
Seorang wanita membuka matanya perlahan dan melihat ke arah langit-langit. Tapi sebentar, wanita itu merasa jika kepalanya sangat pusing. Dia pun memegangi kepalanya sambil memijit-mijit pelipisnya.
Namun tiba-tiba, deruan napas seorang pria terdengar jelas di telinga wanita itu. Vanka terdiam. Entah mengapa sekarang jantungnya berdetak sangat kencang dan perasaan takut mulai menguasai dirinya.
Vanka menoleh ke samping, mendapati Naufal yang tengah tertidur sambil memeluk pingganggnya. Manik mata itu membulat sempurna ketika melihat tubuh mereka berdua tidak dibalut sehelai pakaian, melainkan hanya ditutupi oleh selimut.
Vanka langsung mendorong Naufal sehingga pria itu terjatuh. Perlahan cairan bening mulai keluar dari pelupuk matanya. Hingga lama kelamaan butiran-butiran airmata itu keluar secara memburu.
Wanita itu menangis, menangis sejadi-jadinya sambil menekuk kedua lututnya di dalam selimut putih yang menjadi saksi bisu atas perlakuan buruk Naufal terhadap wanita itu. Vanka baru teringat atas kejadian kemarin malam jika Naufal menggendongnya dan berjalan menuju suatu tempat.
Namun beberapa menit kemudian Vanka langsung tidak sadarkan diri karena Naufal telah menusukkan jarum suntik ke lengan wanita itu. Diketahui jarum suntik itu berisikan cairan obat bius.
Naufal yang sudah tersadar akibat dorongan kuat wanita itu, dia pun langsung bangkit kemudian mengutip bajunya dan segera memakainya.
“ Biadap kamu..” lirih Vanka. Kini hatinya benar-benar sakit. Dengan mudahnya pria itu mencuri harga dirinya.
Naufal menghela napas, kemudian melihat Vanka yang masih terduduk lemas dengan airmata yang terus mencucur.
“ Aku tanggung jawab, besok kita menikah.”
“ ******** KAMU ********! ”
Vanka sudah tidak bisa membendung emosinya lagi. Dia langsung melempari Naufal tanpa henti menggunakan bantal, remot televisi, bahkan jam tangan limited edition milik pria itu sampai hancur. Lalu kemudian Vanka memukul-mukul dadanya yang sesak sambil berteriak.
“ Argghhhh!!”
Sementara Naufal tidak membalas. Dia hanya berdiam diri di tempat sambil menunduk. Jujur saja tadi malam dia telah dikuasai oleh alkohol, namun tidak sepenuhnya. Naufal dalam kondisi sadar ketika bermain dengan Vanka. Dan juga ini baru kali pertama dia melakukan hal kotor seperti itu.
Kemarin malam Naufal benar-benar sangat kacau. Ibunya meninggal, perusahaannya hampir bangkrut, sementara dia sendiri tidak tau harus melakukan apa, Naufal tidak seperti ayahnya yang kuat menghadapi semua cobaan. Sehingga yang terus ada dipikirannya hanyalan taruhan dan taruhan.
Jika tidak melakukan hubungan seksual, Naufal bingung bagaimana caranya mengajak Vanka untuk menikah. Dia sangat takut kalau Bian akan mengambil langkah duluan. Dengan cara seperti ini, dan jika Vanka hamil, Naufal jadi punya alasan untuk menikahi wanita itu.
“ Pergi kamu pergi! ” teriak Vanka.
Bukannya menuruti perintah wanita itu, Naufal justru berjalan mendekat dan langsung memeluk Vanka dengan sangat erat. Aneh, jantung pria itu berdetak tidak karuan sekarang.
“ Lepas bodoh! Lepas! ”
Vanka memberontak, mendorong-dorong tubuh kekar Naufal dengan kuat. Namun sayang, sekuat apapun tenaga yang dimiliki Vanka, dia tetap tidak bisa melepas pelukan itu.
“ Sorry..” bisik Naufal di telinga gadis itu.
__ADS_1
“ You stole my virginity, bastard! ”
Tangisan Vanka semakin kuat dan dia memukul-mukul dada pria itu tanpa ampun.
Naufal membiarkan Vanka melakukan itu, yah Naufal sadar jika perbuatannya ini memang sudah keterlaluan. Tapi mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur. Yang bisa dilakukan pria itu hanyalah memeluk Vanka dengan erat sambil mengelus rambut wanita itu.
….
Bian tidak berhenti menatap layar ponselnya dengan raut wajah khawatir. Dia memutar-mutar kursi kerjanya sambil terus memainkan ponselnya. Yang dikhawatirkan pria itu sekarang adalah Vanka.
