Menikah Karena Taruhan

Menikah Karena Taruhan
Cemburu


__ADS_3

Mobil milik Bian terpakir di depan halaman rumah Naufal. Tapi setelah beberapa menit mereka turun, sebuah mobil bewarna hitam milik Naufal pun berhenti di belakang di mobil Bian. Hal itu membuat Vanka sedikit terkejut, namun tidak dengan Bian. Pria itu terlihat biasa saja.


“ Darimana kamu? ” ucap Naufal sambil membanting pintu mobilnya.


“ Bukan urusanmu.”


Bian terkejut dan Naufal membelalak. Vanka sendiri juga baru sadar atas ucapannya. Wanita itu langsung menutup mulutnya dan mengedarkan pandangan.


“ Masuk.”


Ketika Naufal ingin menarik tangan Vanka, Bian langsung menepis tangan pria itu.


“ Jangan kasar.”


“ Aku suaminya,” ucap Naufal tegas.


“ Karena kamu suaminya makanya jangan kasar,” balas Bian tak kalah tegas.


Tatapan mata keduanya terlihat tajam dan membuat Vanka yang berdiri di tengah-tengah mereka menjadi bergidik ngeri.


“ Bian, aku masuk dulu ya,” ucap Vanka sambil tersenyum.


Bian yang tadinya masih dikuasai oleh amarah langsung tersenyum ketika melihat wajah Vanka, dan itu membuat Naufal mendecih.


“ Yaudah, aku balik ya.”


Vanka mengangguk dan Bian masuk ke dalam mobilnya lalu segera melesat dari sana. Hingga tersisalah Naufal dan Vanka.


“ Masuk,” perintah Naufal.


“ Aku masih belum tau passwordnya.”


“ 122116,” balas Naufal dan dia berlalu pergi untuk memasukkan mobilnya ke dalam garasi.


Vanka pun segera berjalan ke arah pintu dan membukanya. Perkataan Bian tadi sore masih terus terngiang di kepala Vanka. Dia sama sekali tidak percaya jika Giovanolah yang menyebabkan ayahnya Naufal tewas.


Bahkan pelaku sampai depresi seperti itu. Logikanya saja, tidak mungkin kan sang pelaku menjadi gila akibat perbuatannya sendiri?


Yah memang ada kemungkinan seperti itu. Namun itu jarang terjadi, kecuali seseorang itu telah difitnah dan tidak bisa berbuat apa-apa, makanya bisa menimbulkan gangguan kejiwaan.

__ADS_1


Terus apa maksudnya kami punya kode masing-masing? Ah entahlah! Lebih baik aku tidur aja.


….


Pagi ini para karyawan mulai sibuk karena tugas mereka menumpuk. Terlebih lagi staff administrasi, beban mereka yang paling banyak karena tak henti merekap data-data perusahaan dan menghitung jumlah angka setiap bulannya.


“ Aku resign aja deh! ” ucap Silvi sambil meletakkan kepalanya di atas meja kerja.


“ Jangan ngeluh, kamu gak tau aja beratnya turun ke lapangan,” jawab Dafa sambil mengelus surai hitam milik Silvi.


Jika kalian bertanya, memang Silvi dan Dafa sedang menjalin suatu hubungan. Mereka berdua disebut-sebut sebagai pasangan yang serasi di kantor ini. Vanka saja sampai-sampai iri melihat keduanya.


Wanita itu sering berandai, kapan Naufal akan melakukan hal semanis itu padanya. Ah tidak, tidak, Vanka tidak berharap, namun hanya berandai saja. Wajar kan jika seorang istri ingin diperlakukan manis oleh suaminya?


“ Semuanya..”


Suara Cecile sedikit mengejutkan mereka semua. Kini Cecile sudah berdiri di ambang pintu sambil tersenyum lebar. Para karyawan pun bertanya-tanya kenapa Cecile seperti ingin menginformasikan sesuatu.


Namun Vanka menatap wajah wanita itu dengan datar. Entah kenapa rasanya dia sangat ingin memporak porandakan wajah tersebut.


“ Kerjaan kalian bisa di stop dulu ya! ”


Para pegawai makin terkejut. “ Ada apa ya bu Cecile? ” Silvi angkat bicara.


Vanka mengernyit, sementara para karyawan berteriak senang. Wanita itu masih heran kenapa Naufal bisa ingin mengajak para karyawan untuk makan-makan? Memangnya merayakan apa? Padahal tadi pagi raut wajah Naufal terlihat biasa saja, tidak terlihat senang sama sekali.


Aneh.


“ Bukannya kita lagi bangkrut ya? ”


Perkataan Silvi membuat semua orang tertawa. Namun tidak dengan Vanka, dia malah menjentikkan jarinya pertanda setuju dengan ucapan Silvi.


“ Betul! ”


Cecile langsung menatap Vanka dengan sinis, tapi dia segera merubah raut wajahnya menjadi tersenyum kembali.


“ Bisa dibilang kita sedang dalam masa-masa pemulihan sih, tapi kan apa salahnya kalau sedikit refreshing? Lagian cuma makan-makan aja kok, sekalian memperkuat tali persaudaraan.”


Tali persaudaraan? Cih!

__ADS_1


“ Yaudah kalian langsung beresin semua perlengkapan kerja ya, kalau udah siap bisa langsung ke lobi,” ucap Cecile dan berlalu pergi.


….


“ Ayo kita bersulang! ”


“ Maaf bu, tapi saya gak minum-minum,” ucap Silvi yang menolak ajakan Cecile.


Vanka pun sangat risih melihat wanita itu. Terlebih lagi Cecile duduk di samping suaminya.


Dasar pelakor!


Mereka semua sekarang sedang berada di restoran mewah. Para karyawan berpikir jika mereka akan makan-makan di tempat biasa saja yang harga terjangkau, namun perkiraan mereka salah.


“ Udah pesan aja apa yang kalian mau,” ucap Naufal sambil membolak-balikkan menu.


“ Van, kamu terbiasa gak sih makan di tempat kayak gini? ” bisik Silvi yang duduk di sebelah Vanka.


“ Enggak mbak, harga satu menunya hampir sama kayak harga ginjalku,” jawab Vanka asal dan membuat Silvi tertawa.


Naufal melirik Vanka, namun wanita itu tidak memperdulikannya. Tapi saat manik matanya menangkap Cecile yang sedang memegang lengan Naufal, dia bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri wanita itu.


“ Eh Van? Mau kema—”


“ Ibu Cecile yang terhormat, maaf saya mengganggu. Tapi saya ingin bertukar tempat duduk.”


Cecile mengernyit. “ Mau ngapain? ”


“ Di sana pendingin ruangannya terlalu mengarah ke saya. Jadi saya mau pindah di sini.”


Percakapan keduanya mengundang para karyawan untuk melihat ke arah mereka. Tapi tiba-tiba saja Cecile tertawa.


“ Kamu mau dekat-dekat sama direktur ya? ” ledek Cecile.


“ Hey dengar ya karyawan yang ada di sini, sebenarnya Vanka itu—”


Vanka membelalak dan juga Mulut Cecile langsung di dekap oleh Naufal. Raut wajah mereka semua terlihat bingung, mereka tidak mengerti akan perkataan Cecile barusan.


Vanka yang sudah tidak tahan pun akhirnya buru-buru keluar dari sana. Bahkan Silvi tak sempat untuk menahan wanita itu. Vanka berjalan sambil memegangi dadanya.

__ADS_1


Sial! Aku cemburu!


BERSAMBUNG.


__ADS_2