
Mentari pagi sudah menampakkan dirinya, suara ayam jantan pun terdengar, membangunkan semua orang yang sedang asik bermain di alam mimpinya. Secara perlahan, Vanka membuka matanya dan membiarkan sinar matahari masuk ke dalam netranya.
Vanka mengerjap. Sejak kapan dia terbaring di tempat tidur? Seingatnya tadi malam dia tertidur di meja rias.
“ Kalau udah bangun langsung mandi.”
Suara Naufal mengagetkan dirinya. Vanka pun menoleh dan mendapati Naufal yang tengah memakai kemejanya. Pria itu sedang bersiap-siap untuk pergi ke kantor.
“ Memangnya skripsi kamu udah selesai ya? ” tanya Vanka sambil merapikan tempat tidur.
“ Udah, tinggal revisi satu kali lagi.”
Vanka hanya mengangguk. Dia beranjak dan membuka kopernya yang masih terletak di bawah untuk mengambil handuk dan pakaian.
“ Van..”
Vanka menoleh pada Naufal yang tadi memanggilnya. Kini Naufal tengah menatap wanita itu dengan tatapan serius. Seperti ada hal yang benar-benar harus disampaikan.
“ Jangan pernah cerita ke siapapun tentang kejadian ini.”
Vanka mengernyit. “ Termasuk pernikahan? ”
“ Ya, termasuk pernikahan. Karena kita akan menikah secara diam-diam.”
….
Suara berat langkah seorang pria terdengar di lorong sebuah perusahaan. Pria itu membawa sebuah koper hitam yang berada di genggaman tangannya. Dan setelah sampai ke tempat tujuan, pria itu langsung mengetuk pintu yang berada di hadapannya selama tiga kali.
Hingga tak lama kemudian ada suara pria lain yang mengizinkannya untuk masuk. Dia masuk dengan langkah pelan, kemudian berdiri di hadapan seorang pria muda yang sedang duduk santai di kursi kerjanya sambil menghisap batang rokoknya.
“ Selamat pagi pak,” ucap pria paruh baya itu.
“ Hahaha, kamu beneran cepat banget ya datangnya. Ini masih jam enam pagi.”
“ Tapi anda yang menyuruh saya untuk datang di jam segini.”
“ Baik, kamu membawa apa yang saya suruh?”
“ Saya membawanya.”
Pria paruh baya itu langsung meletakkan sebuah koper hitam yang dipegangnya tadi ke atas meja. Tanpa basa-basi, orang itu langsung bangkit dari duduknya dan membuka koper tersebut.
Manik matanya berbinar melihat beberapa gepok uang yang tersusun rapi di dalam sana. Orang itu tersenyum penuh kemenangan, pagi ini dia merasa sangat puas.
“ Bagus,” ucapnya sembari mengeluarkan sebuah amplop dari dalam saku jas yang dikenakannya.
“ Upah kamu.”
Orang itu melemparkan sebuah amplop cokelat tersebut ke arah pria paruh baya itu.
“ Terima kasih, senang bisa bekerja sama dengan anda.”
__ADS_1
….
Waktu menunjukkan pukul 12 siang, dan Vanka baru menyelesaikan sedikit tugasnya. Entah kenapa hari ini dia tidak bisa berpikir jernih.
“ Udah Van nanti aja lanjutnya, kalau gak sanggup bisa bagi ke aku biar aku yang kerjain,” ucap salah seorang karyawan wanita.
“ Makasih banyak mbak,” jawab Vanka sambil tersenyum.
“ Oke, ngomong-ngomong aku duluan ya. Kamu jangan lupa makan siang,” ucap wanita itu kemudian berlalu.
Benar, Vanka sampai lupa jika sekarang sudah jam makan siang. Dia pun berjalan ke luar ruangan, dan secara tidak sengaja berpapasan dengan Naufal.
“ Siang,” ucap Vanka kepada pria itu. Namun, Naufal hanya menoleh sekilas dan tidak menjawab.
Vanka melihat punggung lebar Naufal yang kini sudah berlalu. Vanka mengernyit, ada apa dengan pria itu? Atau mungkin dia sedang banyak masalah? Ah benar, masalah di kantor memang cukup rumit. Terlebih lagi perusahaan sedang dalam masa-masa kritis. Vanka jadi cemas, apakah nanti dia tetap akan mendapat uang saku atau tidak.
Vanka melangkahkan kakinya ke kantin perusahaan. Dia hanya sekedar memesan susu hangat dan sebungkus roti. Baginya itu sudah cukup untuk mengganjal perut.