Sudah dari kemarin malam dia mencoba untuk menghubungi wanita itu, tetapi tidak ada jawaban. Oke Bian mengerti mungkin malam itu Vanka sedang tidur. Namun, ketika Bian menghubunginya lagi di pagi hari, juga tetap sama tidak ada jawaban.
Ketika Bian memutuskan untuk menghubungi abangnya Vanka, pada saat itu juga pintu ruangannya terbuka. Algar tersenyum lebar pada Bian dan pria itu segera masuk ke dalam sana.
“ Aku ganggu gak kira-kira? ” ucap Algar dan langsung mendudukkan dirinya di sofa.
“ Ganggu,” jawab Bian singkat.
“ Cola dong, haus nih! ”
Bian tidak menjawab. Algar langsung menghela napas karena melihat Bian yang terlihat tidak perduli. Pria itu sangat sibuk dengan ponselnya dan kelihatan seperti sedang menghubungi seseorang. Mau tidak mau, Algar yang mengambil minuman itu sendiri di dalam minibar yang terletak di pojok ruangan.
“ Nelfon siapa sih? ” tanya Algar sambil meneguk colanya.
Algar tersedak, kemudian pria itu tersenyum.
“ Coba jujur, kamu mau ikut taruhan itu karena saham apa memang karena masih ada rasa sama cewek itu? Atau karena dua-duanya? ”
Bian terdiam. Jujur saja dia menginginkan keduanya, saham dan menikah dengan Vanka.
Melihat raut wajah Bian seperti itu, Algar langsung tertawa sambil menggeleng pelan. Dia jelas sudah mengetahui jawaban pria itu hanya dengan melihat raut wajah saja.
“ Tapi ngomong-ngomong—”
Algar menggantungkan kalimatnya setelah merasakan sesuatu yang bergetar di dalam saku celananya. Dia pun segera mengeluarkan ponselnya dan membaca sebuah pesan yang ada di sana.
Jangan lupa janjimu, aku udah dapetin Vanka seutuhnya.
….
Vanka hanya diam selama di perjalanan. Wanita itu lebih memilih untuk melihat kaca jendela meskipun pandangannya terlihat kosong. Semenjak kejadian tadi, Naufal langsung mengatakan kepadanya bahwa dia akan bertanggung jawab.
__ADS_1
Setelah menghabiskan waktu 15 menit di jalan, Vanka turun dari mobil pria itu dan menghela napasnya kasar. Jantungnya berdetak tidak karuan karena sekarang Naufal ingin meminta izin pada keluarganya jika ingin menikahi Vanka.
“ Vanka?! Kamu darimana aja?! ”
Seru kakak iparnya dan langsung memeluk dirinya. Vanka pun membalas pelukan wanita itu sambil tersenyum.
“ Selamat siang.”
Kakak ipar Vanka menautkan kedua alisnya ketika melihat Naufal.
“ Iya selamat siang, kamu siapa? ”
“ Kak, masuk dulu ya, aku jelasin di dalam.”
Vanka memotong perkataan kakak iparnya dan mereka bertiga pun segera masuk ke dalam.
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi mulus Vanka. Naufal yang melihat itu langsung mendekatinya kemudian menggenggam tangan wanita itu.
“ Kakak gak nyangka sama kamu Van. Nyesal aku ngerawat kamu! ”
Vanka menangis sambil memegangi pipinya. Rasanya begitu sakit, bukan, bukan karena tamparan yang di dapatkannya. Dia memang pantas mendapatkan itu. Namun hatinya sakit saat mendengar ucapan abangnya.
Kakak ipar Vanka, memegang pundak suaminya untuk meredakan amarah pria itu yang tengah membara.
“ Udah udah..”
“ Udah apanya! Dia ini bikin malu! Apa kamu gak mikir gimana perasaan ibu sama ayah ngeliat kamu hancur? Kamu pikir mereka akan tenang di atas sana?! Jawab Vanka! ”
Vanka semakin terisak, dia benci jika sudah membawa-bawa ayah dan ibunya. Rasanya lidah wanita itu keluh, dia tidak mampu mengucapkan kalimat apapun.
“ Kamu..” Dan kini jari telunjuk pria itu mengarah ke Naufal.
“ Maafkan sa—”
Bugh!
Satu pukulan juga mendarat di pipi Naufal. Vanka dan kakak iparnya sangat terkejut ketika melihat abangnya memukul Naufal dengan kuat sehingga mengeluarkan cairan kental bewarna merah dari sudut bibir pria itu.
" Pergi kalian berdua, dan jangan pernah menginjakkan kaki di rumah ini lagi! ”
__ADS_1
BERSAMBUNG...