
Naufal duduk di sofa ruang tamu sambil menautkan jari-jarinya. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam, namun Vanka tak kunjung pulang. Bahkan ponselnya tidak aktif ketika pria itu berulang kali menghubunginya.
Ada yang aneh di hati Naufal sekarang. Entah kenapa rasanya dia mulai mengkhawatirkan Vanka. Seharusnya Naufal senang jika Cecile hamil dan mengandung anaknya, tapi kali ini berbeda.
Hingga tak lama kemudian pintu rumah pun terbuka. Vanka berjalan masuk tanpa memperdulikan apapun. Termasuk Naufal yang kini sudah berada di hadapannya.
“ Darimana kamu? ”
Vanka mendongak dan menatap Naufal dengan datar. “ Permisi, aku ngantuk.”
Vanka sedikit mendorong Naufal karena dia menghalangi jalan. Namun pada saat itu juga Naufal memegang lengan Vanka sambil menatap lekat wajah Vanka. Dia melihat jika mata wanita itu sembab seperti sedang habis menangis.
“ Kamu nangis? ” ucap Naufal dan tangannya terulur untuk memegang wajah wanita itu.
Namun, Vanka langsung menepis tangan Naufal. “ Udah puas mainin orang dengan imbalan saham? ”
Pria itu sangat terkejut. “ Apa maksud kamu?!”
“ Apa maksudku? ” Vanka mendecih. “ Tanya sama diri kamu sendiri. Jangan pura-pura bodoh! ”
Vanka tidak memperdulikan Naufal yang masih mematung di sana. Wanita itu pun berjalan ke arah kamar mbok Ten dan memutuskan untuk tidur di sana. Rasanya Vanka tidak ingin tidur satu ranjang lagi dengan Naufal.
Lagian siapa yang masih ingin tidur bersama dengan orang yang sudah merusak harga dirinya dengan sengaja. Vanka merebahkan tubuhnya dan menatap langit-langit. Hatinya begitu sakit sekarang.
Dia sama sekali tidak percaya dengan pengakuan Bian. Tapi jika dipikir-pikir itu masuk akal juga. Pria itu mana mau menikahi Vanka jika tidak ada imbalan pikirnya. Seharusnya dari awal Vanka percaya jika Naufal hanya omong kosong berbicara mengenai tanggung jawab.
Vanka sangat menyesal, dia merutuki dirinya sendiri. Terlebih lagi Vanka tidak percaya jika Bian terlibat dalam taruhan itu juga. Demi saham katanya? Haha lucu sekali. Harga diri wanita itu hanya sebanding dengan nilai saham.
“ Karena kamu udah masuk ke dalam jebakan mereka.”
Sial! Seharusnya dia menyadari perkataan Algar lebih cepat. Vanka memukul-mukul tempat tidur dengan sangat kuat dan airmata berlinang di pipinya. Vanka juga tidak menyangka jika Algar yang mengusulkan ide taruhan itu. Namun dia lebih tidak percaya jika Bian dan Naufal menerima permainannya.
Seharusnya aku gak mengenal kalian!
….
Suara langkah kaki seseorang terdengar jelas di sebuah lorong. Pakaian serba hitam menutupi seluruh dirinya hingga yang tersisa hanyalah kedua manik matanya. Beberapa kamera pengintai juga sudah dimatikan oleh orang tersebut.
Brakk!!
__ADS_1
Suara dobrakan pintu terdengar cukup kuat dan membuat Bian yang berada di dalam ruangan itu terkejut. Bian langsung beranjak dari duduknya dan menghampiri orang asing itu.
“ Kalau pintu ini rusak, memangnya kamu bisa ganti? ” ucap Bian santai.
“ Berisik! ”
Orang asing itu langsung melayangkan tinjunya, namun Bian sudah terlebih dahulu menangkap tangannya dan memelintir tangan orang itu ke belakang.
“ Argh! ”
Pria itu ingin menunjang perut Bian dengan lutut kakinya, tapi Bian sadar akan pergerakan itu. Bian pun segera menghindar dan membalas balik pukulan itu.
Bugh!
Akibat tendangan Bian yang cukup kuat, pria asing itu tertolak ke belakang dan punggungnya menghantam dinding. Pria itu meringis kesakitan sambil memegangi perutnya.
Bian langsung berjalan ke arah pria itu dan berjongkok di hadapannya kemudian menarik baju milik pria asing itu.
