Menikah Karena Taruhan

Menikah Karena Taruhan
Pernikahan


__ADS_3

Kebaya bewarna putih dengan broket bunga-bunga terbalut indah di tubuh ramping Vanka. Seorang tata rias juga masih memoleskan alat-alat makeupnya ke wajah wanita itu. Vanka tidak bisa berhenti melihat dirinya di cermin. Dia sama sekali tidak tau apakah ini hari bahagianya atau tidak.


Namun yang jelas, sejujurnya wanita itu belum siap menikah. Terlebih lagi Vanka masih berusia 21 tahun dan dia juga masih kuliah. Vanka sangat merutuki Naufal yang ceroboh dalam bertindak. Hingga sampai sekarang pun Vanka tidak bisa melupakan kejadian fatal beberapa hari silam.


Tapi di satu sisi ada baiknya juga menikah dengan pria mapan seperti Naufal. Vanka jadi tidak menyusahkan keluarga abangnya lagi karena terus-terusan membiayai hidupnya. Tapi Vanka juga merasa seperti ada yang ganjal dengan pernikahan ini.


Wanita itu masih memikirkan satu hal, apakah Naufal sengaja melakukan itu atau tidak. Karena kemarin waktu Naufal memeluknya di kamar sebuah bar, dia tak sengaja melihat suntik di atas nakas. Tapi Vanka sudah tidak ingin memikirkan hal tersebut.


“ Sudah selesai,” ucap sang tata rias.


“ Terima kasih.”


Vanka menatap pantulan dirinya di cermin. Tapi dia tidak mau berlama-lama karena sedikit jijik melihat dirinya yang sudah kotor. Dan setelah itu Vanka memutuskan untuk keluar dari kamarnya, lebih tepatnya kamar wanita itu dengan Naufal.


Manik mata wanita itu membelalak ketika melihat Bima abangnya, dan Sarah kakak iparnya, sudah duduk di ruang tamu untuk menjadi saksi atas pernikahan keduanya. Sebenarnya Bima tidak mau datang, namun istrinya terus menyuruh untuk datang, dan mau tidak mau dia hanya bisa menurut.


Meskipun begitu, Vanka tetap bersyukur jika abangnya masih ada sedikit rasa perduli. Wanita itu pun tersenyum simpul dan duduk di samping Naufal. Hingga tak lama kemudian setelah mengucapkan kalimat akad nikah, kini Vanka dan Naufal sudah resmi menjadi sepasang suami istri.


Setelah semuanya selesai, Vanka mendudukkan dirinya di tempat tidur.


Sementara Naufal langsung membuka setelan jas hitam tersebut dan mengganti bajunya dengan kaos. Namun ketika pria itu ingin membuka celana hitamnya untuk menggantinya dengan jeans, Vanka langsung mengalihkan wajahnya.


Yah memang benar jika mereka sekarang sudah resmi menjadi pasangan suami istri, namun tetap saja Vanka belum terbiasa.


Naufal segera mengambil kunci mobilnya, namun ketika ingin membuka pintu kamar, suara Vanka menghentikan langkahnya.


“ Mau kemana? ”


“ Kampus,” jawab Naufal tanpa mengalihkan pandangannya.


Vanka hanya mengangguk. Mungkin Naufal mau menyelesaikan urusannya dengan dosen pikir wanita itu.


“ Aku udah bilang sama Silvi kalau sekarang kamu gak masuk. Jadi tetap di sini aja dan jangan ada keluar rumah,” ucap Naufal tegas.


“ Oh satu hal lagi," lanjutnya.

__ADS_1


Vanka mengernyit. “ Apa? ”


“ Jangan masuk ke ruang bawah tanah.”


….


Bian melangkahkan kakinya di koridor kampus sambil menyandang tas ranselnya. Kini pria itu terlihat seperti mahasiswa biasa sekarang, bukan seorang direktur muda.


Namun ketika berjalan, dia tak sengaja melihat Algar berdiri di bawah pohon dengan seseorang yang entah siapa itu. Wajahnya tidak terlihat jelas karena tertutupi oleh bayangan Algar.


“ Oy, lagi liat siapa? ”


Bian tersentak. Dia melihat Naufal yang sudah memegang pundaknya.


