
Vanka termenung di meja kantornya. Dia mengingat percakapan Bian dan Naufal tadi pagi. Apa maksudnya mundur? Kenapa Naufal menyuruh Bian untuk mundur dan dalam hal apa? Entahlah, Vanka pun menghela napasnya pelan kemudian melanjutkan pekerjaannya.
“ Eh kalian tau kalau pak Naufal udah menikah? ”
Vanka langsung menghentikan ketikannya. Dan fokus untuk mendengar pembicaraan para karyawan wanita itu.
“ Hah menikah? ”
“ Tapi masa iya sih? Kok kita gak tau? ”
“ Kamu tau darimana? Jangan bohong deh.”
“ Tadi pas nganter berkas, aku liat cincin di jarinya.”
Spontan Vanka langsung menurunkan tangannya dan menutupi cincin nikahnya. Dia lupa jika sudah memakai cincin kawin.
“ Mainan doang kali.”
“ Gak mungkin! Masa direktur pakai cincin mainan yang dijual di pasar malem.”
Para karyawan wanita itu masih saja berbincang mengenai konspirasi apakah Naufal memang menikah atau tidak.
Padahal istri pria itu jelas-jelas berada di samping mereka. Vanka hanya menggeleng pelan dan melanjutkan tugasnya.
“ Van, tolong ambilkan berkas tahun lalu di gudang utama.”
Vanka menoleh pada Silvi yang sudah bersandar di meja kerja wanita itu. Silvi memberikan sebuah kunci pada Vanka dan wanita itu segera mengambilnya.
“ Siap mbak.”
“ Minta tolong ya Van. Kerjaanku masih numpuk tuh,” tunjuk Silvi ke arah meja kerjanya menggunakan sebuah pulpen.
“ Gak apa-apa kok mbak, tenang aja. Saya permisi dulu.”
….
Vanka berjalan sambil memasukkan tangannya di saku blazer. Wanita itu pun bernyanyi pelan, entah kenapa rasanya dia ingin sekali bersenandung.
“ Pagi Vanka,” ucap salah seorang karyawan.
“ Pagi juga,” jawab Vanka sambil tersenyum.
Hingga beberapa menit kemudian dia menghentikan langkahnya di depan gudang tempat dokumen-dokumen penting tersimpan. Vanka memasukkan kunci ke dalam lubang, namun pada saat yang bersamaan dia mengernyit.
__ADS_1
“ Eh? Kok gak dikunci? ”
Dengan perlahan tangan wanita itu memegang gagang pintu dan membukanya. Benar, ternyata memang tidak dikunci.
Vanka menggedikkan bahunya, mungkin saja tadi malam Silvi lupa mengunci pintunya. Karena memang yang bertanggung jawab untuk mengunci pintu tersebut adalah Silvi.
Wanita itu melangkahkan kakinya masuk ke dalam dan menghidupkan saklar lampu.
Mulai terlihatlah barisan rak demi rak seperti di perpustakaan. Vanka berjalan menelusuri rak pertama, mencoba-coba untuk menemukan dokumen yang dimaksud.
Namun ketika dia ingin berjalan ke rak kedua, indra penciumannya mencium sesuatu yang aneh.
Mungkin, seperti bau anyir.
Vanka berjalan dengan pelan, dan menajamkan penciumannya. Dia melihat sekeliling ruangan, berusaha untuk menemukan sesuatu yang membuatnya curiga. Awalnya Vanka berpikir jika bau itu berasal dari berkas-berkas lama. Namun sepertinya tidak. Baunya aneh dan sedikit amis.
Ketika kakinya masih terus melangkah hingga sampai di rak ke empat, tiba-tiba saja ujung sepatunya seperti menyenggol sesuatu. Vanka menunduk pelan, mencoba untuk melihat benda apa yang barusan disenggolnya.
Seorang pria paruh baya tergeletak di lantai dengan darah yang bergelinang banyak. Sebuah pisau tajam masih setia menempel di leher pria paruh baya itu. Matanya pun masih terbuka dan menatap ke atas langit-langit.
Manik mata Vanka membulat sempurna ketika melihat mayat Surya, sang asisten direktur tidak sadarkan diri. Vanka langsung mundur secara perlahan sambil menggeleng tidak percaya. Apa yang barusan dilihatnya, semoga ini tidak benar.
“ TOLONG!!! ”
….
