
Bel sekolah berbunyi menandakan waktu isitrahat telah dimulai. Satu per satu murid keluar dari dalam kelas untuk menuju ke kantin. Ada yang ke lapangan bermain basket, ataupun hanya sekedar mengobrol di bawah pohon yang rindang.
Vanka tersenyum saat melihat mereka semua. Rasanya dia ingin sekali memakai seragam putih abu-abu itu lagi. Bian yang berjalan di sebelah Vanka pun melihat wanita itu sambil tersenyum. Ya mereka berdua juga dulu pernah melakukan hal-hal itu.
Hingga secara tidak sengaja, keduanya bertemu dengan guru mereka dulu.
“ Selamat siang bu,” ucap Vanka sambil menjabat tangan guru tersebut. Hal itu juga dilakukan oleh Bian.
“ Selamat siang, eh Vanka dan Bian bukan?”
Keduanya mengangguk.
“ Ya ampun rasanya udah lama sekali ya,” ucap guru mereka sambil menepuk pundak keduanya.
“ Iya bu. Oh iya ngomong-ngomong ibu sehat kan? ” tanya Vanka.
“ Saya sehat kok. Kalian berdua gimana? ”
“ Alhamdulillah sehat,” ucap mereka berdua serentak. Seketika itu juga Vanka mengalihkan pandangannya.
“ Masih kompak aja nih ceritanya. Balikan ya? ” goda guru tersebut.
Dulu Vanka memang sering curhat dengan beliau. Makanya dia tau dengan apa yang pernah terjadi antara Vanka dan Bian.
“ Eh-enggak! ” elak Vanka secepatnya. Sementara Bian hanya diam.
“ Iya deh iya Van, gak usah malu gitu,” tapi kemudian beliau teringat akan sesuatu dan langsung menatap Bian.
“ Bian, kamu penerus Giovano kan? ”
“ Iya bu, saya penerusnya.”
“ Terus pimpinan yang lama bagaimana? ”
“ Ayah saya sudah sakit-sakitan.”
“ Mantan asisten direkturnya? Masih di penjara? ”
Bian tersenyum simpul. “ Di isolasi di rumah sakit jiwa. Sekalian dalam masa pertahanan.”
Vanka mengernyit. Hah? Siapa?
Guru mereka menggeleng pelan dan raut wajahnya menampakkan belas kasihan.
“ Kasihan ya, padahal belum tentu dia yang salah. Sebenarnya kasus itu juga masih ngambang dari dua tahun yang lalu.”
“ Maaf bu, tapi kasus ap—”
“ Baru-baru ini asisten dari perusahaan Nugraha juga tewas. Dan mereka mencurigai Giovano lagi, bagaimana bisa itu Bian? ”
Manik mata beliau mulai serius sampai-sampai dia memotong perkataan Vanka. Beginilah jika ibu rumah tangga sudah berbicara mengenai topik hangat. Mereka bahkan rela berdiri sampai ber jam-jam. Contohnya saja guru Vanka dan Bian.
__ADS_1
“ Saya juga tidak tau bu. Memang ada sebuah bukti yang mengarah pada perusahaan saya, sama seperti dua tahun lalu. Tapi bukti tersebut juga tidak kuat karena pelaku meninggalkan bukti itu di lokasi kejadian.”
“ Oh ya? Eh tapi ngomong-ngomong, wajah kamu itu kenapa? ”
“ Gak apa-apa kok bu, cuma luka kecil.”
“ Bian ini masih sama seperti dulu ya Vanka, suka merendah,” ucap guru mereka pada Vanka yang tersenyum kecil.
Sejujurnya wanita itu kesal karena tidak tau apa-apa mengenai pembahasan mereka.
“ Ya sudah kalau gitu saya pamit dulu ya. Buat kamu Bian, apapun itu dan siapa yang bersalah, ya kamu harus tetap optimis sama perusahaanmu. Semoga saja pelaku bukan dari pihak Giovano.”
Bian mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Hingga tak lama kemudian guru mereka berlalu, dan mereka berdua juga melanjutkan langkah kakinya. Menuju tempat yang dulu sering mereka kunjungi. Dan di sanalah Vanka ingin Bian menjelaskan semuanya.
….
Naufal masih setia duduk di dalam mobilnya sambil menunggu seseorang keluar dari dalam sebuah perusahaan. Dia melirik sebuah amplop cokelat yang terletak di kursi sebelahnya. Naufal memukul kemudinya dan mengehela napas kasar.