“ Algar, tapi gak tau dia lagi sama siapa.”


Naufal juga mengikuti arah pandang pria itu. Dan benar jika Algar sedang di sana bersama dengan pria asing. Tapi setelah itu, Naufal menghela napas pelan.


“ Tadi kamu dicari dosen, disuruh serahin revisian sekarang.”


Ucapan Bian terhenti karena manik matanya tak sengaja menangkap sebuah cincin yang melingkar di jari manis Naufal.


“ Tumben pakai cincin? ” tanya Bian sambil mengernyit.


Naufal sedikit terkejut mendengar pertanyaan itu. Dia lupa membuka cincinya ketika sampai kampus. Yah namun jika sudah ketauan secepat ini, mau bagaimana lagi, Naufal pun terpaksa memberitahu Bian.


“ Cincin pernikahan aku sama Vanka.”


Manik mata Bian membulat sempurna. Pria itu menatap Naufal yang seperti sedang meremehkannya.


“ Gak mungkin,” jawab Bian pelan.


Naufal menggedikkan bahunya. “ Terserah kalau gak mau percaya. Intinya sebentar lagi Nugraha akan bangkit.”


….

__ADS_1


Suara alarm yang terdengar nyaring dari ponsel hitam milik Vanka membuat wanita itu terbangun. Perlahan dia membuka matanya dan melihat sekelilingnya. Dia juga mengecek jam di ponselnya dan hari sudah sore.


“ Belum pulang ya,” monolog Vanka. Hingga tak lama kemudian dia bangkit dari tempat tidur dan mencepol rambutnya.


“ Mumpung belum pulang, gimana kalau aku masak makan malam ya? ”


Vanka berjalan ke dapur dan melihat sekeliling. Para asisten rumah tangga sudah pada pulang mengingat hari sudah sore. Jika dulu masih ada Emily, mereka semua menginap di sini, tapi semenjak Emily meninggal, mereka semua memutuskan untuk langsung pulang jika sudah selesai bekerja.


“ Kenapa kalau sendirian rasanya ngeri juga ya.”


Vanka mengusap lengannya dan mencoba untuk mengalihkan pikiran-pikiran buruknya. Dia pun berjalan ke arah meja makan dan membuka tudung saji untuk melihat makanan apa yang ada di sana.


Manik matanya langsung berbinar ketika melihat banyak ayam goreng tepung dan juga seafood lainnya yang terletak di atas meja. Vanka duduk di kursi dan memakan udang goreng yang terletak di sana.


Tapi ketika suapan ketiga, Vanka teringat akan ucapan Naufal tadi pagi.


“ Jangan masuk ke ruangan bawah tanah.”


Ruangan bawah tanah? Memangnya ada? Bukannya ruangan bawah tanah itu garasi mobil ya? Vanka sangat penasaran sehingga kaki wanita itu bergerak untuk melangkah ke ruangan bawah tanah yang dimaksud.


“ Gelap juga.”


Vanka merutuki dirinya yang lupa membawa ponsel. Walaupun begitu, Vanka tetap nekat untuk melanjutkan langkahnya karena masih ada satu lampu yang menyala di ujung ruangan walaupun lampu itu sudah mau redup.


“ Miris banget ya orang kaya tapi gak bisa beli lampu,” Vanka menggelengkan kepalanya sambil terus berjalan.


Hingga tak lama kemudian, kakinya tidak sengaja menginjak sesuatu. Mungkin seperti besi yang timbul. Vanka langsung menundukkan kepalanya. Dan benar saja, dia menginjak sebuah besi berbentuk persegi yang diatasnya terdapat gagang kecil.


Vanka menjentikkan jarinya. Mungkin ini ruangan bawah tanah yang dimaksud oleh Naufal.


Wanita itu langsung duduk di bawah untuk memastikan dengan jelas apakah benar atau tidak. Namun ketika tangan itu baru saja menyentuh gagang tersebut, dia melihat ujung sepatu seseorang tepat di depan wajahnya. Vanka meneguk ludahnya dan mendongak secara perlahan.


“ Naufal..”


BERSAMBUNG..

__ADS_1


__ADS_2