
Soekarno Hatta International Airport, 15 September 20xx
Seorang wanita hamil berjalan masuk sambil menyeret satu koper besar untuk melakukan pemeriksaan dengan sebuah tiket di tangannya. Hingga sampai akhirnya wanita itu duduk di ruang tunggu dan tangannya terulur untuk mengusap perutnya yang besar.
“ Sebentar lagi kita bakal punya saham di Amerika nak! ”
Wanita itu masih mengelus perutnya sambil tersenyum. Namun tiba-tiba saja ponselnya berdering menandakan ada panggilan masuk. Dia tersenyum saat melihat siapa yang sedang menelfonnya.
“ Halo sayang? Iya, aku udah di gate kok. Iya pastinya aku nunggu kamu di sana. Cepat selesaikan urusannya ya biar bisa temanin aku bersalin. Oke sayang, I love you too.”
Panggilan tersebut terputus dan wanita itu menghela napas panjang sambil menatap langit-langit.
Sorry Naufal.
….
“ Van.”
Bian memegang pundak Vanka dan wanita itu mendongak. Bian dapat melihat mata wanita itu yang masih sembab.
“ Van dengar aku, sekarang pihak kepolisian lagi menjumpai rekan-rekan mereka yang lain. Dan kamu ikut sama aku.”
“ Tapi kita mau kemana? Kenapa kamu bisa tau siapa pelakunya? Darimana kamu tau? ”
Bian menghela napas panjang ketika Vanka melontarkan pertanyaan yang begitu banyak.
“ Aku gak bisa jelasin sekarang. Tapi kamu ingat terakhir kali Naufal pergi kemana? Dia izin ke kamu kan? ”
Vanka terdiam sebentar dan terlihat berpikir.
“ Kak Algar, iya! Naufal pergi ke rumah kak Algar. Dia terakhir kali bilang itu ke aku. Tapi waktu sorenya, dia chat aku kalau mau nginap di rumah mas Dafa.”
“ Tapi kenyataannya? Naufal gak ada kan di rumah mas Dafa? ”
Vanka menggeleng lesu. “ Enggak.”
“ Pasti dia.”
“ Pasti dia? Maksudnya? ” tanya Vanka sambil mengernyit.
__ADS_1
“ Algar. Pasti memang benar Algar pelakunya. Dari awal aku udah curiga sama dia.”
Dan tiba-tiba saja Vanka teringat akan sapu tangan yang masih berada di dalam tasnya. Dia pun berbalik kemudian mengambil tas tersebut. Hingga tak lama kemudian Vanka mengeluarkan benda tersebut dari dalam tasnya dan membuat Bian mengernyit.
“ Sapu tangan? ”
“ Iya. Ini aku temukan waktu di lorong rahasia. Dan di dalam sana juga banyak bercak darah. Mungkin pelaku gak sengaja ninggalin sapu tangan ini, jadi aku ambil sebagai bukti aja. Selain itu, entah kenapa sapu tangan ini mirip banget kayak punya Widya.”
Bian tersenyum kemudian mengelus kepala Vanka. “ Bagus, sekarang kita ke rumah Algar dan kamu chat Widya. Siapa tau dia lagi ada di sana.”
Vanka mengangguk cepat dan mengeluarkan ponselnya.
“ Semoga aja Widya dan Naufal gak apa-apa.”
….
Kini mobil Bian sudah terparkir di depan gerbang besar milik Algar. Mereka berdua pun turun. Namun sebelum masuk ke dalam sana, Bian kembali memegang pundak Vanka dan menghela napas panjang.
“ Van aku tau ini gila atau mungkin kamu gak percaya. Tapi Algar memang pernah di diagnosis mempunyai gangguan mental. Mungkin itu karena kejadian tiga tahun lalu waktu ayahnya bunuh diri dan dia depresi pada saat itu.”
“ Saham yang dijanjikan Algar padaku dan juga Naufal ternyata tidak resmi. Makanya polisi datang mencari Naufal karena saham itu sudah atas nama Naufal. Nah sekarang sebelum masuk, kita atur strategi.”
Sedangkan Vanka mencari satu ruangan lagi yang katanya ruangan itu sangat rahasia. Vanka mengira bahwa hanya di balik lemari besar itu saja yang terdapat ruang rahasia. Namun ternyata ada ruangan lain yang kata Bian itu adalah ruangan kematian karena dulu ayahnya Algar bunuh diri di dalam ruangan itu.
