
Setumpuk berkas terletak di atas meja kerja Bian. Pria itu mengambil salah satunya dan melihat isi laporan yang telah dikerjakan oleh karyawannya. Kening Bian mengkerut ketika membaca laporan itu.
Di sana tercatat jika saham perusahaannya menurun, tetapi laba dari perusahaan itu sendiri naik. Bian memijit pelipisnya dan masih fokus membaca laporan tersebut. Namun tak lama kemudian Bian menatap layar komputernya untuk melihat grafik perusahaan.
“ Angka statistiknya naik, tapi kenapa turun sekian? ”
Bian masih terdiam sambil memikirkan sesuatu. Tapi saat itu juga, seseorang mengetuk pintu ruangannya.
“ Masuk.”
“ Selamat siang pak, maaf saya mengganggu
”
Ternyata itu adalah Louis, asisten direktur yang menggantikan Daniel.
“ Ada apa ya pak? ” tanya Bian.
“ Apa bapak sudah membaca laporan itu? ”
“ Iya, saya sudah membacanya. Tapi bisa bapak jelaskan? Saya kurang mengerti.”
“ Begini pak, karena kasus tentang pembunuhan asisten direktur dari Nugraha, makanya saham kita bisa turun.”
“ Tapi kemarin saya cek di kuartal pertama, angkanya masih tetap sama. Menurut kamu, apa ada yang bermain curang? ”
Louis mengernyit. “ Bermain curang bagaimana maksudnya pak? Seperti memanipulasi? ”
“ Benar. Sepertinya ada yang sedang mempermainkan angka di dalam perusahaan ini.”
“ Itu tidak mungkin pak. Karena saya tidak menemukan ada akun-akun aneh yang melakukan audit. Mungkin bapak kurang teliti dalam membaca laporan keuangannya, angka tersebut belum masuk valuasi saham.”
Bian terdim sebentar, dan kemudian dia melanjutkan perkataannya.
“ Baik, mungkin saya memang kurang teliti. Ya sudah, terima kasih banyak atas koreksinya.”
“ Terima kasih kembali pak, saya permisi dulu”
Walaupun pintu sudah kembali tertutup rapat, namun Bian masih menatap pintu tersebut dengan tatapan yang sulit diartikan.
….
__ADS_1
Saat membuka pintu kamar, Vanka membelalak karena melihat Cecile yang sedang bersantai di atas tempat tidur. Ini benar-benar hal yang menjengkelkan. Cecile yang sadar akan kehadiran Vanka, dia pun menatap wanita itu sambil tersenyum remeh.
“ Sekarang kamar kamu gak di sini lagi.”
Perkataan tersebut jelas membuat Vanka geram. Dia langsung menghampiri Cecile dan menatap wanita itu lekat-lekat.
“ Pergi kamu dari sini atau aku adukan tetangga kalau kamu adalah wanita tidak benar. Kamu tidak ada ikatan apapun dengan Naufal sekarang ini.”
Cecile membelalak tidak percaya atas ucapan Vanka barusan. Wanita itu segera bangkit lalu menampar wajah Vanka dengan kuat.
Plak!
“ Berani-beraninya kamu ngomong kayak gitu?! Kamu itu cuma orang baru di hidup Naufal!”
Vanka memegangi pipinya yang masih sakit sambil tersenyum. Namun senyuman itu cukup membuat Cecile merinding dan memundurkan langkahnya.
“ Memang aku orang baru di kehidupan kalian, tapi asal kamu tau, kalau Naufal gak ngelakuin hal itu pasti aku gak akan berada di sini sekarang!” bentak Vanka tak kalah kuat.
“ Hal itu? Jangan bilang kalau kamu udah pernah bersetubuh sama Naufal?!”
Vanka tersenyum licik. “ Aku kira kamu pinter mbak Cecile yang terhormat. Memangnya Naufal sialan itu gak pernah ngasih tau apa ya? Kalau dia udah pernah main sama aku? Bahkan aku adalah orang pertama yang bersetubuh dengannya.”
