Menikah Karena Taruhan

Menikah Karena Taruhan
Ruang Rahasia (2)


__ADS_3

Vanka melihat sekelilingnya dengan sangat hati-hati. Dia memastikan jika di sana tidak ada siapapun. Dia juga sedikit bersyukur jika Algar sedang tidak ada di rumah. Setelah di rasa cukup aman, akhirnya Vanka melangkah masuk ke dalam ruangan itu dan menutup lemarinya kembali.


Ruangan itu hanyalah sebuah ruangan kosong. Tapi, tepat di depan hadapan Vanka sekarang ada sebuah lift dan itu membuat Vanka mengerjap tidak percaya. Kenapa bisa ada lift di dalam sini pikirnya. Padahal sudah ada tangga jika ingin pergi ke lantai dua atau tiga.


Apakah Widya mengetahui hal ini? Tapi tidak mungkin. Widya adalah orang yang sangat heboh terhadap sesuatu. Apalagi jika menyangkut hal seperti ini, pasti wanita itu sudah menceritakannya pada Vanka jika Algar memiliki sebuah lift di dalam rumahnya.


Jari telunjuk wanita itu pun menekan sebuah tombol yang mengakibatkan pintu lift terbuka. Benar, rasanya dia sangat jantungan. Tapi sebelum melangkahkan kakinya masuk, Vanka sedikit mengintip apakah di dalam lift tersebut ada kamera pengintai atau tidak.


Vanka sedikit lega karena di dalam sana tidak terdapat kamera pengintai itu. Walaupun kelihatan sedikit ragu untuk masuk, namun di satu sisi rasa penasaran wanita itu bergejolak tinggi, mau tidak mau Vanka harus masuk untuk memastikan lift ini akan membawanya kemana.


Akhir-akhir ini memang Vanka sudah menemukan hal yang cukup aneh. Pertama, ruang bawah tanah di rumah Naufal. Kedua, pisau berkode milik Bian. Ketiga, lorong rahasia di perusahaan. Dan sekarang, ruangan rahasia di rumah Algar. Lantas selanjutnya apalagi?


“ Kemana aku harus pergi? ”


Vanka menggaruk kepalanya saat melihat ada tiga tombol di dalam lift itu. Berarti hanya ada dua ruangan di atas sana yang terdapat di lantai dua dan tiga. Vanka pun menghela napasnya pelan dan menekan angka dua. Dia ingin melihat ruangan apa yang terdapat di lantai dua.


Tak butuh waktu lama, akhirnya pintu lift terbuka. Vanka keluar dari dalam sana dan dia sedikit takjub ketika melihat banyak buku-buku yang tertata rapi di raknya. Vanka berjalan pelan mendekati rak yang pertama.


Di depan rak itu tertulis bacaan, scientist’s book.


Ah benar, Vanka sampai lupa salah satu fakta bahwa Algar gemar membaca. Tapi kenapa perpustakaan yang besar ini harus terletak di ruangan yang tidak diketahui orang lain. Seperti sengaja disembunyikan.


Ruangan besar yang Vanka masuki ini adalah sebuah perpustakaan. Mungkin juga bisa disebut sebagai perpustakaan pribadi. Tapi kalau ini perpustakaan, apa Widya tau? Mengingat temannya itu juga gemar membaca.

__ADS_1


Vanka mengesampingkan hal itu dan dia melangkahkan kakinya di rak kedua yang terdapat bacaan novel’s book. Wow, sudah seperti toko buku saja pikirnya. Wanita itu pun mengambil salah satu novel dan hanya sekedar melihatnya. Yah daripada membaca, Vanka lebih memilih untuk menonton saja. Dia memang sedikit malas dalam hal membaca.


Vanka kembali berjalan ke rak yang ketiga dimana ada tulisan magic books. Vanka tertegun dan sepertinya dia mulai tertarik. Sejak kapan Algar menyukai hal-hal mistis seperti ini pikirnya. Tangan wanita itu pun terulur untuk mengambil salah satu buku. Vanka mengambil secara asal, tapi setelah dia melihat judulnya, kening Vanka langsung mengkerut.


How to hypnotize people?


Namun saat Vanka ingin membuka buku tersebut, tiba-tiba saja dia mendengar seperti suara mesin. Dengan cepat Vanka menoleh ke arah lift yang kini berada jauh darinya. Benar, seseorang sedang naik menuju ke lantai dua.


Wanita itu sangat panik dan dia memilih untuk bersembunyi dibalik rak tersebut sambil berjongkok dan menggenggam erat buku yang tadi dipegangnya. Keringat dingin mulai membasahi keningnya saat mendengar suara langkah kaki seseorang.


“ Oh? Kosong? ”


Vanka meneguk ludahnya karena dia mendengar suara Algar. Wanita itu sedikit bergeser ke kiri dengan pelan ketika dia merasakan Algar mulai mendekat. Tidak tau kenapa rasanya Vanka ingin menangis sekarang.


Vanka masih diam sambil berdoa agar pria itu tidak menemukan dirinya. Dia bahkan sampai menggigit bibir bawahnya dengan kuat.


“ Yaudah deh kalau emang gak a—”


Perkataan Algar terhenti karena ponselnya berdering. Pria itu pun mendecak kuat dan mengangkat panggilan tersebut.


“ Kenapa sih?! Oh sudah di proses? Baik, aku kesana sekarang.”


Setelah menutup panggilan itu, Algar mulai menjauh dan itu membuat Vanka sedikit lega. Dengan perlahan dia mulai mengintip dan memang benar jika Algar sudah turun dari lift. Vanka pun bangkit dari posisinya dan kakinya bergetar hebat.

__ADS_1


“ Sial! Baru pertama kalinya aku kayak gini.”


Manik mata wanita itu kembali menatap buku yang masih dipegangnya. Vanka menggeleng pelan dan dia benar-benar tidak mengerti. Dia juga baru mengetahui jika Algar mempelajari ilmu hipnotis. Tapi apa memang dipelajari atau hanya sekedar bacaan saja? Entahlah, dia sendiri juga bingung.


Vanka memutuskan untuk segera keluar dari ruangan itu. Padahal dia sangat ingin memeriksa lantai tiga, tapi sepertinya dia sudah tidak kuat jadi Vanka pun memutuskan untuk keluar saja. Mungkin lain kali bisa pikirnya.


“ Wid, aku pulang dulu ya,” ucap Vanka pelan.


“ Loh kamu darimana aja sih?! Aku udah selesai banyak nih,” jawab Widya sambil menunjukkan laptopnya.


“ Aku gak enak badan deh kayaknya. Eh ngomong-ngomong kak Algar belum pulang? ” ucap Vanka pura-pura tidak tau.


“ Tadi udah pulang , cuma ada urusan lagi.”


Vanka mengangguk. “ Oh gitu.. yaudah aku pulang dulu ya.”


“ Kamu gak apa-apa? ” Widya mulai khawatir.


“ Aku gak apa-apa kok. Permisi Wid.”


Widya menatap punggung temannya itu yang mulai berlalu dengan raut wajah bingung. Sementara Vanka sendiri juga tidak mengerti kenapa dirinya begitu takut. Suara Algar yang barusan di dengarnya tadi seperti bukan Algar yang dia kenal.


Aku harus mengetahui apa yang tidak aku ketahui.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2