
Kini Vanka sudah berdiri di depan pintu ruangan itu. Secara perlahan, tangan miliknya terulur untuk meraih knop pintu tersebut dan membukanya. Gelap, itulah yang pertama kali dilihat Vanka. Dia pun mengeluarkan ponselnya dan menghidupkan senter.
Kening Vanka mengkerut karena dia mencium bau yang sangat amis. Sebenarnya dia mual, tapi Vanka menahan itu dan terus berjalan sambil mengarahkan ponselnya ke depan.
Hingga tak lama kemudian di tengah-tengah ruangan, Vanka melihat mayat seorang wanita tengah di gantung dengan sebuah lilin yang berada di samping kanan kirinya.
Ketika Vanka mulai mendekat, dia langsung terduduk sambil menutup mulutnya dan menggeleng tidak percaya. Airmatanya perlahan mulai jatuh dan dadanya sangat sesak. Kenapa, kenapa bisa temannya mati dalam kondisi mengenaskan seperti itu.
“ Widya… WIDYA!! ”
Vanka menangis sejadi-jadinya karena melihat badan Widya yang banyak sekali meneteskan darah. Mulai dari kepalanya hingga sebelah tangan wanita itu banyak bercucuran darah. Namun ketika Vanka bangkit dan ingin mendekati mayat tersebut, dia mendengar suara seperti orang yang sedang memberontak.
Dengan cepat Vanka langsung mengarahkan ponselnya ke sudut ruangan dan melihat seorang pria tengah duduk di salah satu kursi dengan tangan dan kaki yang terikat dan juga sebuah lakban menutupi mulut pria itu.
Vanka pun langsung berjalan cepat ke arah sana untuk mendekati pria itu. Manik matanya membulat ketika sudah mengetahui siapa orang tersebut. Vanka mengerjap tidak percaya karena melihat kening suaminya banyak mengeluarkan darah.
“ Naufal?! ”
Pria itu mendongak, kemudian dia tersenyum dengan setetes airmata yang keluar dari pelupuk matanya. Segera mungkin Vanka langsung membuka lakban di mulut pria itu dan melepas ikatan-ikatan yang menjeratnya.
“ Van, maaf,” lirih Naufal.
“ Diam bodoh, aku udah maafin kamu,” jawab Vanka yang masih terisak. Hatinya benar-benar sakit sekarang.
“ Dia yang telah membunuh Widya dan pak Surya! ” ucap Naufal geram.
Setelah Vanka berhasil melepaskan ikatan dari tangan dan kaki Naufal, pada saat itu juga Bian masuk ke dalam ruangan itu dan langsung menghampiri mereka berdua.
“ Fal, kamu gak apa—”
Ucapan Bian terhenti karena secara tidak sengaja melihat mayat Widya yang tergantung. Bian langsung menutup mulutnya dan menggeleng tidak percaya. Dan seketika itu juga, Algar memasuki ruangan tersebut sambil bertepuk tangan.
“ Wah wah wah.. mengharukan banget kayaknya ya.”
Mereka bertiga langsung menoleh dan melihat Algar yang sudah berdiri di depan sana sambil melipat tangannya di dada. Vanka masih terus terisak sedangkan Bian dan Naufal berdiri di depan wanita itu. Mereka mencoba untuk melindungi Vanka.
“ Kakak kok jahat banget,” lirih Vanka. Wanita itu benar-benar tidak percaya dengan semua ini.
“ Kenapa Van? Jahat? Hahaha! Van, van.. kamu itu bodoh, jadi gak ngerti apa-apa.”
“ Tapi sebelumnya Van,” lanjut Algar. “ Aku mau ngasih kamu tontonan nih.”
Algar berjalan ke arah meja yang ada di sana lalu mengambil sebuah remot. Di dinding sebelahnya sudah ada layar proyektor dan beberapa audio visual. Algar menekan remot tersebut dan tampaklah sebuah video.
* Kejadian ini bermula sekitar dua tahun yang lalu. Di saat seorang pria paruh baya yang diketahui adalah ayahnya Naufal sedang duduk di kursi kerjanya sambil membolak-balikkan sebuah dokumen. Pria paruh baya itu sedang berada di dalam ruang bawah tanah yang mana itu adalah ruang rahasia milik keluarga Nugraha.
Tuan Nugraha sangat teliti memeriksa dokumen tersebut. Namun pada saat itu juga, seseorang masuk dengan pakaian serba hitam dengan sebuah pisau yang berada di tangannya. Tuan Nugraha langsung menghentikan aktifitasnya dan mulai bangkit dari duduknya.
