
Vanka melihat pantulan dirinya di cermin kamar mandi sambil memegang sebuah alat yang baru saja dibelinya kemarin. Wanita itu menghela napasnya sambil tertunduk dengan kedua tangan yang masih memegang sisi wastafel. Entah ini berita baik atau buruk, yang jelas Vanka sekarang merasa bingung.
Alat tersebut menunjukkan adanya dua garis biru. Itu berarti Vanka sekarang positif mengandung. Padahal dia berharap jika itu adalah sakit biasa, namun kenyataannya itu adalah gejala-gejala orang yang sedang hamil.
Sejujurnya dia bingung apakah harus senang atau tidak. Terlebih lagi dia membayangkan bagaimana ekspresi Naufal ketika mengetahui dia sedang hamil. Tapi mau tidak mau, Vanka juga harus memberitahu pria itu.
“ Fal.”
Vanka melihat Naufal yang sudah duduk di tempat tidur dan masih bertelanjang dada. Wanita itu pun menghampiri Naufal lalu berdiri di hadapannya sehingga membuat Naufal mendongak.
“ Kenapa hm? ”
“ Aku hamil,” jawab Vanka gugup sambil menundukkan kepalanya. Dia tidak bisa menatap mata Naufal sekarang.
“ Kamu hamil? ”
Vanka mengangguk pelan, kemudian pinggang wanita itu langsung ditarik oleh Naufal dan membuat Vanka sedikit terkejut. Pria itu memeluk Vanka dan menenggelamkan wajahnya di perut wanita itu sambil sesekali menciuminya.
“ Aku senang.”
“ Ka-kamu senang? ”
“ Masa aku gak senang kalau kamu hamil. Kan itu anak aku.”
Vanka tersenyum lebar, dia pun memeluk Naufal sambil mengelus rambut pria itu. Dan tanpa mereka sadari, Cecile sedari tadi sudah menguping pembicaraan mereka di depan pintu dengan tangan yang menggepal kuat.
….
Silvi berjalan di koridor perusahaan sambil membawa setumpuk berkas di tangannya. Hingga tak lama kemudian wanita itu mengetuk ruangan Naufal dan membukanya perlahan karena tidak ada jawaban.
“ Loh? Mbak Cecile? ”
Silvi mengernyit ketika melihat Cecile yang sedang duduk di ruangan Naufal. Yah memang Silvi mengetahui jika Cecile adalah asisten direktur yang baru, namun bukannya sedikit tidak sopan jika duduk di meja kerja seorang bos sambil mengotak-atik komputernya?
“ O-oh mbak Silvi ternyata,” jawab Cecile dan dia langsung bangkit dari duduknya.
“ Iya mbak, saya mau nyerahin laporan.”
“ Oke, letak aja di meja. Mungkin Naufal datang sebentar lagi karena dia lagi keluar sebentar.”
__ADS_1
Silvi mengangguk dan segera meletakkan laporan tersebut. Namun pada saat itu juga dia salah fokus terhadap perut Cecile. Apa mbak Cecile sudah menikah ya pikirnya. Tapi Silvi tidak ingin terlalu mencampuri urusan orang lain dan dia memilih untuk pamit.
“ Kalau begitu saya keluar dulu ya mbak, masih ada kerjaan.”
“ Oke, selamat bekerja.”
Cecile tersenyum ramah, dan setelah Silvi sudah benar-benar keluar dari ruangan itu, Cecile menghela napas panjang.
Hah..untung aja.
….
Sebuah layar proyektor menampilkan gambaran grafik mengenai peningkatan dan penurunan saham dari perusahaan Giovano. Bian selaku direktur utama berdiri di hadapan para karyawannya. Kini mereka semua sedang melakukan rapat.
“ Saya tau karena bukan hanya saya saja yang heran dengan penurunan kita kali ini, tapi kalian juga sudah pasti bingung ada apa dengan angka perusahaan.”
“ Beberapa hari yang lalu, saya sudah mengecek ulang laporan dari kuartal pertama dan hasilnya tidak ada yang mencurigakan.”
Namun tiba-tiba saja ada salah seorang karyawan yang mengangkat sebelah tangannya.
“ Maaf pak, saya izin bertanya.”
