuttin ?" tanya Bram.
"Bos. Kayak nya nona Clara nggak sendirian. Coba liat nona Clara duduk di kursi samping sopir." Potong Joy yang memperhatikan mobil di depan nya.
"Ikuti terus mobil nya !" balas Arga.
Bram kembali fokus mengemudi tanpa bertanya lagi.
***
...Di Rumah Sakit...
Rita yang mengikuti Putri dari belakang.
"Putri." Sapa Lina melihat kedatangan Putri.
"Ayo masuk mbak." kata Putri mempersilahkan Rita masuk.
"Ma Pa. Kenalin ini mbak Rita ?"
Lina dan Budi bingung dan terdiam melihat Putri.
"Siang pak bu ? Saya Rita." Sapa Rita berjabat tangan dengan Lina dan Budi.
Lina dan Budi membalas sapaan Rita, walaupun mereka tidak mengetahui siapa Rita.
"Ma Pa. Mbak Rita ini adalah kakak pertama Putri di panti asuhan. Putri tadi nggak sengaja ketemu sama mbak Rita." Jelas Putri yang mengetahui kebingungan Lina dan Budi.
"Oh ya. Maaf Rita tante nggak tau kalau kamu kakak Putri. Terus Put, bukan nya keluarga panti kamu tidak tau kalau kamu sudah menikah ?"
"Iya Ma. Mbak Rita memang tadi nya nggak tau kalau Putri sudah menikah. Tapi tadi di kantin Putri sudah ceritain semua nya sama mbak Rita. Maaf ya ma. Putri nggak bisa menutupi masalah pernikahan Putri dengan keluarga panti Putri."
__ADS_1
"Sayang. Kamu nggak perlu minta maaf kok. Kamu nggak salah. Seharusnya keluarga kamu yang di panti juga harus tau kalau kamu sudah menikah. Maafin mama ya sayang. Mama nggak bisa berbuat apa apa saat Arga meminta kamu merahasiakan pernikahan kalian." Balas Lina mengelus lembut kepala Putri.
"Makasih ma." Putri tersenyum.
"Eh Rita silahkan duduk." Ucap Lina mempersilahkan Rita duduk.
"Iya bu makasih." balas Rita.
"Oh ini ma pa makanan nya. Kalian kan belum makan dari pagi tadi. Nanti kalian sakit.? Putri memberi makanan ke tangan Lina dan Budi.
"Mama sudah kenyang Put. Kamu makan aja, ajakin Rita juga." kata Lina.
"Ma. Papa keluar bentar ya." Kata Budi pamitan.
"Papa mau kemana. Makan dulu pa. Papa kan belum makan juga. Sudah hampir jam 2 siang ini pa. Nanti papa sakit siapa yang jagain Mama sama Selly" ujar Putri.
"Iya Put. Papa makan di kantin saja. Kalian makan saja di sini. Ajakin Rita makan juga." Balas Budi.
"Papa jangan lupa makan." Sambung Lina.
"Iya Ma. Papa keluar bentar ya. Put Rit tolong jagain Selly ya. Kalau ada apa apa telpon Papa." Ucap Budi meninggalkan Lina Putri Rita di ruang rawat Selly.
Setelah kepergian Budi. Lina membuka box makanan yang di beli Putri di kantin rumah sakit.
"Putri Rita. Ayo makan bareng bareng."
"Iya Ma."
"Rita sudah makan kok bu." Saut Rita.
"Ayolah. Tidak perlu malu malu. Anggap saja tante ini mama kamu juga." Balas Lina tersenyum.
Rita hanya membalas dengan senyuman dan ikut duduk makan sama sama dengan Lina dan Putri.
****
...Di mobil Arga...
Hampir setengah jam Arga dan Bram mengikuti mobil Clara. Akhir nya mobil Clara sampai ke apartemen.
"Tuan muda. Nona Clara memang nggak sendirian. Tapi siapa laki laki yang mengemudi mobil nya.?" Tanya Bram.
__ADS_1
Clara pun turun dari mobil. Tidak lama kemudian laki laki yang mengemudi mobil Clara pun ikut turun. Namun saat melihat siapa laki laki yang bersama Clara, Arga murka dan geram melihat pemandangan di depan nya.
"Apa ! ternyata laki laki itu !"