Menikah Karena Taruhan

Menikah Karena Taruhan
Bersikap Dingin


__ADS_3

Naufal memasuki sebuah rumah yang sangat megah, bahkan luas rumah itu melebihi rumahnya sendiri. Naufal mendudukkan dirinya di sofa bewarna merah dengan banyak beludru-beludru di kedua lengan sofa tersebut.


“ Minuman kaleng aja ya,” ucap Algar sambil melemparka cola.


“ Makasih,” jawab Naufal kemudian langsung meneguk minuman itu.


Algar duduk di depan Naufal dan menatap pria itu dari atas hingga ke bawah.


“ Ngeliat apa? ”


“ Baju baru kamu ya.”


Naufal terkekeh pelan. “ Emangnya kamu absenin baju-baju aku ya? Sok tau banget."


“ Iya deh iya.”


“ Ngomong-ngomong, ibumu masih di Jerman? ”


“ Masih, dia juga katanya mau tinggal di sana aja.”


Ibu kandungnya Algar memang berada di Jerman karena mengurus perusahaan mereka di sana. Hal itu terjadi ketika tiga tahun yang lalu, ayahnya Algar bunuh diri karena terlibat kasus korupsi. Dan dari sanalah ibunya memilih untuk tinggal di Jerman.


Dan satu hal lagi, jangan berpikir jika Algar, Naufal , dan Bian hanya memiliki satu perusahaan. Mereka bertiga punya saham dimana-mana. Termasuk Naufal sendiri, Nugraha memiliki saham di Amerika Serikat. Dan itu adalah kartu as mereka.


“ Widya mana? ” tanya Naufal.


“ Tadi pagi baru aku anter pulang.”


“ Kenapa gak langsung nikahi dia aja kalau kalian udah sering tinggal satu rumah? ”


“ Ya nanti-nanti,” jawab Algar sambil meneguk colanya.


“ Nanti-nanti apa karena banyak selirmu? ”


Algar menggeleng pelan lalu tersenyum jahil.


“ Terus kamu gimana? Udah ada rasa cinta sama Vanka? ”

__ADS_1


Naufal terdiam. Entah kenapa rasanya dia susah sekali menjawab pertanyaan itu.


“ Oke aku wakilkan jawabanmu. Pasti belum kan ya? Apalagi Cecile kembali di kehidupanmu.”


Algar tertawa meledek dan Naufal mengehela napas pelan.


“ Udah ah gak usah bahas itu. Saham mana saham,” ucap Naufal sambil menadahkan tangannya.


“ Buset, to the point banget.”


Algar bangkit dari duduknya, dan segera berjalan masuk ke dalam kamarnya. Naufal tersenyum puas, akhirnya saham yang sudah lama diperebutkan itu jatuh di tangannya.


“ Sedikit berdebu, karena terlalu lama disimpan.”


Algar mendudukkan dirinya kembali sambil mengusap-usap sebuah amplop cokelat itu. Naufal tersenyum saat Algar dengan perlahan membuka amplop tersebut dan mengeluarkan isinya. Rasanya bau-bau uang sudah masuk ke dalam hidung pria itu.


“ Tapi Fal..” ucap Algar sambil melirik ke arah Naufal.


“ Apaan? Oh iya kamu mau timbal balik kan? ”


Algar menjentikkan jarinya. “ Tepat! ”


“ Bukan, tapi sesuatu yang lebih menarik,” ucap Algar sambil mencondongkan badannya.


Naufal mengernyit. “ Apa itu? ”


“ Sertifikat saham international yang ada di Amerika.”


….


Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam dan Vanka langsung melemparkan tasnya di sofa ruang keluarga. Dia juga segera membaringkan tubuhnya di sana. Vanka mendengus, lagi-lagi Naufal belum pulang.


Wanita itu merasa lelah dan tidak tau harus ngapain. Namun kemudian Vanka memilih untuk mengambil remot televisi yang terletak di atas meja. Vanka kembali mendengus ketika tidak menemukan acara yang menarik. Kebanyakan acara berita, jujur Vanka tidak suka menonton berita.


Tapi ketika asik membolak-balikkan channel, sekilas Vanka tak sengaja melihat bacaan Nugraha di sebuah acara berita. Vanka langsung duduk dan melihat berita tersebut.


Lagi-lagi muncul kasus pembunuhan yang berasal dari perusahaan Nugraha. Diketahui korban bernama Surya yang merupakan asisten direktur di perusahaan tersebut. Namun sampai sekarang pelaku masih belum diketahui dan polisi juga sedang berusaha untuk mencari pelaku.

__ADS_1


“ *Apa ada bukti yang ditinggalkan pelaku? ”


“ Ada, sebuah pisau*.”


Vanka buru-buru mengambil ponselnya karena secara tidak sengaja menangkap wajah Silvi yang absurd saat berada di samping Dafa yang sedang di wawancara.


Namun seketika raut wajah Vanka yang tadinya gembira menjadi terlihat panik. Karena dia juga melihat dirinya tak kalah absurd sedang berjalan di belakang Silvi dan Dafa.


“ Apa-apaan itu wajahku beneran kayak babu huaaa! ”


Vanka menghentakkan kakinya karena tidak terima jika wajahnya sangat jelek. Padahal kesempatan untuk masuk TV, tapi wajahnya malah seperti itu. Yah memang jika siang tadi pihak stasiun televisi datang untuk mewawancarai perusahaan.


Sebenarnya mereka ingin berbicara dengan direkturnya langsung, namun pada saat itu Naufal sedang tidak ada dan mau tidak mau Dafa yang menggantikan, karena Cecile masih baru dan belum mengetahui apa-apa tentang kejadian itu.


“ Apakah ada kemungkinan jika Giovano yang melakukan ini lagi? ”


Deg!


Vanka kembali melihat televisi dan sekarang dia benar-benar fokus. Kemana saja dia tadi sampai tidak mendengar reporter menyebutkan nama Giovano.


Tapi tunggu, apa tadi yang di dengarnya? Melakukan ini lagi? Apa berarti Giovano pernah melakukan kesalahan yang sama?


“ Bukti masih belum kuat saat ini, kita tunggu saja perkembangan selanjutnya.”


Tiba-tiba saja manik mata wanita itu melihat seperti ada siluet seseorang di dapur.


Dan ketika Vanka menoleh, benar saja, ternyata Naufal sudah pulang. Vanka memegangi dadanya karena dia sangat jantungan.


Dia berpikiran jika tadi itu adalah hantu atau orang yang iseng. Vanka baru teringat kalau pintu dari garasi terhubung masuk ke dalam.


“ Nonton apa? ” ucap Naufal dan dia berdiri di belakang wanita itu.


Vanka menoleh. “ Berita, tadi ada wawancara di kantor tapi kamunya gak ada. Kemana sih? Terus kemarin juga kamu kemana sampai gak pulang seharian? Coba jelaskan sama a—”


Vanka terdiam karena Naufal langsung berjalan ke kamarnya.


“ Itu bukan urusan kamu.”

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2