
Kini Vanka dan Bian sudah duduk di sebuah taman. Vanka menundukkan kepalanya sementara Bian melirik wanita itu. Vanka benar-benar malu karena ketahuan membeli alat itu. Terlebih lagi yang mengetahui itu adalah Bian. Sial sekali dirinya, harus menjelaskan apa dia padahal belum tentu hamil.
“ Van,” Bian membuka suara dan Vanka langsung menoleh.
“ Iya? ”
“ Jadi gimana, soal Cecile? Kamu bilang dia hamil anak Naufal kan? ”
Vanka berdeham. “ Enggak tau, tapi semoga aja itu bukan anak dari Naufal.”
“ Kenapa kamu yakin banget Van? ” ucap Bian sambil mengernyit.
“ Gak ada alasan khusus sih, aku cuma gak pengen itu terjadi aja.”
“ Kamu udah mulai suka sama Naufal? ”
Vanka kembali menunduk sambil memainkan jemarinya.
“ Mungkin,” ucap Vanka pelan.
Sementara Bian tersenyum tipis dan melihat ke atas langit. “ Aku jadi punya keinginan.”
Vanka menoleh. “ Apa itu? ”
“ Patahin persepsi benci jadi cinta.”
Entah kenapa, rasanya Vanka seperti sedang disindir.
“ Jangan merasa kayak tersindir Van,” ucap Bian sambil tersenyum lalu mengacak rambut Vanka.
“ Iya, enggak kok.”
“ Tapi ngomong-ngomong, kamu hamil ya? ”
Vanka menunduk sambil menggigit bibir bawahnya. “ Aku juga belum tau. Tapi belakangan ini aku ngerasa pusing dan mual. Sebenarnya aku juga takut sih kalau hamil.”
Bian mengernyit. “ Kenapa gitu? ”
“ Yah, aku kan masih kuliah,” jawab Vanka sambil tersenyum simpul.
__ADS_1
Setelah jawaban dari Vanka itu, hening beberapa saat. Tidak ada yang membuka suara dan keduanya hanya bermain dengan pikiran masing-masing. Namun, Vanka teringat akan sesuatu. Mengenai pembicaraannya dengan Naufal sewaktu di ruang bawah tanah.
“ Bian, aku mau nanya deh.”
Bian menoleh. “ Apa itu? Tanya aja.”
“ Aku yakin, kamu pasti punya satu ruang rahasia di rumah kan? Soalnya dari dulu, kamu gak ngebolehin aku buka satu pintu yang di dekat kolam berenang.”
Dulu pada saat SMA memang Vanka bisa dibilang sering main ke rumah Bian. Tapi ada satu area yang tidak diperbolehkan siapapun masuk termasuk Vanka. Walaupun kejadian itu sudah lama, tapi tetap saja Vanka masih mengingatnya. Terlebih lagi muncul kasus aneh seperti ini.
“ Ruangan itu cuma gudang Van.”
“ Gudang rahasia? ”
Bian menghela napas pelan. “ Apa ada hal yang kamu tau? ”
“ Iya. Aku tau kalau ada ruang bawah tanah di rumah Naufal. Terus aku juga tau kalau ada ruang rahasia di rumah kak Algar. Dan satu lagi, aku tau lorong rahasia yang ada di perusahaan.”
Bian membelalak tidak percaya. Bagaimana Vanka bisa tau pikirnya.
“ Van, apa ini efeknya ya kamu dulu sering baca komik detective conan? ”
Vanka terkekeh mendengar perkataan Bian. “ Enggak kok. Berawal dari kesengajaan.”
“ Apa boleh ya aku kasih tau ke kamu? Kayaknya di dalam sana penting semua deh. Tapi, mungkin ada satu hal yang perlu kamu tau, di sana banyak terdapat pisau.”
Bian mengangguk paham. “ Kalau pisau memang benar. Gak cuma Naufal yang punya, tapi aku dan Algar juga.”
