Menikah Karena Taruhan

Menikah Karena Taruhan
Kedatangan Tamu


__ADS_3

Nugraha corporation dan Giovano corporation adalah sebuah perusahaan yang bergerak di bidang penanaman modal atau biasa disebut dengan investasi. Perusahaan itu adalah perusahaan turun temurun. Tapi sayangnya, kedua perusahaan itu sudah lama bersaing sejak tahun 2005. Awal mula konflik karena kedua perusahaan menginginkan saham dari perusahaan induk yang bernama Flowgear corporation. Perebutan itu masih terus berlanjut hingga ke generasi selanjutnya.


Dan hebatnya, para penerus bisa satu kampus dan satu fakultas pula. Mereka adalah, Naufal Nugraha, Abian Giovano, dan Algar Flowgear. Memang ketiganya tampak begitu dekat, namun mereka saling menyembunyikan pisau tajam dibalik punggung masing-masing.


Algar selaku penerus dari perusahaan Flowgear, memberikan sebuah penawaran kepada kedua temannya itu. Jika salah satu diantara mereka menginginkan 25 persen saham miliknya, maka mereka harus berhasil menikahi Vanka.


Hal tersebut membuat Naufal sangat tertantang. Apalagi mengingat wanita itu pernah menentangnya. Naufal juga ingin membalaskan dendam karena ayahnya tewas dibuat oleh salah satu suruhan dari perusahaan Giovano dan mereka mengatakan pada media jika kematian pemilik perusahaan Nugraha tewas karena bunuh diri. Namun tetap saja pelaku ditangkap karena bukti yang mengarah cukup kuat.


Bian mengetahui hal itu, sejujurnya dia juga merasa tidak enak dengan Naufal. Tapi mau bagaimana lagi, ini bukan berbicara tentang perasaan, melainkan kekuasaan. Walaupun kenyataannya dia masih mencintai Vanka, tapi sejujurnya dia juga tidak bisa membendung hasratnya untuk menjadikan Giovano sebagai perusahaan nomor satu di Indonesia. Maka dari itu, Bian juga menerima tawaran Algar.


....


Vanka membuka matanya perlahan, membiarkan sinar mentari masuk melalui cela-cela jendela kamarnya. Wanita itu merenggangkan otot-ototnya dan menyisir surai hitamnya ke belakang. Apakah kali ini dia telat lagi? Tidak, karena ini hari minggu yang merupakan waktu untuk bersantai.


Dengan bersenandung kecil, Vanka beranjak dari tempat tidurnya dan langsung membuka laptopnya. Dia ingin melanjutkan anime yang belum tuntas kemarin.


Tapi baru saja wanita itu menekan tombol power, ponselnya berdering menandakan panggilan masuk. Vanka membelalak ketika melihat nama kontak yang tertera di sana.


Bian menelfonnya! Dengan segera Vanka langsung berdeham untuk mengatur intonasi nadanya agar terlihat lembut dan kesannya tidak dibuat-buat.


“ Ya-ya halo, " ucap Vanka pelan. Jujur dia sangat gugup.


" Udah bangun ya? "


" Iya barusan."


" Pasti mau nonton anime kan? "


Yah memang Bian sangat paham dengan kebiasaan Vanka. Wajar saja, karena mereka pernah berpacaran selama tiga tahun lamanya.


“ Hmm..” Vanka hanya berdeham.


" Bisa keluar sebentar? "


Spontan Vanka langsung beranjak dari tempat tidurnya dan menyingkap tirai jendelanya. Matanya kembali membulat ketika melihat Bian yang sudah bersandar di pintu mobilnya sambil melambaikan tangan ke arah wanita itu.


Astaga ngapain dia di sini?!

__ADS_1


Vanka kembali menutup tirai itu. Jujur saja dia malu karena masih mengenakan baju tidur tanpa lengan dengan muka yang masih kusut.


" Ka-kakak ngapain?! "


" Gak ada, aku cuma mau mampir sebentar."


" Vanka! Ada yang cari kamu nih! "


Hingga tak lama kemudian terdengar suara teriakan kakak ipar Vanka dari bawah tangga.


Yah, Vanka adalah yatim piatu, dan sejak SMA dia tinggal dengan abangnya yang sudah memiliki istri dan dua orang anak. Abangnya Vanka seorang PNS, sehingga masih bisa membiayai kuliah wanita itu.


" Tolong tunggu sebentar ya," ucap Vanka melalui telfon dan dia pun memutuskan panggilan tersebut.


