
Walaupun tidak tau arah dan tidak tau ingin kemana, namun Vanka tetapi melangkahkan kakinya. Padahal Cecile hanya memegang lengan Naufal, tapi itu cukup membuatnya merasakan cemburu.
Akhirnya Vanka pun memilih untuk kembali ke kantor mengingat masih ada tugas yang harus diselesaikannya. Tepat sebulan lagi Vanka akan selesai magang jadi dia ingin menyelesaikan tugasnya tepat waktu. Jujur saja, dia sangat rindu dengan lingkungan kampus.
“ Atas nama mbak Vanka ya? ”
“ Ah iya saya Vanka.”
Seorang pengendara ojek online langsung memberikan sebuah helm kepada Vanka dan mereka pun segera melesat dari sana. Sejak kepikiran untuk kembali ke kantor, Vanka memutuskan untuk naik ojek online saja daripada naik angkutan umum.
Hanya butuh waktu sekitar 20 menit untuk sampai ke kantor karena restoran yang mereka datangi tak jauh dari sana. Vanka turun dari motor dan langsung menekan tombol bewarna merah di samping gerbang besar itu.
“ Loh mbak Vanka kok cepat sekali baliknya? Yang lain mana? ” ucap seorang satpam kepada Vanka sambil membukakan gerbang kantor.
“ Iya pak, saya pulang duluan. Ngomong-ngomong bapak kenapa gak ikut? ”
“ Saya ditugaskan pak Naufal untuk berjaga di sini. Tapi nanti mbak Silvi bakal bawain bungkusan kok ke saya.”
Vanka tersenyum. “ Iya bapak tenang aja, mbak Silvi itu pasti gak akan lupa karena dia baik.”
“ Iya mbak.”
“ Tapi emang bapak sendiri aja yang bertugas? ” tanya Vanka sambil melihat sekelilingnya.
“ Tadi sama pak Armin juga sih, tapi dia lagi keluar sebentar.”
Vanka mengangguk. “ Oh yaudah deh kalau gitu saya masuk ke dalam dulu ya pak, mau nugas lagi nih.”
“ Siap mbak Vanka. Kalau butuh bantuan telfon aja kesini. Soalnya mbak sendirian di dalam loh, gak takut apa? ”
__ADS_1
“ Enggak kok. Yaudah pak saya pamit dulu.”
Vanka pun lanjut melangkahkan kakinya. Namun tiba-tiba saja ponsel wanita itu berdering, dan Vanka segera menjawab panggilan masuk itu.
“ Halo mbak Silvi, ada apa? Iya saya di kantor. Oh ke halaman belakang? Jam tangan mbak ada di sana? Oke deh saya ambil, dimana letaknya? Kanebo? Oke oke, iya sama-sama mbak.”
Vanka terpaksa memutar balikkan langkahnya menuju halaman belakang kantor. Syukur saja dia belum masuk ke dalam, jadi bisa lewat dari luar saja. Sebenarnya dari dalam gedung kantor pun bisa nembus ke halaman belakang, namun Vanka sedikit takut karena harus melewati lorong kecil yang lampunya suka kedip-kedip sendiri.
“ Oh ini toh jam tangan mbak Silvi, kelihatan mahal sih,” ucap Vanka lalu memasukkan jam tangan tersebut ke dalam tasnya.
Namun pada saat dia ingin kembali, tiba-tiba saja heels sepatunya nyangkut di sebuah saluran air. Vanka melihat ke bawah dan menautkan kedua alisnya.
“ Sejak kapan ada saluran air di sini? ”
Bukan Vanka namanya jika tidak penasaran akan sesuatu. Wanita itu langsung berjongkok dan menyingkirkan rumput-rumput hijau yang menutupi saluran itu. Lebih tepatnya bukan menutupi, tapi sengaja ditutupi.
Dengan tenaga yang cukup kuat, kedua tangan Vanka langsung menarik besi tersebut ke atas dan akhirnya dia berhasil. Vanka merenggangkan tangannya dan mengatur napasnya. Lemah sekali, padahal hanya begini saja tapi dia sudah lelah pikirnya.
