
Naufal memijit pelipisnya karena sekarang dia melihat Vanka sedang duduk di ruang tamu sambil melipat tangannya dengan waut wajah cemberut. Pria itu sudah tau apa penyebabnya itu karena sewaktu dia pulang dari kantor tadi mendengar Vanka dan Cecile beradu mulut.
Dan menurut pengakuan dari mbok Ten juga seperti itu. Mereka berdua sudah bertengkar sejak tadi siang, dan Naufal pun tau jika Cecile menampar wajah Vanka dan itu membuat Naufal marah kepada Cecile sehingga wanita itu mengunci pintu kamar.
“ Van,” ucap Naufal lalu duduk di sebelah Vanka.
“ Apasih? Bisa diem gak? Aku pusing denger kamu manggil namaku terus.”
Jawaban yang keluar dari mulut Vanka sama seperti jawaban Naufal ketika wanita itu terus bertanya kepada Naufal. Vanka sengaja meniru kalimat itu agar Naufal merasakan bagaimana sakitnya ucapan tersebut.
“ Biarkan Cecile di sini sebentar sampai anaknya lahir. Aku—”
“ Tapi kan dia punya rumah sendiri?! ”
“ Iya aku tau Van, tapi mau gimana lagi, dia gak bisa diusir."
Vanka mendelik. “ Kenapa? Karena dia mantan kesayangan kamu? ”
“ Ya memang dulu aku masih sayang sama dia, bahkan setelah menikah sama kamu juga aku masih sayang.”
“ Yaudah, nikah aja sa—”
“ Tapi sekarang gak lagi.”
Vanka mengernyit. “ Kenapa? Karena kamu udah berhasil bersetubuh dengan dia? ”
“ Bukan gitu Van,” Naufal memijit pelipisnya. “ Oke, aku minta maaf soal itu.”
“ Minta maaf? Gampang banget,” ucap Vanka sambil memutar bola matanya malas.
“ Kemarin itu aku gak pulang semalaman, emang karena bermain dengan Cecile.”
Mendengar pengakuan dari Naufal sendiri ternyata memang sakit pikirnya.
“ Tapi itu karena Cecile lagi dalam keadaan mabuk Van."
“ Mau dia mabuk atau enggak, tetap aja kamu mau karena masih punya perasaan ke dia."
Ucapan Vanka benar sehingga membuat Naufal terdiam. Namun setelah itu Naufal kembali berbicara dan melihat Vanka yang masih mengalihkan wajahnya. Pria itu menatap wajah Vanka dengan serius dan sialnya jantung Naufal berdetak lebih cepat.
“ Sebenarnya aku juga gak yakin kalau janin yang di kandung Cecile itu bukan anak aku.”
“ Apa yang buat kamu gak yakin? ”
“ Aku dan dia putus setelah lulus SMA. Dia lanjut kuliah di Cambridge, dan setelah itu kita berdua gak ada komunikasi lagi dan yah kita gak pernah tau kan kalau seandainya dia pernah punya pacar di sana? Hingga sampai akhirnya aku ketemu sama dia lagi di restoran waktu itu. Dan kamu tau siapa yang sengaja bikin aku ketemu sama dia? ”
Vanka menoleh dan mengernyit menatap Naufal. “ Siapa? ”
“ Bian. Bian sengaja bawa kamu ke restoran itu karena dia tau kalau aku bakal ikuti kalian dari belakang. Dan restoran itu adalah restoran milik kakeknya Cecile. Mungkin sebelum itu Bian udah berkomunikasi duluan dengan Cecile.”
__ADS_1
Vanka masih terdiam, hingga kemudian suara Naufal mengejutkannya.
“ Van, aku juga tau kok kalau kamu masih ada rasa dengan Bian.”
Wanita itu menelan ludahnya dan mengedarkan pandangannya. Tapi entah kenapa belakangan ini semenjak dia sudah tidak berkomunikasi dengan Bian, rasanya ada yang aneh. Vanka seperti sudah bisa melupakan Bian sedikit demi sedikit.
“ Enggak, aku gak tau, tapi yang jelas aku udah ngerasa beda sama kamu.”
Ucapan Vanka barusan membuat Naufal menaikkan sebelah alisnya karena dia tidak mengerti.
“ Beda? Maksudnya? ”
“ Yah…” Vanka menggaruk pelipisnya dan membelakangi Naufal. “ Aku gak tau kalau cinta bisa datang karena terbiasa. Mungkin karena aku sering sama kamu dan kita tinggal satu rumah—”
Belum saja Vanka menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba saja Naufal sudah memeluk wanita itu dari belakang. Hal tersebut membuat Vanka terkejut setengah mati dan dia membeku.