Entah kenapa dia sangat ragu untuk memberikan amplop tersebut kepada Algar. Yah sekarang Naufal sedang menunggu Algar yang sebentar lagi akan keluar dari perusahaan. Pria itu sudah mendapatkan surat saham dari Algar, dan kini dia akan memberikan imbalannya.
Tak lama kemudian, Algar keluar dari dalam sana dan berjalan ke arah mobil Naufal. Sial, pergerakannya cepat sekali batin Naufal. Pria itu pun segera mengambil amplop tersebut dan menggenggamnya dengan sangat kuat.
“ Yo, maaf nunggu lama,” ucap Algar sambil duduk di sebelah Naufal.
“ Seharusnya lebih lama lagi.”
Algar tertawa sambil menggeleng pelan. “ Gak ikhlas ya? ”
“ Ngomong-ngomong Fal, kaca mobilmu gelapkan? ”
“ Gelap, udah tenang aja.”
“ Oke deh. Yaudah, mana sini sertifikatnya,” ucap Algar sambil menadahkan tangannya.
“ Sebelum itu aku mau nanya.”
Algar mengernyit. “ Apaan? ”
“ Sebenarnya kamu kenapa ngincar sertifikat ini? ” jawab Naufal sambil mengangkat amplop yang ada di tangannya.
Algar tersenyum. “ Pertanyaan kamu gak banget deh Fal. Udah jelas kan kalau semua investor bakal ngincar sertifikat luar negerimu itu.”
“ Tapi satu pesan aku Al, jangan ngotorin saham ini.”
“ Aman.”
Mereka berdua pun berjabat tangan pertanda jika sekarang sertifikat saham itu sudah menjadi milik Algar. Kartu as Nugraha sekarang telah berada di tangan orang lain.
….
Hembusan angin sore menerbangkan surai hitam Vanka. Wanita itu memasukkan tangannya di dalam saku blazer dan membiarkan angin bermain dengan rambutnya. Bian yang juga berdiri di samping wanita itu hanya bisa melihat Vanka sambil tersenyum. Mereka berdua tengah menginjakkan kakinya di atap sekolah.
__ADS_1
“ Dulu ingat gak waktu pertama kali aku nembak kamu di sini? ”
Vanka terkekeh. “ Gak mungkin aku lupa.”
“ Ingat gak, dulu kamu pernah mau bunuh diri di sini? ”
Pertanyaan tersebut langsung merubah raut wajah Vanka menjadi datar.
“ Gak usah dibahas.”
Bian tertawa lalu mengacak rambut Vanka. “ Maaf ya? ”
“ Iya iya aku maafin.”
Mereka berdua pun kembali diam. Bermain dengan pikiran masing-masing.
“ Van.”
“ Bi.”
Keduanya sama-sama menoleh, kemudian tertawa lepas.
“ Kamu dulu deh,” ucap Vanka.
“ Ladies first,” jawab Bian.
“ Hm..oke deh.”
Sebelum berbicara, Vanka menutup matanya terlebih dahulu, lalu menghadap Bian.
“ Maksud dari perkataan bu Siska tadi apa ya? Mengenai Giovano.”
“ Kamu gak lihat berita? Oh iya lupa, kamu kan gak suka nonton berita,” Bian terkekeh.
“ Ayo dong dijawab,” Vanka memelas.
“ Dua tahun lalu ayahnya Naufal tewas. Dan pelakunya adalah asisten direktur ayahku sendiri mengingat buktinya cukup kuat, walaupun masih ada sedikit yang ganjal. Tapi demi menyelesaikan kasus itu, akhirnya pak Daniel dipenjara dan dia jadi depresi terus ditahan di rumah sakit jiwa.”
Vanka tertegun setelah mendengar penjelasan panjang lebar dari Bian.
“ Terus kenapa Nugraha curiga lagi kalau yang bunuh pak Surya itu dari pihak Giovano?”
Bian tersenyum. “ Kamu tau kan jika kita telah melakukan sekali kesalahan, maka akan di ingat berulang kali.”
“ Benar juga,” ucap Vanka sambil tertunduk. Namun beberapa detik kemudian, Vanka teringat akan sesuatu.
“ Tapi aku dengar penjelasan dari mas Dafa kemarin, kalau bukti adalah sebuah pisau, dan juga ada sebuah kode di tungkunya. Maksudnya apa? ”
Bian melihat ke atas langit sambil menghela napas pelan.
“ Yah…kami punya kode itu masing-masing.”
__ADS_1
BERSAMBUNG.