“ Sebentar, ini saluran air tapi kenapa gak ada airnya? Dan kenapa bisa ada tangga? ”
Tanpa basa-basi lagi, wanita itu langsung turun ke dalam untuk sekedar memeriksa apa yang ada di bawah sana. Karena Vanka teringat akan ruang bawah tanah di rumah Naufal yang bentuknya cukup mirip dengan saluran air ini.
Dari atas ke bawah tadi jaraknya tidak jauh sehingga Vanka bisa dengan mudah menapakkan kakinya. Sial, di dalam sini benar-benar gelap. Vanka mulai merinding.
Namun ketika dia mengarahkan ponselnya ke samping, dia melihat semacam lorong kecil.
Vanka pun mulai mendekati lorong itu dan dia mencondongkan badannya sehingga bisa masuk ke dalam sana.
Wanita itu merangkak dengan pelan dan menumpu badannya dengan kedua siku tangannya. Vanka terus mengarahkan ponselnya ke depan sehingga dia bisa dengan mudah mengikuti alur tersebut.
__ADS_1
“ Eh? Darah? ”
Tepat di depan Vanka terdapat sedikit bercak merah. Dengan gerakan yang sangat pelan, wanita itu mengarahkan ponselnya ke samping kanan. Di dinding lorong terdapat bercakan yang sama tapi kali ini lumayan banyak dan bentuknya seperti tapak tangan manusia.
Vanka mulai tercekat dan dia benar-benar takut sekarang. Ingin menjerit, tapi tidak bisa. Vanka mengatur napasnya dan mulai melanjutkan perjalanannya.
hingga sebuah lubang dengan banyak jerjakan, akhirnya mulai terlihat. Melalui jerjak tersebut juga terdapat sedikit cahaya lampu.
Vanka semakin mempercepat gerakannya, namun lagi-lagi dia tak sengaja menemukan sesuatu. Vanka mengangkat tangan kirinya dan melihat sebuah sapu tangan biru. Wanita itu menautkan kedua alisnya. Dia merasa tidak asing dengan benda tersebut.
“ Sebelumnya aku kayak pernah liat deh sapu tangan ini.”
Vanka terlihat berpikir sebentar, namun dia sadar karena sudah tidak ada waktu lagi untuk berpikir dan dia pun menyimpan sapu tangan tersebut ke dalam saku roknya. Hingga tak lama kemudian Vanka sampai di depan jerjak tersebut dan segera menarik benda itu.
Ketika setengah badan wanita itu sudah mulai keluar, manik mata Vanka membulat saat melihat beberapa rak besi yang terdapat di samping kanannya. Kedua kaki wanita itu sekarang sudah menapak di lantai ruangan tersebut.
“ Ini… gudang administrasi? ”
Vanka menggeleng tidak percaya, Ternyata saluran air tersebut adalah jalan pintas untuk menuju gudang administrasi yang di dalamnya terdapat dokumen-dokumen penting.
Kini Vanka telah menyimpulkan sesuatu. Pelaku yang melakukan pembunuhan terhadap pak Surya pasti melewati jalan pintas itu. Yah dia sekarang sudah mulai paham.
Namun tiba-tiba saja suara klakson mobil terdengar dari luar. Vanka langsung melihat ke arah jendela, dan dia terkejut karena mereka semua telah kembali.
“ Sial! ”
Sebenarnya Vanka ingin keluar dari pintu saja, tapi dia teringat karena pintu pasti dikunci oleh Silvi. Segera mungkin Vanka kembali masuk ke lorong itu dan tak lupa menutup jerjak itu kembali. Dia pun mempercepat gerakannya agar bisa cepat sampai ke atas sana.
Vanka menghela napas lega ketika dia sudah melihat cahaya dari atas sana. Ya karena tadi Vanka lupa menutup kembali jerjak saluran airnya. Namun ketika dia sudah menaiki tangga dan sebentar lagi akan keluar, sepasang kaki terlihat jelas dari atas dan Vanka pun langsung mendongak.
__ADS_1
“ Naufal..? ”
BERSAMBUNG.