Namun tiba-tiba saja ponsel wanita itu berdering. Vanka menghela napas pelan setelah mengetahui siapa yang menelfonnya.
“ Halo? ”
“ Vanka! Alhamdulillah akhirnya kamu angkat juga telfonnya.”
Bian terdengar sangat bersyukur saat wanita itu mengangkat panggilan masuknya.
Vanka tersenyum. “ Makasih ya udah khawatir.”
“ Sekarang kamu dimana? ”
“ Tunggu sebentar, aku kesana.”
Vanka membelalak. “ Gak usah Bian! Aku gak apa-apa kok, tenang aja.”
Tidak ada jawaban dari sebrang sana. Vanka sudah yakin jika pria itu tidak percaya makanya dia tidak menjawab perkataan Vanka.
“ Serius Bian, aku gak apa-apa,” ucap Vanka meyakinkan.
“ Yaudah kalau gitu nanti sore aku jemput di rumah, temani aku be—”
“ Jangan! ” Vanka setengah berteriak.
Membuat orang yang berada di kantin sedikit terkejut.
“ Kenapa? ”
“ Aku..aku sibuk. Iya sibuk, mau ngerjain laporan sama kerjaan yang belum tuntas.”
Terdengar helaan napas berat pria itu. Vanka menggigit bibir bawahnya, dia sangat berharap semoga saja Bian percaya dan tidak jadi datang ke rumahnya.
“ Oke, kalau gitu aku tutup telfonnya.”
__ADS_1
Akhirnya panggilan tersebut terputus juga dan membuat Vanka sedikit lega. Bukannya dia tidak mau menjumpai pria itu, tapi dia malu. Sebenarnya Vanka juga ingin berjumpa dengan Bian, namun wanita itu sudah bertekad untuk melupakannya, jadi dia tidak bisa bertemu dengan Bian. Dia takut jika melihat wajah Bian akan membuatnya kesulitan untuk melupakan pria itu.
….
Alunan melodi yang melantun merdu di sebuah restoran membuat para pengunjung sangat menikmatinya dan memberikan kesan damai bagi setiap orang yang mendengarnya. Tapi hal itu tidak berlaku pada Cecile. Wajahnya tertekuk dan tatapan matanya tajam.
Cecile tengah menunggu Naufal yang tak kunjung menunjukkan batang hidungnya. Telfon tidak angkat dan pesan juga tidak di balas membuat wanita itu sangat kesal terhadap Naufal. Cecile tau pria itu sangat sibuk, tapi tak biasanya Naufal seperti itu. Wanita itu bahkan sempat kepikiran jika Naufal masih marah padanya.
“ Maaf lama nunggu.”
Naufal langsung duduk di depan Cecile sambil menyisir rambutnya ke belakang.
“ Aku udah nunggu satu abad.”
“ Jangan lebay.”
Cecile menghela napas kasar. Tapi jika sudah melihat wajah Naufal, itu cukup membuat moodnya lebih baik.
“ Ada yang mau aku kasih tau.”
Cecile menautkan kedua alisnya. Ucapan Naufal terdengar seperti sedang serius.
“ Mau ngasih tau apa? ”
“ Besok aku akan menikah.”
Prangg!
Sebuah gelas yang terletak di atas meja langsung terjatuh karena tersenggol lengan milik Cecile. Wanita itu sangat terkejut mendengar ucapan pria yang sedang duduk di hadapannya.
Pelayan di sana yang mendengar suara gelas jatuh pun segera mengahampiri meja mereka berdua.
“ Maaf nyonya, tapi—”
“ Tolong tinggalkan kami sebentar.”
“ Baik, maaf menganggu.”
Cecile menutup matanya. Mencoba untuk menahan emosinya.
“ Jadi dengan siapa kamu menikah? ”
“ Vanka,” jawab Naufal singkat.
“ Vanka?! Perempuan itu? Mantannya Bian dan anak magang yang ada di perusahaan ka—”
Naufal menggenggam tangan Cecile dan membuat wanita itu terdiam. “ Dengar dulu, aku belum selesai bicara.”
“ Aku menikah sama Vanka, karena terlibat dalam taruhan. Algar menjanjikan sebuah saham jika salah satu dari kami berhasil menikahi perempuan itu.”
Cecile mengernyit. “ Salah satu dari kami? ”
__ADS_1
“ Aku dan Bian. Demi mendapatkan kembali keuntungan perusahaan, aku harus menikah dengan Vanka.”
BERSAMBUNG...