“ Apa bapak sudah melihat bandingan tahun lalu? Atau tahun-tahun sebelumnya sewaktu perusahaan kita masih berada di peringkat pertama? ”
“ Oke, saya sudah melihat bandingan itu dan hanya selisih beberapa persen saja. Kemarin saya sudah bertanya dengan pak Louis selaku asisten direktur dan dia—”
“ Maaf pak kalau saya lancang memotong, tapi kapan terkhir kali pak Louis menyerahkan laporan kuartal kedua? ”
“ Dua hari yang lalu.”
“ Seharusnya akhir penyerahan laporan keuangan kuartal kedua akhir Juli, tapi kenapa anda bisa telat pak Louis? ”
“ Kamu salah paham. Saya telat menyerahkan karena saya mengecek ulang dengan teliti.”
Bian memijit pelipisnya ketika kedua anggotanya beradu mulut. Hal inilah yang tidak disukainya selama rapat. Karena sudah pusing, akhirnya Bian memutuskan untuk melanjutkan rapat esok hari. Tapi benar juga, seperti ada yang janggal pikirnya.
….
Naufal memijit pelipisnya dan dia memutar-mutar kursi kerjanya sambil memainkan sebuah pulpen di tangannya. Pria itu sangat pusing bagaimana bisa saham di perusahaan ini turun sementara labanya naik? Baik, dia memang mengetahui jika hal ini biasa terjadi akibat kelalaian pemeriksa data atau kinerja dari perusahaan itu sendiri kurang.
__ADS_1
Tapi setelah Naufal mengevaluasi ulang, rasanya tidak. Pria itu merasa sudah sangat teliti dalam memeriksa laporan setiap tanggal penutupan dan juga dia merasa jika kinerja orang-orang di kantor tidak ada masalah.
Walapun ada satu orang yang kerjanya seperti main-main, dia adalah Cecile. Naufal mengira jika Cecile akan benar-benar membantunya dengan menjabat sebagai asisten direktur, namun dia salah. Justru Cecile tidak terlihat seperti membantu dan hanya menyusahkannya.
Kini Naufal merasa sangat menyesal karena menjadikan Cecile sebagai asisten direktur dan apalagi wanita itu juga sedang hamil, sama seperti Vanka saat ini. Namun entah kenapa dia sangat senang mendengar jika Vanka sedang mengandung. Karena pria itu yakin, jika anak yang sedang di kandung Vanka itu adalah darah dagingnya.
Berbeda dengan Cecile yang tau-tau perutnya sudah membesar. Naufal memang pernah bermain dengan Cecile, namun pada malam itu dia juga seperti merasa ada yang ganjal. Karena sewaktu itu, Naufal merasa jika Cecile sudah tidak perawan lagi.
Tok! Tok! Tok!
Naufal terperanjak dari lamunannya karena mendengar suara ketukan pintu. Dia pun langsung menyuruh seseorang itu untuk masuk.
“ Selamat siang pak,” Vanka berjalan mendekati meja pria itu sambil tersenyum.
Bukannya menjawab perkataan Vanka, Naufal justru menarik tangan Vanka dan membuat wanita itu jatuh terduduk di pangkuan pria itu.
“ Kamu ada ngidam gak? ” tanya Naufal sambil mengelus perut Vanka.
Pipi wanita itu memerah seperti kerang rebus. Jujur saja dia belum terbiasa dengan perlakuan manis Naufal.
“ Fal, udah dong, kita lagi di kantor. Nanti kalau mbak Silvi tiba-tiba masuk kita jadi bahan gibah.”
“ Ya gak apa-apa, biar sekalian orang kantor tau dan gak ada yang ditutupi lagi,” jawab Naufal sambil menumpu wajahnya di bahu Vanka.
“ Fal, tadi mbak Silvi gak sengaja nemu ini di ruangannya mbak Cecile.”
Naufal mengernyit ketika melihat Vanka sedang merogoh sesuatu dari dalam saku roknya. Hingga tak lama kemudian wanita itu memegang sebuah benda bewarna putih yang diketahui itu adalah flashdisk.
“ Punya siapa? ” tanya Naufal lalu mengambil benda tersebut dari tangan Vanka.
“ Aku gak tau, tapi itu kayaknya punya mbak Cecile karena tadi mbak Silvi bilang—”
Ddrrtt..ddrrt…
Ponsel Naufal yang terletak di meja kerjanya bergetar dan pria itu mengangkat panggilan tersebut. Naufal mengehela napas panjang saat tau yang menelfonnya adalah Algar.
“ Halo—”
“ Besok kita bisa ketemu? Aku perlu tanda tanganmu.”
__ADS_1
BERSAMBUNG.