Naufal menenggelamkan wajahnya di ceruk leher wanita itu sambil mencium aroma Vanka dalam-dalam. Kini pria itu sudah tau perasaan aneh apa yang menghantuinya belakangan ini saat melihat wajah Vanka. Ya benar, dia sudah mulai cinta kepada wanita itu.
“ Naufal…”
“ Maaf, maafin aku karena pertama kalinya udah ngebuat kamu hancur. Aku tau kata-kata maaf aja gak cukup. Tapi sekarang aku janji, aku gak akan ngecewain kamu lagi. Terserah kamu berpikir kalau ini hanya bualan semata, tapi yang jelas aku benar-benar minta maaf.”
Bibir Vanka tertarik membentuk sebuah senyuman. Perkataan itulah yang ingin Vanka dengar karena semenjak kecelakaan itu Naufal sama sekali belum ada mengucapkan kata maaf dengan tulus.
“ Iya, aku udah maafin,” jawab Vanka sambil mengelus tangan pria itu yang masih melingkar di pinggangnya.
“ Tapi ada satu syarat.”
“ Kalau Cecile minta kamu buat nikahi dia, tolak secara mentah-mentah.”
“ Baik, aku janji.”
….
Silvi terus mengelus punggung Vanka agar wanita itu merasa sedikit baikan. Semenjak tadi pagi rasanya Vanka pusing dan mual sekali sehingga dia langsung berlari ke kamar mandi. Silvi yang merasa kasihan terhadap Vanka pun akhirnya mengikuti dirinya dari belakang.
“ Kenapa sih Van? Sakit kamu yang kemarin itu belum sembuh ya? ”
Vanka menoleh. “ Sakit yang mana ya mbak? ”
“ Yang kamu gak masuk kantor terus kamu bilang ke aku kalau kamu sakit.”
Ah sial, ternyata memang benar jika ucapan adalah doa.
“ Oh-oh iya mungkin mbak,” jawab Vanka ragu sambil tersenyum simpul.
“ Kamu bohong ya?! ”
“ E-enggak kok! ” Vanka langsung menggeleng kuat karena dia sedikit takut melihat tatapan maut Silvi.
__ADS_1
“ Van, atau jangan-jangan kamu hamil lagi?! ”
Vanka terdiam sebentar. Dia juga sedikit curiga jika itu memang benar karena dia telat datang bulan.
“ Tapi kalau kamu hamil, itu anak siapa dong?! Jangan-jangan kamu—”
“ Jangan mikir yang aneh-aneh mbak! ”
Vanka langsung memotong ucapan Silvi karena dia yakin jika wanita itu akan berpikir yang tidak-tidak.
“ Itu sebenarnya saya…”
“ Apa Van? Apa?! ” ucap Silvi tidak sabaran sambil menggoncang bahu Vanka.
“ Saya udah menikah sama pak Naufal.”
Silvi menganga tidak percaya, namun buru-buru Vanka langsung menutup mulut wanita itu. Dia takut jika Silvi akan berteriak.
“ Mbak diam-diam aja ya! Tolong jangan kasih tau siapa-siapa dulu,” ucap Vanka lalu menurunkan tangannya.
“ Oke, tapi kamu janji kalau nanti harus ceritain detailnya ke mbak! ”
“ Iya, iya saya janji.”
“ Kalau kamu ragu hamil apa enggak, saya izinin kamu sekarang ke apotek buat beli testpack.”
Vanka mengangguk dan segera berpamitan kepada Silvi. Yah mungkin dia benar-benar harus membeli alat itu.
….
“ Mbak, ada tetstpack gak mbak? ”
Vanka berbisik kepada petugas apotek sehingga membuat orang itu harus mendekat.
“ Apa mbak? Testpack? Oh ada ada.”
Petugas itu pun langsung mengambil permintaan Vanka dan membuat wanita itu menunggu sebentar. Namun tiba-tiba saja seorang pria berdiri di sampingnya dan membuat Vanka menoleh untuk melihat pria itu.
“ Bian? ” ucap Vanka pelan. Jujur saja dia terkejut.
“ Loh kamu Van,” jawab Bian sambil tersenyum. “ Ngapain ke apotek? Lagi sakit?"
Belum sempat Vanka menjawab perkataan Bian, petugas apotek tadi sudah datang dan menyerahkan sebuah kotak di hadapan Vanka.
“ Ini mbak testpacknya.”
Vanka memejamkan matanya karena sangat malu sambil menggigit bibir bawahnya. Sementara Bian menatap benda tersebut kemudian beralih lagi pada Vanka.
“ Van, kamu hamil? ”
__ADS_1
BERSAMBUNG.