Menikah Karena Taruhan

Menikah Karena Taruhan
Mimpi Buruk


__ADS_3

“ *Ka-kamu kenapa?! ”


“ Berisik.”


“ Ini bukan kamu kan? Pasti bukan kamu! ”


“ Bukan aku? Tentu saja ini aku.”


“ Tolong sadar Naufal! Sadar*! ”


“ Naufal.. Naufal! ”


Vanka menepuk-nepuk kuat wajah pria yang terbaring di sampingnya dengan keringat yang banyak mengucur di keningnya. Sontak Naufal terbangun dengan napas yang tersengal. Vanka langsung berdiri lalu mengambil segelas air putih.


“ Minum dulu,” ucap Vanka sambil menyerahkan gelas tersebut.


Vanka terus melihat Naufal yang minum tergesa-gesa. Tepat pukul enam dini hari, Vanka terbangun dari tidurnya karena mendengar Naufal sedang berteriak dalam kondisi tertidur. Pria itu seperti terlihat sangat gelisah, dan Vanka langsung membangunkannya karena kondisi itu tidak baik.


“ Mimpi buruk? ” tanya Vanka sambil mengelus punggung pria itu.


“ Ya,” jawab Naufal singkat, kemudian dia beranjak dari kasurnya dan membuat Vanka mengernyit.


“ Mau kemana? ”


Naufal berbalik sambil menatap Vanka dengan tajam. “ Bisa diam gak sih? Pusing kepalaku dengar pertanyaan kamu.”


“ Kok kamu jadi kayak gini? ” jawab Vanka tidak terima.


Namun Naufal menghiraukan wanita itu dan memilih untuk berjalan keluar kamar. Sementara Vanka yang masih tidak terima atas ucapan Naufal langsung mengikuti pria itu. Dia ingin tau kemana Naufal akan melangkahkan kakinya.


Vanka bersembunyi di balik dinding saat melihat Naufal keluar dari pintu belakang.


Vanka bertanya-tanya, kenapa masih pagi dia sudah mau keluar rumah? Menemui siapa? Vanka pun tak henti memantaunya dan berjalan pelan-pelan lalau bersembunyi di balik mobil bewarna putih. Jangan lupakan jika mobil pria itu lebih dari satu.


Vanka mengernyit ketika melihat Naufal melewati mobil hitamnya. Biasanya jika pria itu ingin pergi, pasti selalu membawa mobil bewarna hitam itu. Namun Naufal melewatinya dan malah berjalan ke sudut ruangan, lalu berjongkok.


Sebentar? Berjongkok? Manik mata Vanka membulat sempurna saat melihat Naufal menarik sebuah besi berbentuk persegi yang mirip seperti penutup saluran air. Ya benar, Naufal tengah membuka pintu ruang bawah tanah yang selalu dipertanyakan oleh wanita itu.


Ketika Naufal sudah masuk ke dalam sana, Vanka berlari kecil untuk memperpendek jaraknya dengan ruang bawah tanah itu. Dia berjalan mengendap agar bisa mengintip apa yang ada di bawah sana.


“ Gelap banget.”


Seketika itu juga Vanka bergedik ngeri sambil mengusap lengannya. Namun di saat dirinya mendengar suara yang cukup keras dari bawah, entah itu suara apa Vanka juga tidak mengerti. Yang jelas dia langsung berlari masuk ke dalam rumah. Dia juga tidak ingin ketahuan lagi oleh pria itu.


….


Vanka duduk di sofa dan terlihat berpikir sampai-sampai keningnya mengkerut. Namun dia langsung memejamkan matanya saat mendengar suara langkah kaki Naufal yang mulai mendekat.

__ADS_1


“ Kamu berangkat sendiri aja sekarang.”


Vanka membelalak. “ Kok gtiu?! ”


“ Loh, pura-pura tidur ternyata.”


Sialan, Vanka dijebak.


“ Kenapa aku berangkat sendiri? ” tanya Vanka.


“ Aku mau jemput Cecile.”


Vanka menghela napas kasar. Dia memejamkan matanya untuk menahan emosi.


“ Fal aku mau nanya deh.”


Naufal yang baru mau masuk ke kamarnya langsung berhenti dan menoleh ke belakang setelah mendengar ucapan Vanka barusan.


“ Apa? ”


“ Kamu sengaja ngejebak aku dari awal? ”


Deg! Naufal tercekat.


