
Semenjak kejadian tadi, Vanka benar-benar pergi dari rumah itu. Meninggalkan abangnya yang telah merawatnya sejak dia duduk di bangku kelas dua SMA. Jujur dia tidak bisa menerima kejadian ini. Tapi di satu sisi, Vanka juga bersyukur jika Naufal mau bertanggung jawab.
Vanka menautkan kedua alisnya ketika Naufal memarkirkan mobil di depan rumah, tapi desainnya mirip seperti pabrik. Vanka tidak percaya jika Naufal benar-benar membawa wanita itu ke rumahnya. Vanka melihat Naufal dengan tatapan menyelidik.
“ Kenapa? Ayo turun.”
“ Kamu gak lagi bohong? Kenapa ke tempatnya kayak gini? Jangan-jangan kamu mau jual aku ya dengan alasan tanggung jawab.”
Naufal menghela napas kasar dan tidak perduli dengan ucapan Vanka. Pria itu segera keluar dari mobilnya lalu membukakan pintu wanita itu.
“ Mau turun sendiri atau aku gendong? ”
Vanka membelalak kemudian menendang tulang kering pria itu. “ Minggir! ”
Ketika Naufal sibuk dengan kakinya, wanita itu langsung turun dan berjalan pelan sambil menyeret koper hitamnya. Hidupnya benar-benar dramatis sekali sekarang. Kini film yang biasanya dilihat di televisi terjadi juga di hidupnya.
Vanka terdiam, melihat pintu besi di hadapannya ini dengan raut wajah bingung. Dimana gagang pintunya?!
“ Baru ngeliat rumah modelan begini? ”
Vanka menoleh melihat Naufal yang sudah berdiri di sampingnya.
“ Gimana cara bukanya? Langsung dobrak? ”
Naufal terkekeh pelan namun tidak menjawab pertanyaan wanita itu. Naufal menggeser ke atas sebuah papan besi yang terletak di samping pintu tersebut. Dan hanya butuh waktu beberapa detik saja papan besi itu langsung menampilkan tombol-tombol dan layar kecil di atasnya.
Vanka mengerjapkan matanya berulang kali.
Sialan, pakai password ternyata.
Setelah menekan beberapa angka di sana, Naufal mendorong pintu itu dan akhirnya terbuka juga. Vanka membiarkan tuan rumah untuk masuk terlebih dahulu dan setelahnya dia mengikut dari belakang.
Vanka menganga tidak percaya ketika melihat isi rumah Naufal.
__ADS_1
Gila.
Satu kata itu yang terlintas di kepalanya saat melihat megahnya rumah ini.
Perlengkapan rumah tangga seperti sofa, meja, kursi, jam dinding yang berdiri kokoh, lampu hias, serta yang lainnya, semuanya terlihat mengkilap. Ya Vanka juga sangat yakin jika barang-barang tersebut harganya fantastis. Namun dia masih tidak percaya, rumah yang depannya seperti pabrik, ternyata bisa semegah ini. Vanka tidak ingin menilai sesuatu dari sampulnya lagi.
“ Sebentar, aku mau masukin mobil dulu,” ucap Naufal.
“ Ikut,” jawab Vanka sambil menatap pria itu. Yah sejujurnya dia ingin mengetahui seluk beluk rumah ini lebih dalam. Karena tadi Vanka tidak melihat adanya garasi mobil.
Naufal tidak menjawab. Dia hanya membiarkan Vanka mengikutinya dari belakang. Vanka mengerjap sambil mengernyit ketika Naufal menekan tombol merah yang berada di dinding ruang tamu.
Setelah menekan tombol itu Naufal kembali keluar dan masuk ke dalam mobilnya. Jangan lupakan Vanka yang masih setia mengikuti pria itu.
Tidak butuh waktu lama, Naufal memasuki sebuah turunan seperti underpass yang di dalamnya terdapat lima mobil. Sekarang Vanka baru mengerti jika ternyata ini garasi mobilnya. Melihat mobil-mobil itu berjajar rapi, Vanka jadi ingin menjualnya satu per satu.
“ Kayak parkiran mall,” gumam wanita itu.
“ Biasa aja.”
“ Hmm.. jadi untuk masuk ke dalam lewat sini ya,” gumam Vanka sambil memasuki sebuah pintu kecil bewarna merah. Pintu itu adalah pintu penghubung dari garasi untuk masuk ke dalam rumah.
Vanka mengehela napas pelan lalu mendudukkan dirinya di sofa ruang tamu. Dia lelah karena dari belakang ke depan butuh waktu lama mengingat rumah ini sangat luas.
“ Jadi kamu tinggal sendiri dong di sini? ”
Naufal yang sedang menuang air mineral pun langsung menoleh. “ Kan sekarang udah ada kamu.”
Sial sial sial! Karena takjub dengan rumah Naufal, Vanka sampai lupa jika sekarang dia juga akan tinggal di sini mengingat dirinya sudah tidak perawan lagi.
Vanka terdiam. Dia tidak tau lagi harus berkata apa. Wanita itu pun memutuskan untuk mengambil kopernya dan mengeluarkan ponselnya.
Astaga batrenya lowbat!
__ADS_1
“ Fal, boleh minjam charger gak? ”
Naufal langsung berjalan mendekati Vanka dan menuntun wanita itu menuju kamarnya.
Lagi-lagi Vanka dibuat bungkam. Kamar tidur Naufal sudah seperti kamar tidur para bangsawan Inggris. Kelihatannya memang sedikit lebay, namun itulah yang Vanka rasakan.
“ Tuh chargernya di meja. Aku mau mandi dulu.”
Tanpa segan Naufal membuka bajunya di hadapan Vanka. Hal tersebut membuat pipi wanita itu memerah dan dia langsung berjalan ke arah meja dengan sangat cepat. Mencoba untuk mengalihkan perhatiannya dari Naufal.
Vanka mendudukkan dirinya di kursi meja rias dan menghidupkan ponselnya. Sembari menunggu benda tersebut menyala, Vanka melihat pantulan dirinya di sebuah cermin di hadapannya. Vanka tersenyum kecut, dia sudah mengecewakan ibu dan ayahnya.
Coba saja jika dia tidak menjumpai Naufal, pasti jadinya tidak akan seperti ini.
Namun di lain sisi, Vanka berhasil mengabulkan permintaan terakhir Emily agar menikah dengan Naufal. Tapi tetap saja, Vanka tidak percaya dengan semua ini.
Vanka melihat layar ponselnya yang sudah menyala. Dia terkejut karena banyak sekali panggilan tidak terjawab dan juga pesan masuk. Terlebih lagi itu dari Bian dan Widya. Namun memang yang paling banyak adalah Bian.
Vanka? Kamu gak apa-apa kan?
*Kamu dimana Van?
Van beneran kamu gak apa-apa?
Van tolong bales dong*.
Isi pesan Bian tersebut membuat setetes airmata wanita itu jatuh. Pria itu ternyata benar-benar khawatir padanya.
Vanka ingin menekan tombol hijau untuk menghubungi kembali pria itu, namun tangannya bergetar. Dia tidak bisa. Dirinya sudah kotor sekarang dan dia tidak ingin Bian mengetahui hal itu.
Vanka memilih untuk meletakkan ponselnya kembali, dan menenggelamkan wajahnya di meja rias.
Aku memang harus melupakanmu.
__ADS_1
BERSAMBUNG...