“ Iya, Naufal udah cerita ke aku. Punya kamu kodenya angka genap, Naufal ganjil, dan kak Algar barcode. Memangnya kenapa sih ada pisau-pisau gitu? ”
“ Udah sejauh itu ternyata kamu tau ya Van,” Bian menghela napasnya.
“ Benda tajam itu udah ada sejak jaman kakek kami. Menurut dari penjelasan mereka sih, itu buat benteng pertahanan aja. Karena ketiga perusahaan ini selalu bersaing, jadinya mereka bikin senjata dengan kode. Jadi kalau ada kasus pembunuhan di salah satu perusahaan, mereka bisa tau pihak siapa yang membunuh.”
Vanka mengernyit. “ Sedikit aneh ya, kalau menurut aku malah tujuannya jadi kayak saling menjatuhkan. Seharusnya senjata itu gak boleh diketahui satu sama lain.”
“ Aku juga berpikiran kayak kamu Van. Tapi yaudah deh mau gimana lagi, semuanya udah terjadi.”
Ketika Vanka ingin membalas perkataan Bian, tiba-tiba saja ponselnya berdering. Vanka menepuk keningnya karena panggilan tersebut berasal dari Silvi.
__ADS_1
“ Bian, aku pamit dulu ya! Udah di telfon dari kantor! ”
“ Iya, aku juga mau ke kantor. Hati-hati kamu Van.”
Vanka mengangguk dan kemudian memberhentikan sebuah angkutan umum kemudian berlalu. Sedangkan Bian masih duduk sambil menatap lurus.
Pintar juga kamu ya Van, udah tau sampai sejauh ini.
….
Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam dan Vanka terbangun dari tidurnya. Dia melihat Naufal sudah terlelap sambil memeluk pinggangnya. Perlahan Vanka menyingkirkan tangan Naufal agar dia bisa beranjak dari tempat tidur.
Yah Vanka memenangkan perdebatan siapa yang akan tidur di kamar Naufal. Walaupun Cecile sangat jengkel, namun akhirnya wanita itu mengalah karena dia tidak mau pergi dari rumah itu. Soalnya Naufal mengancam Cecile untuk pergi jika tidak mau menuruti kata-katanya.
Di sini Vanka sangat senang karena mendapat pembelaan dari Naufal. Mungkin dari sana dia bisa melihat Naufal berubah. Setelah berhasil beranjak dari tempat tidur, Vanka pun keluar untuk mengambil segelas air.
Namun dia melihat Cecile sedang duduk di dapur sambil menelfon seseorang. Cecile yang sadar akan kehadiran Vanka, langsung menutup panggilan itu. Vanka pun kelihatan tidak perduli, dia hanya fokus terhadap air mineral yang sedang dituangnya.
Tapi secara tidak sengaja, fokus Vanka mengarah pada perut Cecile. Kenapa cepat sekali membesar pikirnya.
“ Kenapa kamu liat-liat?! ”
Vanka sedikit terkejut karena Cecile berbicara tiba-tiba. Dia pun meletakkan gelasnya di atas meja lalu menatap wanita itu.
“ Perut mbak Cecile kenapa cepat banget besarnya? ”
Seketika itu juga Vanka bisa melihat Cecile langsung menutupi perut besarnya dengan cara menahan napas.
“ Besar apaan! Ini baru dua minggu! ”
Vanka mengernyit. Hah? Dua minggu?
“ Kamu gak usah curiga ya sama saya! Ini memang anaknya Naufal! ”
“ Kenapa mbaknya bilang begitu? Padahal saya gak ada nyinggung.”
Vanka pun menghela napasnya dan segera berjalan meninggalkan dapur.
“ Liat aja ya kamu Vanka, kamu yang akan keluar dari sini.”
__ADS_1
Vanka menggedikkan bahunya dan tersenyum miring. “ Oke mbak, kita liat aja nanti.”
BERSAMBUNG.