“ Ma-maksud kamu? ”


“ Kamu seharusnya bersyukur karena aku mau tanggung jawab.”


Vanka mendecih. “ Sebenarnya bukan aku yang harus bersyukur Fal. Ini itu kesalahan kamu, masa aku harus bersyukur atas kejahatan orang lain? ”


“ Cuma mau bilang itu aja? ”


“ Kenapa waktu malam itu kamu nelfon aku pas lagi di club? ”


“ Kenapa kamu datang? ”


Vanka terdiam. Mau gimanapun juga, dia salah karena sudah datang. Tapi jelas itu bukan kesalahan yang mutlak, karena niat awal Vanka ingin membantu Naufal.


“ Awalnya aku mau bantu kamu aja. Tapi kamu langsung gendong aku kan terus nyuntik lenganku pakai obat bius? Kamu itu kayak sengaja tau gak.”


Naufal mengacak rambutnya dan dia langsung masuk ke dalam kamar sambil membanting pintu. Vanka hanya menatap lurus pintu yang ada di hadapannya. Sepertinya insting wanita itu mulai bangkit kembali. Vanka memiliki insting yang kuat.


Ada sesuatu yang gak beres!


….


Waktu menunjukkan pukul 12 siang dan tentunya suara-suara pasien rumah sakit mulai terdengar di seluruh gedung putih itu. Ada yang berteriak tidak jelas, menangis, bahkan sampai mengemis pada orang-orang yang ada di sana.

__ADS_1


Bian melangkahkan kakinya di lorong rumah sakit jiwa sambil memasukkan tangannya di saku celana. Sebuah kapas putih masih setia menutupi luka memar di wajahnya akibat dihantam kuat oleh tinjunya Naufal.


Pria itu menghentikan langkahnya saat sudah berdiri di depan sebuah ruang isolasi yang dijaga ketat oleh dua orang polisi.


“ Selamat siang pak Bian.”


“ Selamat siang, apa saya sudah boleh mengunjunginya? ”


Polisi tersebut langsung membuka ruangan yang terkunci itu. Terlihatlah seorang pria tua di dalam sana yang sedang duduk sambil memeluk kedua lutunya. Bian menatap sendu pria itu saat salah seorang polisi tadi memborgol kedua tangannya dan menuntun pria itu untuk keluar.


“ Selamat siang pak Daniel, udah makan belum? ”


Pria tua itu tidak menjawab. Dia menatap Bian dengan tatapan kosong.


“ Berat banget pasti ya pak ngejalani hari-hari di dunia ini? ”


Memang pria tua itu masih diam, namun setetes cairan bening keluar dari pelupuk matanya yang kerut itu.


“ Masalah ini belum selesai kok, saya pasti akan menemukan siapa pelaku yang sebenarnya.”


….


Vanka mengibaskan tangannya di depan wajah karena cuaca yang sangat terik. Tidak tau kenapa, rasanya sekarang dia ingin membolos masuk saja. Yah memang saat ini sedang jam makan siang, namun Vanka tidak ingin kembali ke kantor dan memilih untuk duduk di emperan sambil meminum es dawet.


Tapi tiba-tiba saja sebuah mobil bewarna merah terparkir di depan gerobak es dawet itu. Vanka tidak perduli, dia tetap fokus terhadap minuman tersebut.


“ Vanka? ”


Wanita itu mendongak, dan menemukan Bian yang sedang berdiri di hadapannya. Vanka langsung tersedak.


“ Eh Bian. Ayo sini gabung,” ucap Vanka sambil tersenyum.


Bian mengangguk dan segera duduk di samping Vanka lalu memesan semangkok es dawet.


“ Kamu ngapain di sini? ”


Vanka menoleh. “ Oh gak ada sih, cuma pengen aja.”


“ Rindu sama sekolah? ”


Vanka mengernyit. “ Sekolah? ”


Pada saat itu juga Bian langsung memegang kepala Vanka dan memutar kepala wanita itu agar dia melihat ke belakang.


Vanka membelalak ketika melihat gedung sekolahnya dulu. Vanka langsung merutuki dirinya karena sekarang ini dia sedang bersantai di kedai es dawet yang dulu pernah menjadi favorit Vanka dan Bian. Dia benar-benar bodoh sampai tidak sadar akan lingkungan sekolahnya sendiri.


“ Nanti habis ini kita masuk ke dalam ya. Aku mau sedikit nostalgia.”

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2