Menikah Karena Taruhan

Menikah Karena Taruhan
Tidak Menyerah


__ADS_3

Rasanya Vanka seperti tercekat ketika Naufal menatap tajam dirinya. Bodoh, kenapa bisa aku di sini! Vanka merutuki dirinya.


“ Sedang apa? ” tanya Naufal sambil terus memperhatikan Vanka yang masih terduduk di bawah.


“ Oh..i-itu, tadi ada tikus.”


“ Di sini gak pernah ada tikus. Bahkan tikus besar sekalipun.”


Yah memang benar, hewan semacam itu sangat jarang muncul di rumah Naufal. Terlebih lagi Naufal pria yang sangat mengutamakan kebersihan. Vanka hanya menjawab asal saja karena dirinya sudah bingung mau berkata apa.


“ Berdiri,” ucap Naufal.


Vanka mengangguk, lalu dia segera bangkit dan membersihkan baju terusannya yang sedikit berdebu. Vanka masih diam di tempat dan dia menatap Naufal yang sudah jalan terlebih dahulu. Namun manik matanya kembali melihat ke bawah, melihat pintu bawah tanah tersebut.


Ada apa di dalamnya.


“ Cepat jalan! ” teriak Naufal.


“ O-oke! ”


Vanka pun langsung berlari kecil menyusul pria itu untuk masuk ke dalam rumah. Dan sesampainya di dalam, Vanka langsung menyiapkan makan malam untuk Naufal, tetapi ketika wanita itu memanggilnya untuk datang ke meja makan, Naufal tidak menjawab. Akhirnya Vanka berjalan ke kamar dan melihat apa yang sedang dilakukan pria itu.


“ Kamu gak mau ma-AAAA! ”


Vanka langsung menjerit dan menutup matanya menggunakan tangan saat melihat Naufal yang baru saja keluar dari kamar mandi tanpa mengenakan apapun. Dia membalikkan badannya dengan cepat dan ingin segera pergi dari sana.


Namun Vanka tidak berhasil, tangan wanita itu ditarik-tarik oleh Naufal. “ Kenapa sih? Aku suami kamu.”


“ Ya-ya tapi gak kayak gitu juga! ”


Melihat Vanka yang makin merapatkan matanya, membuat Naufal tersenyum jahil.


Pria itu mendekatkan wajahnya dengan wajah Vanka dan dia mencium bibir wanita itu. Vanka membelalak, namun pada saat dia ingin menampar Naufal, tiba-tiba saja terdengar seperti suara barang terjatuh.


Mereka berdua langsung menoleh ke samping dan mendapati Cecile yang sedang terkejut sambil menutup mulutnya. Naufal menghela napas kasar ketika melihat wanita itu dan dia segera masuk ke dalam kamar untuk memakai bajunya.


Sementara Vanka masih terdiam. Cecile pun mendekati Vanka sambil menatapnya dengan tajam. Wanita itu mengarahkan telunjuknya di depan wajah Vanka.


“ Dasar kamu—”


“ Cecile! ”

__ADS_1


Keduanya menoleh, melihat Naufal yang baru saja keluar dari kamarnya.


“ Turunin tangan kamu.”


“ Tapi Fal—”


Cecile langsung terdiam saat Naufal menatap dirinya dengan datar. Cecile menurunkan tangannya lalu mendudukkan dirinya di sofa ruang tamu.


Vanka yang merasa dirinya sudah cukup aman, akhirnya berjalan ke dapur untuk membuatkan minum.


Vanka membuka kulkas dan mengambil sebuah jus apel instan. Dia menuangkan jus itu ke dalam gelas sambil berpikir.


Bagaimana bisa Cecile masuk ke dalam rumahnya? Namun beberapa detik kemudian dia baru sadar jika Cecile adalah mantan kekasih Naufal. Pasti Naufal pernah memberi tau password rumah tersebut kepada Cecile. Sementara dirinya sendiri saja belum mengetahui password rumah itu.


Vanka membelalak ketika melihat jus yang dituangnya sudah tumpah membasahi meja. Vanka menggeleng pelan, kemudian membersihkan tumpahan itu.


“ Kenapa kamu nyium dia?! ***** pula! ” tanya Cecile sambil berkacak pinggang.


“ Dia istriku,” jawab Naufal santai.


