Menikah Karena Taruhan

Menikah Karena Taruhan
Percaya atau Tidak?


__ADS_3

Vanka menunggu ojek online di halte bus sambil terus melihat isi tasnya. Wanita itu menghela napas panjang ketika melihat sebuah sapu tangan yang ditemukannya beberapa waktu silam. Vanka kembali mengingat pertemuannya dengan Widya, dan dia melihat jika temannya itu juga mempunyai sapu tangan yang mirip.


Ternyata rasa penasaran wanita itu bisa jauh membawanya sampai menyelidiki sesuatu. Terlebih lagi kemarin Bian menelfonnya agar menemui pria itu. Tenang saja, Vanka sudah izin dengan Naufal dan pria itu membolehkannya walaupun wajahnya sedikit kusut.


Tapi bagus juga Bian mengajaknya untuk bertemu karena sekarang ini di rumah tidak ada orang, mengingat kemarin Naufal di telfon Algar untuk menemuinya dan Cecile yang tidak tau entah kemana.


Vanka hanya berharap jika wanita itu tidak kembali lagi.


Hingga tak lama kemudian sebuah motor berhenti tepat di depan wanita itu. Vanka pun segera menaikinya dan melesat dari sana. Sebenarnya Vanka ingin sekali berpergian menggunakan mobil, namun karena dia tidak bisa berkemudi, jadinya gagal dan Vanka sangat menyesali itu.


Hanya butuh waktu sekitar setengah jam untuk sampai ke rumah Bian dan wanita itu sudah menapakkan kakinya di depan pagar rumah Bian. Setelah menekan bel, Bian langsung membuka pagarnya sambil tersenyum melihat Vanka yang sudah datang.


“ Masuk Van.”


“ Oke, makasih.”


Vanka berjalan di belakang Bian dan memasuki rumah pria itu. Tapi tunggu, rumahnya sepi sekali sekarang. Vanka hanya melihat supir pribadi mereka dan satu asisten rumah tangga.


“ Kemana semua orang? ” tanya Vanka.


“ Yang lain minta libur Van,” jawab Bian sambil tertawa. “ Ya apa salahnya juga kan ngebiarin mereka libur sehari? Mereka juga punya keluarga di rumah.”


“ Benar,” Vanka mengangguk, namun dia tak sengaja melihat bingkai foto yang terletak di atas lemari.


“ Mama kamu apa kabar Bian? ”


“ Dia baik kok, malahan tambah senang sama keluarga barunya.”


Orangtuanya Bian sudah berpisah sejak dia duduk di kelas satu SMA. Ibunya menikah lagi dan Bian lebih memilih untuk tinggal bersama ayahnya agar bisa melanjutkan perusahaan yang sedang berjalan ini.


“ Terus ayah kamu dimana sekarang? ”


“ Dia lagi istirahat di kamar, penyakitnya kambuh lagi.”


“ Memangnya sakit apa sih? ”


“ Komplikasi Van.”


Vanka mengangguk paham. Tapi kemudian dia baru tersadar jika sudah berada di kolam berenang yang terdapat di belakang rumah pria itu. Terlebih lagi mereka sudah berdiri di depan sebuah pintu yang diketahui adalah pintu gudang.


“ Bian..” lirih Vanka. “ Kamu mau bawa aku kemana? ”


Kini tatapan Vanka mulai menyelidik namun Bian langsung menautkan kedua alisnya melihat wanita itu.


“ Kamu kok kelihatan takut gitu Van? ”


“ E-enggak, aku gak takut. Emangnya apa yang harus aku takuti? ” jawab Vanka sambil tersenyum paksa.


Jujur saja semenjak tau jika mereka bertiga mempunyai benda tajam, Vanka jadi sedikit waspada terhadap mereka. Pada suaminya sendiri dia juga terlihat waspada, namun Vanka pandai menyembunyikannya.


“ Ayo masuk Van.”


Vanka melihat Bian sudah membuka pintu gudang itu dan di sana sangat gelap. Hal tersebut mampu membuat bulu kudu Vanka merinding.

__ADS_1


“ Gak ada lampu ya? ”


“ Ada, tapi sengaja gak aku hidupin. Kalau dihidupin kelihatan mencolok ntar.”


Bian menyalakan senter di ponselnya dan Vanka mengikuti pria itu dari belakang dengan langkah yang sangat pelan. Namun Vanka langsung terkejut saat melihat Bian mengunci pintu itu dari dalam.


“ Bian..”


“ Kenapa Van? ” jawab Bian tanpa menoleh. Pria itu fokus terhadap meja yang sedang di gesernya.


“ Kok dikunci? Kamu gak ada niat jahat sama aku kan? ”


Bian langsung menghentikan aktifitasnya kemudian menatap Vanka sambil tersenyum. Namun senyuman itu sangat berbeda dari biasanya.


“ Please Bian..”


….