Vanka segera menuju kamar mandi dan bersiap-siap. Rencananya untuk bersantai kali ini gagal lagi.


....


Segelas teh hangat dan beberapa kue kering terletak di atas meja. Vanka duduk tepat di hadapan Bian. Jujur saja, kembali melihat wajah pria itu membuat jatungnya tidak sehat. Entah kenapa di matanya, Bian terlihat semakin...


Tampan?


" Ngomong-ngomong, kamu magang dimana? " tanya Bian sambil meminum tehnya.


" Nugraha corporation."


Pada saat itu juga Bian langsung tersedak dan membuat Vanka terkejut. Wanita itu langsung menyodorkan sekotak tissue.


" Kok kelihatan kaget? "


Bian menggeleng pelan sambil mengelap bibirnya. " Gak apa-apa, hebat kamu bisa magang di perusahaan besar. "


" Hm itu juga karena aku kenal sama atasannya."


Vanka melihat Bian hanya mengangguk menjawab perkataannya. Sejujurnya dia sedikit bingung kenapa Bian tiba-tiba datang ke rumahnya, pasti ada sebuah alasan mengingat Bian adalah orang yang tidak suka basa-basi.


" Kak Bian, kenapa tiba-tiba datang kemari? Pasti ada alasan lain kan? "

__ADS_1


Mendengar Vanka yang memanggil dirinya dengan sebutan kakak, membuat Bian tertawa kecil. Sementara Vanka menautkan kedua alisnya.


" Jangan panggil kakak, walaupun status kita mantan, apa salahnya kan bersikap kayak biasa aja? "


Yah benar, ucapan Bian membuat Vanka sedikit tertohok. Jujur saja, Vanka tidak bisa bersikap seperti biasa karena dia masih ada perasaan dengan Bian. Namun dia juga tidak mau terus-terusan dalam perasaan itu.


" Oke, maaf kalau buat kamu gak nyaman atas sikap aku tadi, " ucap Vanka sambil tersenyum. Senyuman yang bisa membuat jantung Bian berdetak tidak karuan.


Untuk mengalihkan raut wajah yang memerah, Bian berdeham kemudian mengedarkan pandangannya.


" Kamu belum jawab pertanyaan aku tadi. Ada apa perlu apa kemari? "


" Oh itu, aku mau ngajak per- "


Tin tin!


Suara klakson mobil mengejutkan mereka berdua. Vanka bangkit dari duduknya untuk melihat siapa yang tengah membuat kebisingan. Begitu juga Bian, dia segera keluar dari rumah Vanka.


" Woy mobil siapa nih? Geser dikit dong! Mau lewat jadi susah! "


Vanka membelalak ketika melihat seorang pria yang baru saja keluar dari sebuah mobil hitam. Dia adalah Naufal. Namun tidak hanya Vanka, Bian juga sama terkejutnya. Bagaimana bisa Naufal lewat di sekitar sini pikirnya.


" Ngapain kamu?! " ucap Vanka sambil berdiri di depan pagar rumahnya.


Sementara Naufal tidak menjawab dan terus fokus menatap manik mata Bian. Begitu pun sebaliknya, Bian berdiri di depan pintu mobilnya dan menatap Naufal dengan tatapan menyelidiki. Sebenarnya Naufal sudah tau jika yang terparkir itu adalah mobil Bian, namun dia sengaja membunyikan klaksonnya kuat agar sang pemilik keluar dari dalam rumah Vanka.


" Ada urusan apa kemari? " tanya Bian.


" Situ sendiri juga ngapain di sini? "


" Tau alamat rumah ini darimana? " tanya Bian lagi.


" Apa gunanya ngasih tau kamu, " balas Naufal lagi.


Perdebatan mereka berdua membuat Vanka pusing. Dia memang tau jika Bian dan Naufal cukup dekat karena mereka sering kumpul bersama dengan Algar.


Tapi Vanka masih belum mengetahui jika Bian dan Algar juga penerus perusahaan besar. Ketika Vanka menjalin hubungan dengan Bian, pria itu memang tidak pernah memberitahu wanita itu.

__ADS_1


Vanka merasakan jika aura disekitarnya mulai tidak enak. Entah kenapa dia merasa merinding ketika melihat kedua pria itu saling bertatapan dengan siratan yang tajam. Vanka pun tidak tahan dan akhirnya masuk ke dalam rumah. Dia mengunci pagarnya dan membiarkan mereka berdua di luar.


BERSAMBUNG...


__ADS_2