“ Ya tapi kan kamu cuma terpaksa ni—”


“ Maaf lama menunggu.”


“ Kamu lebih cocok jadi pembantu daripada jadi istri Naufal.”


Naufal tersedak minumannya sementara Vanka tersenyum simpul.


“ Saya tau.”


Cecile mulai geram karena melihat senyuman tulus wanita itu. Dia pun langsung bangkit dari duduknya kemudian berdiri tepat di depan Vanka.


“ Ingat ya, sampai kapanpun kamu gak akan pernah cocok jadi istri Naufal.”


….


Perkataan Cecile kemarin malam cukup membuat Vanka risih. Ya memang dia sendiri tau jika parasnya lebih cocok jadi pembantu dibandingkan jadi istri direktur muda. Tapi Vanka teringat akan perkataan ibunya dulu, jangan terlalu mendengar omongan orang, jika kamu masih mau bertahan di muka bumi.


Mendengar omongan orang lain boleh sebagai motivasi. Tapi tidak semua perkataan seseorang bisa diterima. Kita juga harus pandai dalam memilih mana yang baik dan yang buruk.


Vanka menoleh ke samping, melihat Naufal yang masih terlelap sambil memeluk pinggangnya. Entah kenapa, tangan wanita itu terulur untuk mengusap surai hitam milik Naufal. Vanka mengusap rambut pria itu dengan lembut, kemudian tertawa kecil.

__ADS_1


Dia sama sekali tidak menyangka jika akan menjadi istri dari seorang kakak tingkat yang dulu pernah dilawannya saat ospek. Kini tangan wanita itu beralih ke wajah Naufal yang terlihat tegas. Bahkan ketika tidur pria itu masih sempat memasang ekspresi angkuh.


Sial, ada apa dengan jantungnya?


Vanka merasa jantungnya berdetak kencang ketika wajah mereka terlalu dekat. Segera mungkin Vanka langsung bangkit dari tempat tidurnya. Namun belum sempat wanita itu berdiri, Naufal menarik pinganggnya dan membuat Vanka terjatuh di atas badan pria itu.


Naufal menyelipkan anak rambut Vanka ke belakang telinga. Dia mengelus pipi wanita itu yang memerah akibat perlakuannya. Naufal tersenyum puas karena lagi-lagi berhasil menjahili wanita itu.


“ Morning kiss dong,” ucap Naufal sambil menunjuk bibirnya.


Dengan cepat Vanka langsung mengambil guling yang terletak di samping mereka kemudian menekannya ke wajah pria itu. Vanka menghela napas panjang dan segera pergi menuju kamar mandi.



Vanka sudah selesai bersiap-siap, namun dia masih menunggu Naufal. Vanka duduk di sofa ruang tamu sambil memainkan ponselnya. Wanita itu membuka riwayat chatnya dengan Bian. Rasanya memang sudah lama sekali mereka tidak bertukar pesan.


Semenjak Vanka melakukan akad nikah, Bian tidak ada menghubunginya. Sebenarnya Vanka ingin memberitahu Bian jika dia sudah menikah dengan Naufal, tapi entah kenapa rasanya enggan sekali.


Hingga beberapa menit kemudian, suara bel rumah terdengar. Vanka beranjak dari duduknya dan segera membuka pintu tersebut.


“ Selamat pagi, nyonya Nugraha.”


Vanka terdiam, melihat Bian yang sudah berdiri di depan pintu rumahnya sambil melipat tangan di dada dan menatap Vanka dengan senyuman.


“ Bi-bian? ”


Bian menghela napas. “ Aku udah tau kok, tentang pernikahan kamu sama Naufal.”


“ Tapi—”


“ Yo, kamu ternyata.”


Vanka menoleh ke belakang, mendapati Naufal yang sudah rapi sambil menyampirkan jasnya di bahu. Naufal berjalan mendekat ke arah pintu dan berdiri di sebelah Vanka. Manik mata pria itu menatap lurus Bian yang berada di hadapannya.


“ Selamat,” ucap Bian sambil mengulurkan tangannya.


“ Kenapa di sini? Seharusnya kamu mundur. ”


Bian mendecih, kemudian menurunkan tangannya kembali.


“ Mundur? Itu gak ada di dalam kamusku.”

__ADS_1


BERSAMBUNG..


__ADS_2