
Hari ketujuh sebelum terjadinya pembunuhan.
Di sebuah ruang makan, berkumpulah keluarga kecil yang tengah asik menyantap makanannya. Namun ada seorang anak remaja laki-laki yang tidak ingin menyantap makan paginya itu.
“ Kenapa gak di makan? ”
Tegur Surya kepada putra sulungnya. Tapi dia tidak membalas perkataan ayahnya itu.
“ Nanti kamu kalau gak sarapan di sekolah pingsan.”
“ Kerjaan ayah itu sebenarnya apa sih? Cuma pura-pura sebagai asisten direktur?”
Surya menghela napas pelan, mencoba untuk meredam amarahnya. “ Kenapa? Kamu pengen sesuatu ya? ”
“ Teman-temanku semua udah pakai mobil. Masa aku gak punya.”
“ Oke, nanti ayah belikan. Tapi kamu harus sabar karena perusahaan tempat ayah kerja ini lagi dalam masa-masa sulit.”
“ Makanya kerja jangan di perusahaan gak modal kayak gitu.”
“ Kenapa kamu sekarang makin kurang ajar ya? ” kini Surya sudah tidak bisa membendung amarahnya lagi sehingga dia menatap putranya dengan tajam.
“ Bu! Aku berangkat sekarang.”
Putra sulungnya langsung pergi keluar rumah dan meninggalkan Surya yang masih tersulut emosi.
“ Sabar pak, jangan terlalu di dengar omongan anak kamu itu. Dia cuma lagi puber jadi emosinya belum stabil dan belum bisa berpikiran dewasa.”
Mendengar kata-kata istrinya itu membuat Surya menghela napas panjang dan melanjutkan sarapan paginya.
Bagaimanapun aku harus mendapatkan lebih banyak uang.
….
Hari ke enam sebelum terjadinya pembunuhan.
Surya menatap layar komputernya dengan wajah yang sangat serius. Dia melihat jika grafik perusahaan menurun dan itu cukup membuatnya pusing. Surya pun memilih untuk melangkahkan kakinya keluar ruangan demi mendapatkan angin segar.
Pria paruh baya itu duduk di kanebo taman belakang sambil menghisap batang rokoknya.
Perkataan putra sulungnya kemarin malam itu cukup membuat dirinya tertampar. Surya juga berpikiran jika dia tidak terlihat seperti asisten direktur, melainkan hanya seorang karyawan biasa.
Namun tiba-tiba saja seorang satpam datang dan menjumpainya. Surya pun langsung mematikan rokoknya kemudian bangkit dari duduknya.
“ Ada apa pak? ”
“ Tadi ada orang yang ngasih amplop ini. Katanya untuk pak direktur. Tapi pas saya coba nelfon pak direktur tidak dijawab.”
Surya mengambil amplop tersebut kemudian langsung berterima kasih kepada satpam yang berjaga di pos.
“ Terima kasih pak, nanti akan saya serahkan sama pak direktur.”
“ Baik pak, sama-sama.”
Satpam tersebut langsung pergi, kemudian Surya juga melangkahkan kainya ke dalam gedung kantor. Pria patuh baya itu ke dalam ruangannya terlebih dahulu untuk mengambil beberapa berkas yang akan dilaporkan kepada Naufal.
Tok! Tok! Tok!
__ADS_1
Setelah mendengar suara dari dalam sana yang memperbolehkannya untuk masuk, dengan langkah pelan Surya membuka pintu tersebut dan berjalan masuk ke dalam.
“ Selamat siang, pak,” ucap Surya sembari menyerahkan sebuah amplop cokelat.
“ Dari siapa? ” tanya Naufal sambil membuka amplop tersebut.
“ Klien.”
Pria paruh baya itu melihat kening Naufal mengekerut ketika membaca tulisan yang terdapat di kertas HVS putih tersebut. Surya sedikit terkejut karena dengan spontan Naufal memukul mejanya.
“ Klien atas nama Dermawan meminta kita untuk segera melakukan penarikan dana,” ucap Surya namun tidak dijawab oleh Naufal.
“ Angka kita menurun lagi menjadi 2,5 persen. Dan masih banyak juga klien yang ingin menghentikan kerjasamanya dengan kita.”
“ Perusahaan xxx juga sudah membatalkan penandatanganan kontrak dua hari yang lalu.”
Setelah dia berbicara, Naufal langsung menghela napas kasar lalu mendongak. Menatap dirinya dengan cukup tajam.
“ Saya tau. Bisa anda keluar sekarang? ”
“ Baik pak, saya permisi.”
Dengan perlahan Surya kembali menutup pintu tersebut. Setelah sampai di luar dia pun menghela napas panjang sambil memijit pelipisnya.
Susah sekali jika berurusan dengan pak Naufal.
….
Hari kelima sebelum terjadinya pembunuhan.
“ Oke guys! Thanks ya hari ini! ”
Pria paruh baya itu langsung membelalak ketika melihat putra sulungnya membawa sebuah mobil sport bewarna putih. Surya langsung menyambut anaknya itu di depan pintu dengan raut wajah marah.
