Menikah Karena Taruhan

Menikah Karena Taruhan
Jatuh Sakit


__ADS_3

Vanka sedikit berlari di lorong rumah sakit agar dia bisa cepat sampai di ruang ICU. Benar dugaan wanita itu jika sekarang Naufal sedang duduk di ruang tunggu sambil tertunduk dan menautkan jari-jarinya.


Vanka menghampiri pria itu lalu duduk di sampingnya. Tangannya refleks terulur untuk mengusap punggung Naufal dan membuat pria itu mendongak.


“ Kamu? Ngapain? ” tanya Naufal sembari menautkan kedua alisnya.


“ Pakai nanya lagi. Nyonya Emily itu kan bos aku! ”


Vanka menggembungkan pipinya dan Naufal tertawa pelan. Hingga tak lama kemudian keluarlah seorang dokter pria bersamaan dengan Silvi. Vanka dan Naufal segera bangkit dan menghampiri dokter tersebut.


“ Nyonya Emily sudah sadar tapi kita tidak tau entah sampai kapan dia akan bertahan.”


Perkataan itu cukup membuat Vanka tercekat sementara Naufal memijit pelipisnya dengan kuat. Notifikasi akun media yang terdapat di ponsel milik Naufal juga tidak berhenti berbunyi. Pria itu sangat merutuki para media yang selalu ikut campur.


“ Tolong usahakan agar ibu saya sembuh,” ucap Naufal dengan pelan.


Vanka yang melihat raut sedih Naufal juga ikut merasakan bagaimana sakitnya pria itu. Karena dia sudah merasakannya terlebih dahulu bagaimana ditinggal kedua orangtua.


“ Baik saya akan berusaha semaksimal mungkin. Kalian boleh melihatnya di dalam, tapi hanya sebentar saja ya,” ucap dokter itu lalu pergi.


“ Mbak pamit dulu ya Van.”


Vanka mengangguk menjawab perkataan Silvi. Kemudian dia langsung masuk ke dalam ruang ICU dengan menggunakan baju rumah sakit.


….


Melihat kondisi Emily yang lemah dengan banyak selang infus terpasang di badannya, membuat Vanka kembali teringat ibunya yang dulu juga pernah seperti itu. Vanka memang sudah mengetahui jika Emily terkena diabetes, tapi dia tidak menyangka jika wanita paruh baya itu akan terbaring lemah di ranjang rumah sakit.


“ Oh Vanka datang ya,” parau Emily sambil memegang tangan Vanka.


“ Gak mungkin saya gak datang nyonya.”


Fokus Emily juga beralih pada Naufal yang tengah berdiri di samping Vanka sambil menatap lurus ibunya.


“ Bilang sama media kalau mama baik-baik aja.”


Oh benar, tadi sewaktu di depan rumah sakit, Vanka melihat jika banyak sekali wartawan di depan sana. Akhirnya dia baru menyadari jika para wartawan itu ingin meliput perkembangan Emily. Yah wajar saja karena Nugraha adalah perusahaan besar nomor tiga setelah Flowgear dan Giovano.


“ Pasti.”


“ Kamu udah siap buat gantikan mama? ”


Naufal menghela napas. “ Pasti.”


“ Jangan lupa beritahu media jika Giovanolah yang membuat saham kita menurun.”


“ Mama tenang aja, aku pasti akan membuat perusahaan kita jaya kembali.”


Vanka hanya diam karena dia tidak mengerti dengan pembahasan mereka. Apalagi jika mengenai saham-saham, sungguh itu adalah hal yang rumit. Tapi sebentar, tadi telinga Vanka tidak sengaja mendengar sebutan Giovano? Bukannya itu nama belakang Bian? Dan setelah mencoba mengingat, akhirnya Vanka tau. Dia mengetahui Giovano corporation karena perusahaan itu sangat terkenal.

__ADS_1


“ Vanka, tolong temani Naufal untuk menjumpai wartawan di luar ya.”


Vanka mengerjapkan mata. Memangnya kenapa harus ditemani? Tapi Vanka memang tidak bisa menolak permintaan Emily. Dia pun mengangguk dan berjalan keluar bersama Naufal.


“ Pegang tangan aku,” ucap Naufal sambil menadahkan telapak tangannya.


Vanka mengernyit. “ Ngapain?! ”


“ Di luar banyak wartawan.”


“ Ya terus apa hubungannya? ”


“ Nanti kamu hilang.”


“ Apasih—”


Belum sempat menyelesaikan perkataannya, tangan wanita itu langsung digenggam oleh Naufal dan pria itu mempercepat langkah kakinya.


“ Bagaimana kondisi nyonya Emily? “


“ Apakah ibu anda baik-baik saja.”


“ Kami dengar saham perusahaan Nugraha mengalami penurunan.”