Cecile menggeleng kuat sambil menahan airmatanya. Dia tidak percaya jika Naufal sudah pernah bersetubuh dengan wanita lain.
“ CUKUP! ”
Para pekerja yang ada di rumah itu langsung datang ke kamar utama karena mendengar teriakan Cecile barusan. Mereka semua berdiri di depan pintu sambil melihat ada apa sebenarnya, termasuk mbok Ten.
Sejujurnya saja mbok Ten juga sangat kesal melihat Cecile yang tiba-tiba saja sudah tinggal di rumah besar ini. Yah walaupun mbok Ten tau jika Cecile adalah mantan kekasih dari Naufal, tapi wanita paruh baya itu tidak suka dengan sikapnya dan tentu saja sekarang dia berada di pihak Vanka.
“ Sekarang kamu keluar karena aku mau isti-huwek! ”
Mbok Ten dan beberapa pekerja lainnya langsung menghampiri Vanka karena melihat wanita itu seperti tidak enak badan. Vanka memegang kepalanya yang sangat pusing sambil menutup mulutnya. Entah kenapa wanita itu merasa mual sekarang.
“ Sebentar, sa-saya ke kamar mandi dulu.”
Vanka berlari ke kamar mandi dan memuntahkan semua isi perutnya. Namun yang keluar hanya cairan biasa, tidak ada makanan yang keluar. Vanka pun langsung membasuh mulutnya dengan air dan menatap pantulan dirinya di cermin.
“ Pusing, mual, apa jangan-jangan….”
Wanita itu langsung menggelengkan kepalanya lalu tangan itu terulur untuk mengusap perutnya.
__ADS_1
Gak mungkin kan aku hamil?
….
Seorang wanita duduk diam sambil menatap seorang pria yang sedang tidur di pangkuannya dengan tatapan bingung. Wanita itu mengelus rambut pria yang sedang memejamkan mata itu. Dia memang sangat sayang dengan pria ini, tapi dia juga masih memikirkan ucapan Vanka.
“ Aku gak tau ini benar atau salah, tapi kayaknya kak Algar punya kemampuan menghipnotis orang lain. Aku mohon sama kamu jangan terpengaruh dan aku juga butuh bantuan kamu Wid! ”
Apasih maksud perkataan itu sampai-sampai membuat kepala Widya pusing dan dia mengacak rambutnya. Bagaimana bisa Algar punya kemampuan menghipnotis pikirnya. Pria itu saja tipe orang yang tidak perduli dengan hal-hal mistis.
“ Kenapa Wid? ”
Algar yang sadar dengan tingkah laku Widya pun langsung membuka sebelah matanya dan menatap wanita yang dicintainya itu.
“ Gak apa-apa kok,” jawab Widya pelan.
Algar merasa ada yang aneh dengan wanitanya dan dia pun mendudukkan dirinya. Mengusap pelan surai wanita itu sambil menciumi keningnya.
“ Ada apa hm? Kamu gak boleh bohong. Bilang aja sayang.”
Widya menatap Algar sambil memainkan jari-jarinya. “ Kamu suka membaca? ”
“ Ada apa sama pertanyaan kamu Wid. Jelaslah aku suka baca dan kamu sendiri tau itu kan?”
“ I-iya sih,” Widya menggaruk tengkuknya. “ Tapi kalau hal-hal mistis gitu suka gak sih sayang?”
Algar mengernyit. “ Hal mistis kayak apa nih? Kalau hantu-hantu gitu kan aku gak suka.”
“ Se-semacam memainkan kesadaran orang lain mungkin?”
Sial, entah kenapa jantung Widya berdetak sangat kencang dan dia mulai keringat dingin.
“ Maksud kamu apa sayang? Aku benar-benar gak ngerti.”
Widya memejamkan matanya, lalu kembali menatap Algar.
“ Sayang, tolong tunjukin aku sesuatu yang gak aku ketahui.”
“ Yang gak kamu ketahui? Kamu ngerasa aku sembunyiin sesuatu? ”
“ Tolong tunjukin ruang rahasia yang ada di balik lemari besar bewarna cokelat.”
__ADS_1
BERSAMBUNG.