Menikah Karena Taruhan

Menikah Karena Taruhan
Bercak Merah


__ADS_3

Semenjak kejadian kemarin, Naufal meliburkan karyawannya selama satu hari saja. Dia ingin mengistirahatkan kepalanya yang sudah pusing. Bahkan semalaman, ketika Naufal sudah tertidur pulas, Vanka tak henti memijat kepala pria itu.


Ditinggal ayah, ibu, serta asisten, Naufal sekarang benar-benar mengurus perusahaan itu sendiri. Sebenarnya Vanka ingin membantu, namun dia tidak secerdas pria itu. Vanka takut jika dia membantu, yang ada jadi makin menyusahkan pria itu.


Vanka beranjak dari tidurnya, kemudian mencepol rambutnya. Dia keluar dari kamar dan melihat para pekerja di rumah sudah sibuk dengan tugas masing-masing. Vanka menghampiri mbok Ten yang sedang memasak di dapur. Mbok Ten ini juga sudah lama mengurus keluarga Nugraha, sejak Naufal masih berumur lima tahun.


“ Lagi masak apa bu? ”


“ Oh nyonya udah bangun ternyata.”


Vanka menggaruk tengkuknya. Jujur saja dia masih belum terbiasa dipanggil nyonya.


“ Panggil nama aja bu, jangan nyonya segala,” ucap Vanka sambil terkekeh.


“ Eh gak bisa toh. Biar gimanapun kamu tetap nyonya di sini.”


“ Iya deh terserah ibu aja. Ngomong-ngomong ada yang bisa saya bantu gak bu?”


Mbok Ten menggeleng pelan dan mendorong badan Vanka dengan lembut.


“ Udah-udah, kamu masuk kamar saja. Kasihan itu tuan pasti lagi banyak pikiran.”


Vanka menggeser kursi makan lalu duduk di dekat mbok Ten. Wanita itu pun mengangguk lesu. Dia kasihan juga dengan Naufal.


“ Iya bu, kemarin malam Naufal juga diam terus. Apa kalau lagi ada masalah dia selalu kayak gitu ya bu? ”


“ Tuan orangnya biasa-biasa saja sih. Tidak cuek dan juga tidak ceria. Kalau ada sesuatu yang buat dia senang, pasti senang. Begitu pun sebaliknya. Tapi kalau lagi sedih memang begitu, sukanya diam. Saya saja pernah dicuekin seminggu karena dulu gak sengaja ngebuang mobil-mobilannya.”


Vanka terkekeh geli. Naufal saat kecil lucu juga ya tingkahnya. Tapi kemudian Vanka baru mengingat sesuatu. Jika mbok Ten sudah lama mengabdi pada keluarga Nugraha, pasti setidaknya dia tau kan seluk beluk rumah ini?


“ Hmm.. bu, saya boleh nanya gak? ”


Mbok Ten menoleh. “ Boleh, memangnya mau nanya apa? ”


“ Tapi janji ya jangan marah,” ucap Vanka sambil mengacungkan jari kelingkingnya.


“ Oalah udah kayak anak SD saja. Weslah saya janji gak marah,” Mbok Ten membalas tautan jari Vanka.

__ADS_1


“ Ibu tau gak, tentang ruang bawah tanah di rumah ini? ”


Pertanyaan itu membuat Mbok Ten terdiam cukup lama. Vanka mengernyit ketika melihat wanita paruh baya itu malah menadahkan masakannya ke piring dan mengabaikan Vanka.


“ Bu? ”


Mbok Ten tersadar dari lamunannya. Karena sebenarnya tadi dia sedang melamun seperti kepikiran sesuatu.


“ Eh iya. Ruang bawah tanah ya..” Mbok Ten berbalik dan mengahadap Vanka.


“ Saya memang tau ada ruang bawah tanah di sini. Tapi saya sama sekali tidak tau ada apa di dalamnya. Mungkin gudang kali, soalnya saya pernah toh liat nyonya Emily keluar dari sana sambil bawa-bawa kotak gitu.”


Vanka mengangguk paham. Benar juga, mungkin saja gudang. Karena dia tidak pernah melihat adanya gudang di rumah ini. Mau rumah bentuknya bagaimanapun pasti tetap mempunyai gudang kan?