“ Siapa kamu?! ”
Orang itu tidak menjawab dan malah mendekati tuan Nugraha yang sudah mundur beberapa langkah. Tapi tuan Nugraha langsung menarik topeng yang dikenakan orang itu. Betapa terkejutnya dia saat melihat wajah di balik topeng tersebut.
“ Naufal…? ”
Lagi-lagi dia tidak menjawab. Namun tuan Nugraha merasa sedikit ada yang aneh karena tatapan putranya itu terlihat kosong.
“ Ka-kamu kenapa?! ”
__ADS_1
“ Berisik,” jawab Naufal dingin.
“ Ini bukan kamu kan? Pasti bukan kamu! ”
“ Bukan aku? Tentu saja ini aku.”
“ Tolong sadar Naufal! Sadar! ”
Namun pisau tersebut sudah terlebih dahulu menancap di perut tuan Nugraha. Naufal menusuk perut ayahnya itu berulang-ulang kali sampai dia tidak sadarkan diri.
Mbok Ten yang pada saat itu memang ada di garasi dan melihat pintu ruang bawah tanah terbuka, dia pun langsung masuk ke dalam sana lalu melihat kejadian mengerikan itu.
Naufal menoleh ke belakang dan melihat mbok Ten yang sedang menutup mulutnya sambil menggeleng tidak percaya. Namun Naufal tidak perduli dan dia menyeret mayat ayahnya itu, lalu memasukkannya ke dalam sebuah bagasi mobil hingga mobil milik Naufal melesat entah pergi kemana.*
Setelah rekaman CCTV itu berakhir, Naufal terduduk lemas di bawah sambil memegang kepalanya dengan tangan yang bergetar hebat. Vanka yang melihat itu langsung mendekap Naufal ke dalam pelukannya.
“ Arghh!! ”
Teriakan Naufal barusan membuat Algar tertawa terbahak-bahak, sementara Bian masih mematung di tempat. Hingga tak lama kemudian dia menoleh ke arah Naufal dan berjongkok di depan pria itu.
“ Fal tolong jelasin, kamu ingat gak atas perlakuanmu itu? ”
Naufal menggeleng pelan. Dan akhirnya Vanka mengingat sesuatu. Benar, tadi dia melihat jika tatapan Naufal itu kosong. Vanka teringat akan sebuah buku yang ditemukannya di perpustakaan milik Algar beberapa waktu silam.
“ Bukan Naufal pembunuhnya, tapi kak Algar! ” ucap Vanka dan dia langsung berdiri sambil mengarahkan telunjuknya ke arah pria itu.
“ Bukan Naufal? Jelas-jelas itu Naufal yang bunuh! ”
“ Enggak,” Vanka menggeleng kuat. “ Kak Algar pasti hipnotis Naufal pada saat itu!”
“ Maksudnya Van? ” tanya Bian.
“ Di lantai dua, ada sebuah perpustakaan. Di sana aku lihat ada jajaran buku magic dan salah satunya ada buku tentang bagaimana cara menghipnotis seseorang.”
Setelah mendengar penjelasan Vanka, Algar bertepuk tangan sambil tertawa.
“ Hahaha! Aku tarik kata-kataku Van, ternyata kamu pintar juga. Pantas aja tiba-tiba Widya nanya tentang hal itu, ternyata kamu udah ngasih tau dia. Yah akibat dari itu sih kamu bisa ngeliat dia sekarang udah jadi apa. Siapa suruh nanya hal begitu ke aku.”
Vanka tertunduk sambil menggepalkan tangannya. Dia menangis dan tidak mampu lagi melihat jasad temannya itu.
“ Kenapa, kenapa kakak lakuin itu sama Widya?!! Widya gak tau apa-apa tapi kakak malah bunuh dia dengan sadis kayak gitu!! ”
Kini Vanka menatap Algar dengan mata yang memerah dan airmata yang tak berhenti menetes. Sementara Algar menarik bangkunya dan duduk di sana sambil memainkan pistol yang berada di tangannya.
“ Aku begini karena mereka berdua Van,” ucap Algar sambil melirik ke arah Naufal dan juga Bian.
“ Tiga tahun lalu ayahku bunuh diri di tempat ini, dan Flowgear hampir bangkrut! Sementara Nugraha dan Giovano hanya diam tanpa membantu sama sekali.”