“ Kenapa tatapan kalian seperti itu? Saya berani bersumpah bukan saya pelakunya! Lagian buat apa saya membunuh pak Surya..” lirih wanita itu. Kakinya lemas sehingga dia terduduk di lantai.
“ Jangan asal menuduh, coba kita dengarkan dulu penjelasan mbak Silvi gimana kronologinya sampai pintu bisa gak dikunci,” ucap salah seorang staff wanita yang menenangkan Silvi.
Vanka masih diam dan duduk di sebuah kursi bersama dengan staff lainnya. Mereka berusaha untuk menenangkan Vanka karena wanita itu pastinya sangat terkejut.
“ Baik, akan saya jelaskan.”
*Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam dan pegawai yang masih tersisa hanyalah Silvi seorang. Sudah biasa ini terjadi jika salah satu pegawai ada yang pulang telat karena lembur. Apalagi mengingat pekerjaan staff administrasi sangat sulit untuk menghitung-hitung angka perusahaan.
Silvi menguap dan merenggangkan otot-ototnya. Jujur saja dia sangat lelah dan ingin pulang ke rumah. Manik mata Silvi melihat salah satu dokumen di atas meja kerjanya.
Sial, dia lupa memulangkan berkas tersebut ke dalam gudang. Sebenarnya Silvi ingin besok saja mengembalikan itu, tapi dia merasa sepertinya jika sekarang lebih baik. Akhirnya mau tidak mau Silvi beranjak dan segera ke ruangan tersebut.
Ketika sudah selesai dengan tanggung jawabnya, Silvi langsung menutup pintu ruangan itu dan hendak menguncinya. Namun, perkataan seseorang mengejutkannya dan membuat Silvi menoleh ke belakang.
“ Sil, jangan dikunci.”
__ADS_1
Silvi memegangi dadanya karena dia pikir ada yang sedang menjahili. Namun ternyata yang memanggil tadi adalah pak Surya.
“ Bapak kok belum pulang? ”
“ Kamu pikir kamu saja yang banyak kerjaan?”
Ah benar, lebih banyak hal yang harus diselesaikan oleh asisten direktur.
“ Saya mau ambil dokumen di dalam. Kamu langsung pulang aja.”
“ Oh kalau gitu ini kuncinya pak,” jawab Silvi sambil menyerahkan kunci ditangannya.
“ Kan saya juga pegang kunci sendiri,” ucap Surya lalu mengeluarkan sebuah kunci dari dalam saku celananya.
Silvi menepuk keningnya. “ Oh iya saya lupa, ya sudah saya permisi dulu ya pak. Selamat malam.”
Tak lama kemudian Silvi berlalu dan langsung pulang ke rumah*.
Setelah mendengar penjelasan Silvi, semuanya baru mengangguk percaya. Mereka baru menyadari jika bukan hanya Silvi yang memegang kunci ruangan penting tersebut. Satpam yang bertugas di pos langsung datang ketika ada yang melaporkan kejadian itu.
“ Sudah cek CCTV pak? ”
“ CCTV kan sudah mati dari jam tujuh malam neng.”
“ Kemarin malam ada gerak-gerik yang mencurigakan atau tidak? ”
“ Gak ada neng. Tadi saya juga sudah cek pagar belakang dan jendela belakang gudang. Tapi gak ada yang aneh, semuanya tertutup rapat.”
Hingga beberapa menit kemudian, para polisi keluar dari ruangan itu. Semua staff menatap jasad Surya yang sudah dibungkus dengan tatapan sedih. Mereka tidak percaya jika kejadian pembunuhan ini terulang lagi.
“ Bukti ini mau kami yang menyimpannya atau kalian? ” tanya salah seorang polisi sambil memegang plastik putih yang di dalamnya terdapat sebuah pisau.
“ Sebentar pak.”
Dafa selaku kepala bagian pemasaran yang cukup dekat dengan Naufal, langsung angkat bicara dan mengambil bukti tersebut. Dia melihat pisau itu dengan jelas dan menemukan sebuah kode di ujung tungkunya.
“ 2.6.8 ” gumam pria itu.
Vanka mengernyit. Maksudnya apa?
“ Biar kami saja yang menyimpan buktinya pak. Setelah menghubungi direktur, kami akan segera menginformasikan lebih lanjut pada pihak kepolisian.”
BERSAMBUNG...
__ADS_1