“ Kira-kira kapan Nugraha akan berdamai dengan Giovano? ”


“ Bagaimana tindakan anda selaku penerus? ”


Naufal menghela napas panjang kemudian menjawab pertanyaan tersebut.


“ Ibu saya baik-baik saja.”


“ Saham Nugraha memang mengalami penurunan, tapi sebentar lagi akan naik kembali. Dan mengenai hubungan Nugraha dengan Giovano kapan bisa berdamai, saya tidak bisa menjamin itu.”


Namun tiba-tiba, sorotan kamera mengarah pada Vanka. Wanita itu terkejut dan refleks mundur satu langkah. Dia benar-benar ingin lari sekarang.


“ Siapa wanita ini? ”


“ Apa dia pacar anda? ”


“ Bagaimana kalian bisa menjalin hubungan?"


Vanka menggeleng cepat, tapi Naufal langsung mempererat genggaman tangan mereka dan seketika membuat Vanka menoleh.


“ Kita kan gak pa—”


“ Benar, dia calon istri saya.”


Dengan kekuatan penuh Vanka langsung menginjak kaki Naufal. Tentu saja tindakan tersebut membuat pria itu meringis kesakitan dan memegang kakinya sehingga membuat tautan tangan mereka terlepas. Kesempatan itu digunakan oleh Vanka untuk melarikan diri.

__ADS_1


Maaf nyonya Emily! Saya harus selamatkan diri sendiri dulu.


….


Benar-benar nekat sekali Vanka berlari dari rumah sakit hingga ke taman bermain yang cukup jauh letaknya. Vanka duduk di salah satu ayunan sambil mengatur napasnya yang masih tersengal. Wanita itu melirik jam tangannya dan waktu sudah menunjukkan pukul enam sore. Pantas saja hari sudah mulai gelap pikirnya.


“ Gak mungkin kan si Naufal ngejar aku sampai kesini? Gak deh gak mungkin,” monolog Vanka.


Hingga tak lama kemudian manik matanya menangkap sebuah kedai bakso yang cukup ramai dan letaknya tepat di sebrang taman bermain. Jujur saja perutnya sangat lapar karena tadi siang hanya makan steak saja. Oh ayolah, orang Indonesia tidak akan merasa kenyang jika hanya memakan sepotong daging sapi.


Dengan mata yang berbinar Vanka pun segera berjalan menuju kesana. Wanita itu sangat sabar karena semakin banyak orang yang memesan. Terlebih lagi dia datang paling akhir. Vanka pun memutuskan untuk duduk di salah satu bangku sambil memainkan ponselnya.


“ Buk, baksonya lima bungkus.”


Suara berat seorang pria membuat Vanka tersentak. Dia merasa seperti mengenal suara itu dan akhirnya mendongak. Melihat pria yang sedang berdiri di hadapannya.


“ Kak Algar? ”


Algar yang merasa namanya disebut langsung menoleh. Ketika dia melihat siapa orang yang menyebut namanya itu, dia tersenyum.


“ Oh hai, Vanka.”


Sebenarnya diantara Naufal, Bian, dan Algar, Vanka cukup dekat dengan Algar karena waktu semester tiga dan empat dia pernah bekerja sama dengan pria itu untuk menyelenggarakan festival di fakultas mereka.


Vanka hanya salut dengan jiwa kepemimpinan yang dimiliki Algar. Bahkan Vanka sempat bertanya-tanya kenapa tidak Algar saja yang menjadi ketua BEM mereka, mengingat Algar lebih baik daripada Naufal.


Algar juga sudah mempunyai seorang pacar yang merupakan selebgram, namanya Trifanya Widya, teman satu kelas Vanka sekaligus sahabat wanita itu. Makanya tidak heran jika Vanka bisa lebih dekat dengan Algar daripada Bian dan Naufal.


“ Kamu ngapain di daerah sini? ”


“ Ibunya kak Naufal masuk rumah sakit.”


Algar sangat terkejut mendengar perkataan Vanka barusan. Yah memang dia tidak memegang ponselnya sedari tadi karena sibuk dipakai oleh sang kekasih. Bisa dibilang Algar ini tipe cowok bucin.


“ Terus gimana? Parah gak? ”


“ Lumayan kak, sampai masuk ke ruang ICU.”


Pria itu menghela napas kasar sambil menggelengkan kepala. Dia tidak menyangka jika Nugraha sedang mengalami nasib buruk lagi.


“ Van, kalau kamu dekat sama Naufal, tolong jangan berhenti buat semangati dia."


“ Loh kok gi—”


“ Lakukan apapun yang dia mau.”


Algar memegang pundak Vanka kemudian membisikkan sesuatu di telinga wanita itu.


“ Karena kamu udah masuk ke dalam jebakan mereka.”

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2