“ Baik bu, kalau gitu saya permisi dulu.”


Namun ketika Vanka hendak bangkit dari duduknya, Mbok Ten memegang lengan wanita itu sambil menatap matanya.


“ Tolong jangan kasih tau orang lain mengenai hal itu.”


Vanka di telfon oleh Widya temannya yang merupakan kekasih Algar untuk menemani wanita itu berbelanja. Sebenarnya Vanka tidak ingin, namun dia juga bosan jika berada di rumah karena tidak ada melakukan apa-apa. Naufal pun tidak bisa diganggu karena terlihat sibuk dengan laptopnya.


Bahkan berberes rumah juga tidak bisa. Ah, Vanka jadi merindukan saat-saat tinggal di rumah abangnya. Pagi hari sebelum berangkat sekolah atau kuliah dia sudah menyapu rumah atau mencuci piring. Tapi mau bagaimana lagi, jika Vanka menginjakkan kaki di sana yang ada malah diusir.


“ Van? ” Widya melambaikan tangannya di depan wajah wanita itu.


“ Eh? Maaf, ” ucap Vanka sambil menepuk pipinya.


“ Jangan melamun, kita lagi di eskalator loh. Kalo kamu nyungsep kan gak lucu.”


Vanka terkekeh pelan kemudian mereka melanjutkan langkahnya untuk segera keluar dari pusat perbelanjaan tersebut. Vanka menenteng sebuah plastik kecil yang di dalamnya hanya terdapat pencuci muka dan pelembab. Sedangkan Widya membawa empat paper bag.


“ Kenapa gak sekalian mallnya aja yang kamu beli Wid? ” sindir Vanka.


“ Rencananya sih gitu. Tapi belum dikasih Algar.”


Mereka berdua pun terkekeh mendengar jawaban asal dari Widya.

__ADS_1


“ Eh tapi kamu jahat ya Van, nikah sama kak Naufal gak bilang aku.”


“ Ya maaf. Naufal nyuruh aku supaya gak kasih tau siapa-siapa. Tapi kan akhirnya kamu tau juga dari kak Algar.”


“ Hm iya sih, cuma kan gak enak kalau gak dari kamu langsung.”


Vanka mengganggu temannya yang terlihat kesal itu dengan cara mencolek-colek pipi Widya. Namun saat itu juga manik mata Vanka tak sengaja menangkap seorang pria yang baru keluar dari toko obat sambil mengenakan hoodie hitam yang sangat familiar. Tapi wajah pria itu tidak terlihat karena tertutup oleh penutup kepala dari hoodie tersebut.


“ Eh? ”


“ Kena—”


Ucapan Widya terhenti karena wanita itu sudah berlari untuk menghampiri seseorang. Widya menghela napas kasar dan kemudian menyusul temannya itu.


“ Bian? ”


Vanka langsung memegang lengan orang yang dilihatnya tadi. Pria itu pun menoleh dan manik matanya membulat ketika melihat Vanka.


“ Vanka? Kok kamu di sini? ”


Sama seperti Bian, Vanka juga sangat terkejut ketika melihat Bian. Vanka tak bisa berhenti mengerjapkan matanya ketika melihat wajah Bian terdapat luka memar.


“ Wajah kamu..” ucap wanita itu lirih dan tangannya terulur untuk memegang wajah pria itu.


“ Gak apa-apa Van,” jawab Bian lalu menurunkan tangan Vanka dari pipinya.


“ Van- oh my kak Bian! Kamu kenapa? ”


Widya yang sudah berdiri di samping Vanka pun terkejut melihat wajah Bian. Pria itu tersenyum kepada Widya, lalu melihat jam tangannya.


“ Aku balik duluan ya, kalian hati-hati juga di jalan,” ucap Bian kemudian segera berlalu.


Vanka masih terdiam melihat punggung pria itu. Dia dapat mengetahui orang itu adalah Bian dari hoodie yang dikenakannya. Bahkan Vanka juga punya hoodie tersebut tapi bewarna putih. Namun, Vanka tak sengaja melihat ada sedikit bercak bewarna merah di ujung pakaian itu.


Bian kamu kenapa?


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2