“ Mobil siapa itu? ”
“ Aku baru beli.”
“ Berani-beraninya kamu ya.”
Plak!
Surya menampar pipi putranya dan membuat istirnya dan putri bungsunya terbangun. Ketika di ruang tamu, mereka terkejut melihat kejadian itu.
“ Kenapa pak?! ”
“ Ini anak kamu sudah kurang ajar. Dia beli mobil tanpa bilang ke aku.”
“ Bapak tinggal melunasin aja apa susahnya?! Aku gak mau tau, pokoknya mobil ini harus lunas! ”
….
Hari ke empat sebelum terjadinya pembunuhan.
Surya mendudukkan dirinya di sebuah rumah makan sambil menautkan jari-jarinya. Saat ini sedang jam makan siang jadi dia bisa meringankan kepalanya sebentar. Namun tiba-tiba saja, seseorang duduk di samping pria itu lalu memesan es teh manis.
Surya menolehkan wajahnya dan betapa terkejutnya dia ketika melihat seseorang duduk di sampingnya.
__ADS_1
“ Anda, pak….? ”
Pria itu tersentak, kemudian dia tersenyum ketika melihat name tag di baju Surya. “ Iya pak benar, ngomong-ngomong kalau di luar jangan manggil bapak, panggil nama aja.”
“ Oh siap.”
“ Kenapa pak kok kelihatan murung gitu? ”
Surya menghela napas. “ Iya, anak saya tiba-tiba beli mobil dan saya bingung mau bayar bulanannya gimana.”
Saat itu juga pria tadi tersenyum sambil memegang pundak Surya. “ Pak lihat saya, bapak mau tau gimana caranya bisa cepat lunas? Ayo kita kerja sama.”
….
Setelah bertemu dengan orang itu, Surya melakuan insider trading untuk meraup keuntungan yang sangat besar. Dia pun datang pagi-pagi ke sebuah perusahaan untuk menjumpai orang itu dan menyerahkan satu koper uang senilai dua milyar.
Pada saat itu juga Surya mendapatkan feed back senilai 500 juta. Entah kenapa rasanya dia sangat senang menerima uang tersebut dan langsung membayarkan mobil putranya itu. Namun saat tengah malam dia terbangun. Surya mengambil sebuah catatan transaksi gelap di dalam laci meja dan melihatnya.
Entah kenapa tiba-tiba saja rasa bersalah menyelimuti pria paruh baya itu. Dia berpikiran jika tindakannya ini salah, dan mengingat juga sudah lama mengabdi di perusahaan Nugraha dan cukup dekat dengan ayahnya Naufal dulu.
Tapi Surya malah mengkhianati mereka dengan cara memanipulasi. Rasanya pun saat melakukan itu dia seperti tidak sadar. Akhirnya Surya menangis dan langsung membuka ponselnya untuk menghapus akun miliknya.
….
Malam ketika terjadinya pembunuhan.
Surya menghela napas panjang dan melihat semua tumpukan berkas yang ada di mejanya. Dia baru teringat jika ada sebuah dokumen yang harus di ambil di dalam gudang. Pria paruh baya itu pun melangkahkan kakinya menuju gudang tersebut.
Namun saat di sana, dia berjumpa dengan Silvi. Setelah sedikit berbincang dengan wanita itu, akhirnya Surya masuk ke dalam sambil mencari-cari dokumen yang ingin di ambilnya.
Selang sekitar 20 menit Surya di dalam karena cukup sulit untuk menemukan dokumen itu, tiba-tiba saja dia mendengar suara dobrakan yang cukup kuat dari sebuah jerjakan seperti ventilasi yang terletak di sudut ruangan.
Surya menoleh dan mendapati seseorang berpakaian serba hitam keluar dari sana dengan pisau yang berada di genggamannya.
“ Siapa kamu?! ” teriak Surya.
“ Tenang pak, ini saya kok,” jawab pria itu sambil membuka penutup wajahnya.
“ Kamu?! ”
“ Hey pak Surya, kenapa anda batalin kerja sama kita? Bukannya kita sudah berjanji? ”
“ Saya minta maaf sebelumnya, tapi setelah dipikir-pikir itu perbuatan yang salah.”
“ Perbuatan yang salah ya…”
Dengan langkah cepat, pria itu pun langsung mendekati Surya dan menusukkan pisaunya tepat di leher Surya sehingga membuat Surya menjerit kesakitan.
“ Aggh a-aggrh!”
“ Itu gak salah pak, yang salah itu kalau kita hanya diam dan tidak merebut kekuasaan.”
Pria itu tidak berhenti menusukkan pisau tersebut dan dia melakukan itu berulang-ulang kali sampai Surya tak sadarkan diri, lalu setelahnya mencampakkan mayat Surya ke bawah.
“ Selamat jalan, pak Surya.”
BERSAMBUNG.
__ADS_1