“ Kenapa tiba-tiba nyerang aku? Apa karena aku berkata benar lagi?"
“ S-sialan kamu Bian! ” teriak pria itu.
“ Sadar Fal, sadar! ” lanjut Bian sambil mengguncangkan bahu pria itu. Dia pun geram dan akhirnya membuka topeng hitam yang sedari tadi menutupi wajah pria itu.
“ Kenapa kamu bilang ke Vanka soal taruhan itu? ” ucap Naufal.
Bian mendecih. “ Kenapa? Karena aku kasihan sama dia Fal.”
“ Kasihan? Munafik kamu. Kalau kamu kasihan seharusnya kamu dari awal gak terlibat.”
“ Iya, aku memang munafik. Tapi setidaknya aku gak hamili anak orang di saat udah punya istri! ”
Bugh!
Bian kembali meninju wajah Naufal dan membuat memar wajah pria itu. Kemudian dia pun langsung bangkit dan merapikan kemejanya. Membiarkan Naufal yang masih terduduk lemah.
“ Kamu tanggung jawab atas perbuatanmu sama Cecile. Mulai besok, biar aku yang jaga Vanka."
….
__ADS_1
Kelaparan di malam hari sangat mengganggu aktifitas tidur seseorang. Dan sekarang Vanka merasakan hal itu. Dia pun terbangun sambil melihat jam di ponselnya. Ah sudah jam sepuluh malam.
Vanka membuka pintu dengan perlahan dan hendak keluar. Tapi ketika ingin melangkahkan kakinya menuju dapur, Vanka terbesit untuk melihat kamar Naufal. Dia pun berjalan ke sana dan membuka pintu kamar pria itu.
“ Eh? Gak ada ya? ”
Setelah itu Vanka pun menggedikkan bahunya tidak perduli dan berjalan ke dapur. Vanka membuka tudung saji namun tidak ada apa-apa di sana. Lalu tangan wanita itu membuka kulkas dan menemukan sekotak susu.
Tanpa berpikir panjang, Vanka pun langsung meminum susu tersebut.
Namun, entah kenapa tiba-tiba saja dia teringat akan ruang bawah tanah. Ya, Vanka sama sekali belum melihat ruangan itu.
Vanka pun memastikan Naufal ada di bawah sana atau tidak mengingat pria itu tidak ada di kamar.
Saat sudah sampai di garasi, Vanka mengernyit karena tidak melihat mobil hitam milik Naufal. Apa dia pergi?
Tapi tak lama kemudian Vanka tersenyum. Jika Naufal tidak ada di rumah dan di rumah itu hanya ada dia sendiri, berarti itu kesempatan bagus bukan untuk masuk ke dalam ruang bawah tanah tersebut?
“ Oke, aku akan masuk.”
Dengan perlahan Vanka mendekati sebuah besi putih yang terletak di bawah pojok garasi. Sebelah tangan milik Vanka memegang gagang besi tersebut dan menariknya dengan kuat. Namun besi itu tak kunjung terbuka.
“ Sepertinya harus menggunakan dua tangan.”
Vanka pun mengulurkan satu tangannya lagi dan menarik paksa besi itu dengan tenaga yang cukup kuat. Hingga perlahan besi tersebut mulai tertarik ke atas dan akhirnya terbuka.
“ Gelap banget.”
Syukur saja Vanka tidak lupa membawa ponselnya. Dia pun menyalakan lampu dari ponselnya dan melihat sebuah tangga di dalam sana. Sama seperti saluran air yang berada di kantor.
Vanka mulai turun dengan perlahan dan tidak lupa untuk menutup besi itu kembali. Ketika Vanka sudah menapakkan kakinya di bawah, dia melihat sebuah saklar lampu yang terpasang di dinding.
Wanita itu menekan saklar lampu tersebut dan cahaya terang mulai terlihat. Tepat di hadapannya ada sebuah portal, dan Vanka masuk ke dalam sana. Vanka membelalak tidak percaya ketika sudah memasuki sebuah ruangan yang cukup besar.
Beberapa rak yang terdapat dokumen-dokumen berada di dalam sana. Vanka melanjutkan langkah kakinya dan dia melihat sebuah brankas yang sangat besar terletak di ujung ruangan.
Namun bukan brankas itu yang menarik perhatiannya, melainkan kaca besar yang terpajang di dinding dan di dalamnya terdapat banyak senjata tajam.
Pisau?
__ADS_1
BERSAMBUNG.