“ Duh dimana ya.”
Vanka masih terus berjalan sembari mengingat arahan-arahan yang telah diberikan oleh Bian. Namun tiba-tiba saja, dia tak sengaja melihat Algar sedang berdiri membelakanginya sambil menelfon seseorang.
Pada saat itu juga Vanka tercekat. Dia mulai mundur secara perlahan sambil mengatur napasnya. Namun, Vanka melihat sebuah pintu di sebelah pria itu. Oh sial, sekarang Vanka benar-benar bingung apakah harus maju atau mundur.
Wanita itu sangat yakin jika pintu tersebut adalah ruangan yang dimaksud oleh Bian. Ketika dia melihat Algar sudah menutup telfonnya, Vanka pun langsung berjalan ke samping untuk bersembunyi di balik sebuah sofa.
“ Hahaha, ada tikus ya.”
Vanka mengintip sambil mengernyit melihat Algar yang tertawa sendiri sambil menatap ponselnya. Ah benar, mungkin umpan Bian sudah termakan. Vanka menggigit bibir bawahnya dan berdoa untuk keselamatan mereka semua.
Dan setelah melihat Algar sudah benar-benar pergi dari sana, Vanka pun langsung berlari kecil untuk masuk ke dalam ruangan itu. Karena dia yakin jika pintu tersebut tidak dikunci.
….
__ADS_1
Setelah menaiki lift ke lantai tiga, Bian melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan tersebut. Pria itu menggeleng tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Algar mempunyai tiga brankas besar yang diketahui itu adalah tempat penyimpanan uang dan emas.
Naufal dan dirinya hanya memiliki satu, namun Algar melebihi ekspetasi mereka. Tidak ingin membuang-buang waktu, Bian langsung mencari dokumen milik Naufal karena pria itu yakin jika Algar mengincar saham Nugraha yang ada di Amerika.
Setelah cukup lama mencari, Bian tetap tidak bisa menemukan berkas tersebut. Dan pada saat itu juga, fokus Bian teralih pada sebuah lemari kaca. Dia memundurkan langkahnya, dan akhirnya bisa melihat jelas lemari-lemari kaca tersebut.
Bian menggeleng tidak percaya. Di dinding itu terdapat tiga lemari kaca. Yang pertama ada tulisan Flowgear guns. Dan di lemari kedua terdapat tulisan Nugraha guns. Sampai di lemari yang ketiga, membuat Bian sangat tercekat karena di sana terdapat tulisan Giovano guns.
Benar, Algar telah menggandakan senjata milik Naufal dan juga dirinya.
“ Oy, kayaknya udah lama juga kita gak ketemu ya.”
Seseorang keluar dari dalam lift dan membuat Bian langsung menoleh cepat.
Ternyata itu adalah Algar. Pria itu berjalan pelan mendekati Bian yang sekarang wajahnya sudah pucat pasih. Namun Bian tetap berdiri di tempatnya.
“ Jadi kamu yang fitnah aku? Dengan senjata palsumu itu?! ”
“ Santai Bian, santai. Kita baru aja ketemu, kamu udah bentak aku gitu.”
Kini Algar sudah berdiri di depan Bian sambil tersenyum menyeringai.
“ Sorry ya, aku cuma bercanda aja.”
Bian menggelengkan kepalanya. “ Bercanda? Itu gak lucu sama sekali! ”
Brakk!!
Bian langsung menendang perut Algar hingga membuat badan pria itu terbentur ke rak dokumen. Berkas-berkas tersebut berjatuhan dan mengenai kepala Algar. Kemudian dia mendekati pria itu dan memukul wajahnya dengan sangat kuat.
Algar tidak melakukan perlawan balik, dia malah tersenyum sambil menyeka darah yang mengalir di bibirnya.
“ Bagus juga perlawanan kamu.”
“ Hentikan semua ini atau kamu akan menyesal Algar! ”
Setelah itu Bian berjalan ke arah lift dan mempercepat langkahnya. Setelah Bian benar-benar turun, Algar bangkit dari posisinya dan membuka laci mejanya untuk mengambil sebuah pistol.
“ Mari kita bersenang-senang.”
__ADS_1
BERSAMBUNG.