Naufal memarkirkan mobilnya di halaman rumah Algar. Pria itu segera turun dan langsung masuk ke dalam tanpa segan. Sudah biasa jika mereka bertiga melakukan hal ini. Walaupun terkadang ketiganya menyimpan rasa curiga.


“ Oy! ”


Algar yang sedang menelfon seseorang pun akhirnya menoleh karena mendengar suara Naufal. Pria itu mematikan ponselnya lalu berjalan menghampiri Naufal yang sedang duduk di ruang tamu.


“ Tumben pakai celemek? ” tanya Naufal sambil melihat penampilan pria itu.


“ Tadi aku lagi challenge lomba masak sama Widya,” jawab Algar sambil melepaskan celemek yang dikenakannya.


“ Terus Widya mana? ”


Naufal pun hanya mengangguk sambil memainkan ponselnya.


“ Fal, ngomong-ngomong kamu mau gak cicipi masakan aku? ”


“ Jadi manggil aku kesini cuma buat nyicipi masakanmu aja gitu? ”


Algar tertawa pelan sambil membawakan semangkuk sup. “ Santai Fal, masih syukur aku suguhin makanan.”


“ Buat sendiri nih? ” tanya Naufal dan mulai mencicipi masakan temannya itu.


“ Iya. Walaupun ada campur tangan Widya juga sih.”


“ Ya boleh deh masakanmu.”


Algar tersenyum tipis, lalu dia mengambil sebuah amplop yang terletak di sebelahnya.


“ Maaf Fal aku manggil kamu mendadak. Ini loh, kamu lupa tanda tangani surat-suratnya.”


Naufal memberhentikan aktifitasnya kemudian mengambil amplop cokelat tersebut. Itu adalah sertifat saham miliknya dulu yang sudah jatuh ke tangan Algar.


“ Baik, akan aku tanda tangani.”


….

__ADS_1


Bian tertawa lepas setelah melihat wajah Vanka yang sangat lucu karena ketakutan. Sementara Vanka memukuli pria itu tanpa henti dengan setumpuk kardus. Vanka mengira jika Bian akan berbuat macam-macam dengannya, namun ternyata Bian hanya ingin menjahili wanita itu.


“ Gak lucu! ” ucap Vanka sambil melipat tangannya di dada.


“ Maaf Van, maaf.”


Vanka tidak memperdulikan pria itu. Namun Bian tidak kehabisan akal, dia segera menggeser kuat meja yang tengah menutupi sesuatu. Tentu saja hal tersebut langsung membuat Vanka menoleh.


Betapa terkejutnya Vanka ketika melihat Bian menarik sebuah kayu yang ada di bawah meja tadi.


“ Bian, jangan bilang ini…”


“ Iya, ruangan bawah tanah juga.”


Vanka menganga tidak percaya. Sementara Bian mengulurkan tangannya untuk membantu wanita itu masuk ke dalam sana.


“ Ayo turun. Aku mau nunjukin sesuatu di bawah.”


Vanka mengangguk dan langsung menerima uluran tangan itu. Hingga setibanya mereka di bawah, Bian menghidupkan lampu dan terlihatlah apa yang pernah Vanka lihat sebelumnya. Sebuah brankas besar, jajaran rak tempat dokumen, dan satu hal yang paling penting, sebuah lemari kaca yang di dalamnya terdapat benda tajam.


“ Kenapa desainnya bisa mirip sama punya Naufal ya? ”


“ Oh ya? Aku gak tau kalau soal itu. Aku gak pernah masuk ke dalam sana.”


“ Tapi kata Naufal, kamu tau lorong rahasia di perusahaan.”


“ Hanya sekedar tau aja Van, aku sama sekali gak pernah masuk ke dalam.”


Vanka terlihat berpikir sebentar, namun suara Bian kembali mengejutkannya.


“ Sini deh Van.”


Wanita itu langsung berjalan ke dekat Bian yang sedang berdiri di depan lemari kaca. Perlahan Bian membuka lemari tersebut dan mengambil salah satu pisau. Hal itu membuat Vanka mundur satu langkah ke belakang.


“ Gak lucu loh Bian.”


Bian menghela napas panjang kemudian meletakkan pisau itu di atas meja. “ Yaudah kamu yang pegang deh. Aku cuma mau nunjukin sesuatu.”


Vanka mengangguk dan segera mengambil benda itu.


“ Lihat kodenya,” suruh Bian.


“ 2.6.8? ”


“ Sama kan kayak bukti yang tinggal di TKP? ”


“ I-iya,” jawab Vanka pelan.


“ Terus sekarang bukti itu dimana? ”


“ Naufal nyerahin bukti itu ke kantor polisi.”


Bian tersenyum tipis. “ Sekarang apa kamu udah percaya kalau pelakunya bukan aku? Vanka, dunia bisnis ini kejam. Kalau tidak dibunuh, ya membunuh."

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2