Menikah Karena Taruhan

Menikah Karena Taruhan
Angka Ganjil


__ADS_3

Ruangan apa ini? Kenapa banyak sekali benda tajam? Setelah sampai di depan kaca besar tersebut, Vanka memegangi kaca itu dan terus melihat benda-benda tajam yang terletak di sana. Vanka lebih mendekatkan dirinya dan dia menemukan sesuatu yang janggal.


“ Ada kode di tungkunya? ”


Vanka berusaha untuk menggeser lemari kaca itu, namun tidak bisa. Tapi dia tidak menyerah, wanita itu melihat sekeliling kaca dan akhirnya menemukan sebuah lubang kunci.


Vanka menjentikkan jarinya dan dia berjalan ke arah lemari kayu di dekat sana.


Vanka membuka lemari tersebut dan menemukan serantai kunci. Tanpa basa-basi lagi dia mengambil kunci tersebut dan mencocokkannya di lubang kaca itu.


Satu per satu kunci mulai Vanka masukkan namun tidak ada yang cocok. Sial, Vanka mulai frustasi sekarang. Padahal dia ingin sekali membuka lemari kaca itu dan mengambil salah satu pisau yang terdapat di sana.


“ *2.6.8? ”


“ Iya pak, itu angka genap kan? ”


“ Yah…kami punya kode itu masing-masing*.”


Perkataan Dafa dan Bian terngiang-ngiang di dalam ingatan Wanita itu. Vanka pun menoleh ke kaca itu sambil memegangi kepalanya yang sedikit pusing. Tepat sekali seperti apa yang dikatakan mereka. Pisau-pisau ini juga memiliki sebuah kode angka di ujung tungkunya.


Namun bukan angka genap yang tercetak, melainkan angka ganjil. Vanka pun kembali ke lemari kayu yang tergantung di dinding itu untuk menemukan sebuah kunci. Siapa tau saja terselip pikirnya. Namun pada saat itu juga, Vanka mendengar pintu masuk ruang bawah tanah itu terbuka.


Sialan!


Vanka berjalan kesana kemari untuk menemukan tempat bersembunyi. Namun sayangnya ruangan ini luas dan gopong. Tidak ada celah untuk bersembunyi.


“ Lampunya nyala? Kayaknya ada tikus ya.”


Karena mendengar suara Naufal yang sudah semakin mendekat, akhirnya Vanka memutuskan untuk bersembunyi di balik sebuah meja. Vanka pun menunduk dan menatap keramik putih di bawahnya.


Eh? Bercak merah?


“ Siapa yang ada di dalam sini? Mbok Ten? Atau Vanka? ” ucap Naufal sambil tersenyum menyeringai.


Vanka menekuk kedua lututnya dan dia berusaha untuk tenang.


“ Kalau mbok Ten gak mungkin sih, kan udah malam.”

__ADS_1


“ Atau jangan-jangan ini istriku yang cantik ya? Wah sudah pintar ternyata main masuk sembarangan.”


“ Keluar Vanka! ”


Bentakan Naufal barusan membuat Vanka semakin takut. Dia sampai menenggelamkan wajahnya di kedua lututnya.


“ Van, keluar sekarang. Baik, baik akan aku jelasin semua tapi tolong keluar. Ini gak seperti yang kamu pikir.”


“ Aku tau kamu sembunyi di balik meja. Liat ke atas dan di depan mata kamu ada CCTV. Jadi percuma aja mau sembunyi dimana aku tau.”


Vanka tersentak, kemudian secara perlahan dia mendongak ke atas. Benar, ada sebuah kamera pengintai di sudut ruangan. Kalau sudah begini mau bagaimana lagi pikirnya. Vanka menarik napas pelan dan dia pun segera keluar dari tempat persembunyiannya.


“ Apa yang kamu lakukan di sini? ” tanya Naufal sambil menatap lurus wanita yang sedang berdiri di samping meja kerjanya.


“ Gak ada,” jawab Vanka pelan sambil menunduk.


“ Kamu nyari ini kan? ”


Naufal mengangkat tangannya yang di sana terdapat sebuah kunci. Ya benar, itu adalah kunci lemari kaca tersebut. Vanka pun menghela napasnya dan berusaha menatap manik mata pria itu.


Pria itu membelalak setelah mendengar perkataan Vanka barusan.


“ Aku? Aku yang bunuh? ” Naufal menggelengkan kepalanya sambil tertawa kencang. Namun tawanya itu cukup membuat Vanka merinding.


“ Yang benar aja kamu Van. Aku ngebunuh asistenku sendiri. Dimana logikamu? ” Kini Naufal mulai geram.


“ Semuanya udah jelas kan?! Banyak pisau di sini dan senjata tajam lainnya. Terus juga kenapa perusahaan kamu punya lorong rahasia di balik saluran air? Coba jelasin ke aku Fal.”


“ Oh, jadi kemarin alasan ngambil cincin itu cuma alibi? ”


Vanka terdiam dan dia menelan ludahnya. Tapi mau bagaimana lagi, dia harus mengatakan itu agar membuat Naufal jujur karena Vanka sudah curiga dengan pria itu.


“ Iya. Kemarin itu aku bohong.”


Naufal langsung melemparkan kunci di tangannya ke arah Vanka. “ Buka lemari kaca itu dan ambil salah satu pisau.”


Vanka membelalak. “ Untuk apa?! ”

__ADS_1


“ Tapi bukannya tadi kamu mau lihat? ”


Walaupun tangan wanita itu sedikit bergetar, namun bukan Vanka namanya jika dia tidak memenuhi rasa penasarannya itu. Vanka pun berjalan pelan dan perlahan membuka lemari tersebut.


Manik matanya juga terus melirik Naufal yang masih diam di sana. Vanka hanya berwaspada, sejujurnya dia sangat takut jika tiba-tiba saja Naufal akan menyerang dari belakang.


“ Lihat kode yang ada di tungkunya,” suruh pria itu ketika dia sudah melihat Vanka memegang pisaunya.


“ 1.1.1 ” ucap Vanka pelan.


“ Itu angka ganjil atau genap? ” tanya Naufal.


“ Ganjil.”


“ Kamu perhatikan semua dan kamu lihat pisau itu satu per satu. Lihat apa ada yang genap di sana atau tidak.”


Vanka menuruti perintah Naufal dan dia mulai mengecek kode itu satu per satu. Dan memang benar, tidak ada angka genap di sana. Semuanya ganjil seperti, 1.3.5, .3.7.9, dan angka ganjil lainnya.


“ Masih ingat apa kata Dafa? Pisau berkode apa yang dipakai untuk membunuh pak Surya? ”


Vanka pun menoleh dan menatap Naufal. “ Genap? ”


“ Iya benar. Ganjil adalah kode milikku, barcode adalah kode milik Algar, dan genap… kamu bisa nebak sendiri itu milik siapa.”


Vanka menggeleng kuat. “ Gak mungkin! Gak mungkin Bian pembunuhnya! ”


“ Kenapa kamu yakin banget sih Van?! ”


“ Karena aku percaya Bian gak seperti itu.”


Naufal mendecih. “ Asal kamu tau aja, yang tau lorong rahasia di perusahaan itu bukan cuma aku. Tapi Bian juga tau.”


Pria itu membalikkan badannya sambil berjalan pelan. “ Ayo keluar, ini udah malam dan aku ngantuk. Satu lagi, kamu masih jadi istri aku, jadi gak boleh pisah kamar.”


Enggak, aku yakin bukan Bian pelakunya!


BERSAMBUNG.

__ADS_1


__ADS_2