“ Terus kamu pikir aku ikhlas gitu Van? Hahaha ya enggaklah! Aku iri sama mereka dan akhirnya aku mutusin buat adu domba keduanya.”
Algar tertawa puas sambil bertepuk tangan, sedangkan mereka bertiga menggeleng tidak percaya.
“ Aku udah mulai ingat sedikit. Waktu itu aku nguburin jasad ayahku dan datang ke kantor kamu, terus letakkin pisau itu di tas pak Daniel dan akhirnya nuduh pak Daniel sebagai pelaku,” ucap Naufal pada Bian.
Sedangkan Vanka langsung menatap Algar dengan tajam. “ Kakak juga yang udah bunuh pak Surya kan?! Sebenarnya tujuan kakak itu apa?! ”
“ Tujuanku? Tentunya untuk merebut kekuasaan! Aku gak mau biarin Nugraha sama Giovano yang memimpin karena mereka adalah anak dari perusahaanku. Jadinya aku kerja sama dengan pak Surya, Louis, dan juga Cecile.”
__ADS_1
“ Cecile? Kenapa dia juga terlibat? ” tanya Vanka heran.
“ Cecile itu pacar aku. Kami udah kenal dari SMP dan sekarang dia lagi ngandung anak aku, hahaha. Maaf ya Naufal karena dia tinggal di rumah kamu itu cuma jadi mata-mata.”
Setelah itu Algar langsung mengarahkan pistolnya ke arah Vanka sambil tersenyum menyeringai. “ Van, kamu gak mau nyusul Widya? ”
Naufal membelalak dan segera bangkit dari posisinya kemudian menarik pundak wanita itu agar Vanka menjauh. Namun sayangnya…
Dor!
Peluru tersebut langsung mengenai dada Naufal sehingga membuat pria itu terduduk lemah sambil mengeluarkan banyak darah dari mulutnya.
“ Yah, salah sasaran deh.”
“ NAUFAL!! ”
Vanka berteriak kemudian segera menghampiri pria itu. Sementara Bian langsung berlari ke arah Algar dan menghajarnya habis-habisan. Vanka meletakkan kepala Naufal di atas pahanya sambil menangis hebat dan memegangi dada pria itu yang sekarang berlumuran darah.
“ Hey, jangan na-nangis,” ucap Naufal sembari mengusap pipi Vanka yang basah.
Vanka menggeleng kuat. “ Ayo bangkit Fal! Kita ke rumah sakit sekarang! ”
Namun pada saat itu juga Naufal memegang tangan Vanka. “ Van, jaga anak kita baik-baik ya.”
“ Kamu ngomong apasih?! Kita berdua yang akan jaga anak ini! Ayo bangkit Fal, ayo! ”
Vanka mencoba untuk membopong badan suaminya namun dia tidak sanggup lagi. Badannya terasa lemas.
“ Fal, hiks.. ayo kita ke rumah sakit..hiks..”
Vanka sudah tidak mampu membendung tangisnya lagi dan dia menunduk sehingga airmatanya mengenai wajah Naufal.
“ Van, uhuk! uhuk!” Naufal terbatuk sambil mengeluarkan darah. “ Aku punya satu amanah, tolong menikahlah dengan Bian. Karena aku yakin dia bisa jaga kamu.”
“ Enggak Fal..enggak,” jawab Vanka lemah.
“ Van, satu hal yang perlu kamu tau. Aku cinta sama kamu. Aku benar-benar sayang sama kamu. Maafin aku yang pernah buat kamu sebagai alat taruhan.”
“ Aku udah maafin kamu sayang. Aku juga cinta sama kamu Fal.”
Naufal tersenyum kemudian menutup matanya secara perlahan. “ Makasih Van.”
“ Fal, bangun Fal, bangun sayang! ”
Vanka menepuk wajah pria itu dengan kuat sambil menggelengkan kepalanya. “ Fal, Naufal Nugraha, ayo bangun sayang! Bangun!”
Bian yang melihat itu langsung tertunduk sambil menggepalkan tangannya kuat. Airmata juga tak hentinya membasahi wajah pria itu.
“ NAUFAL!! ”
Vanka menenggelamkan wajahnya di dada pria itu dan menangis hebat. Dia memukul-mukul dadanya yang sangat sesak. Hingga tak lama kemudian segerombolan polisi masuk ke dalam sana. Algar yang masih terkapar langsung meraih pistolnya dan menembak kepalanya sendiri.
Ya, pria itu bunuh diri.
Tolong bangunkan aku dari mimpi buruk ini!
BERSAMBUNG.
__ADS_1