Menikah Karena Taruhan

Menikah Karena Taruhan
Makan Malam


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Vanka merenggangkan otot-ototnya, padahal dia masih magang, tapi pekerjaannya sudah seperti karyawan tetap. Namun setelah itu Vanka langsung membereskan barang-barangnya dan bergegas pulang.


Ketika kaki jenjang itu mulai melangkah di lobi, dan Vanka tidak sengaja berpapasan dengan pemilik perusahaan tempat dia magang. Namanya adalah nyonya Emily. Dengan kursi roda hitamnya, Emily tersenyum saat melihat Vanka. Emily menyukai kinerja Vanka, sikap jujur wanita itu, serta kesopanannya. Sehingga Vanka adalah pekerja magang yang dipercaya oleh Emily.


“ Selamat sore Vanka."


“ Selamat sore juga nyonya Emily.”


“ Bagaimana hari ini? ”


“ Cukup berat,” jawab Vanka sambil tertawa kecil.


“ Beginilah dunia kerja, memang berat. Tapi nanti kamu jadi terbiasa kalau kerja di sini.”


Perkataan barusan apakah kode? Jika benar dia boleh melamar kerja di sini setelah lulus, itu akan sangat memudahkan.


“ Ngomong-ngomong, anda ingin kemana? ”


“ Menjumpai kamu.”


Vanka tertegun. “ Ada apa ya nyonya? Apa saya ada melakukan kesalahan? ”


Oh sial, apa jangan-jangan ini perkara kunci tadi pagi? Gawat!


Emily tertawa kecil melihat wajah Vanka yang lumayan tegang. “ Bukan kok.”


“ Lalu? ”


“ Saya ingin mengundang kamu makan malam di rumah saya. Kebetulan sekali hari ini putra tunggal saya berulang tahun.”


Vanka memang mengetahui jika Emily memiliki anak lelaki yang akan menjadi pewaris perusahaan ini. Tapi dia sama sekali tidak pernah melihat rupa orang itu.


“ Tapi saya tidak kenal dengan putra anda, nyonya.”


Emily mengernyit. “ Kamu gak tau ya? Padahal dia satu kampus sama kamu.”


Hah? Satu kampus katanya?


“ Saya tidak tau nyonya,” jawab Vanka sambil menggeleng pelan.


“ Ya sudah kalau memang tidak kenal. Tapi kamu datang ya, hari ini ada banyak makanan di rumah saya.”


Vanka terdiam sebentar. Kapan lagi makan masakan enak ala-ala konglomerat pikirnya. Bahkan segala macam dessert sudah terbayang di benak wanita itu. Membayangkannya saja membuat Vanka tidak bisa berhenti tersenyum.


“ Baik nyonya, dengan senang hati saya datang.”

__ADS_1


….


Di sebuah meja makan besar, terdapat hidangan-hidangan yang sangat lezat. Apa yang sempat terbayang di dalam benak Vanka kini menjadi nyata. Walaupun begitu, entah kenapa Vanka merasa sedikit tidak senang.


Bagaimana mungkin, seorang pria yang tidak disukainya bisa duduk di hadapan wanita itu.


Tidak hanya Vanka, namun Naufal juga sama terkejutnya. Dia baru mengetahui jika Vanka magang di perusahaannya. Dan Vanka juga baru mengetahui jika Naufal adalah putra tunggal Emily.


“ Bagus deh kalau kalian sudah saling mengenal,” ucap Emily sambil tersenyum.


“ Dia adik tingkat aku,” jawab Naufal sembari mengunyah makanannya.


“ Terus kalian pacaran? ”


Pertanyaan Emily tersebut membuat Naufal tersedak dan juga membuat steak yang baru saja dipotong oleh Vanka melayang.


“ Oh jadi gak pacaran ya? ” tanya Emily.


“ Enggak nyonya,” jawab Vanka sambil mengutip daging itu dengan tissue.


Naufal menghela napas dan melanjutkan acara makan malamnya. Tapi sedetik kemudian, dia baru mengingat jika akun instagramnya telah di blokir oleh wanita itu.


“ Oy.”


Vanka langsung mendongak dan menatap mata Naufal dengan kening mengkerut.


“ Gak mau,” jawab Vanka seakan tidak perduli dan membuat Naufal geram.


“ Heh, jangan ngelawan sama senior ya.”


“ Hih, jingin ngiliwin simi siniir yi.”


Naufal mendelik tajam, sementara Vanka langsung menutup mulut dengan tangannya. Masalahnya di sini ada nyonya Emily, jika tidak ada, Vanka juga tidak akan perduli dengan hal itu.


“ Sudah-sudah, kalau mau bertengkar nanti aja. Sekarang lanjut makan dulu ya, saya mau ke kamar sebentar,” ucap Emily dan salah satu pelayannya segera mendorong kursi roda tersebut menuju kamar utama.


Sesekali Naufal melirik Vanka yang tengah menyantap hidangan. Bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman. Tapi itu bukan senyuman tulus, melainkan senyuman yang memiliki arti lain.


Aku bakal menang, Bian.


….


Hari semakin larut, dan waktu menunjukkan pukul delapan malam. Walaupun Vanka tidak begitu senang karena bertemu dengan Naufal, tapi setidaknya dia bersyukur karena perutnya sudah terisi.


Kini Vanka ingin segera pulang dan memesan ojek online. Dia pun duduk di teras rumah keluarga Nugraha sambil menunggu pesanannya tersebut. Namun pada saat itu juga, Naufal keluar dari dalam rumahnya sambil memainkan kunci mobilnya.

__ADS_1


“ Aku antar.”


“ Gak usah! ” tolak Vanka cepat. Dan itu membuat Naufal membalikkan badannya.


“ Dari awal pertama ketemu emang kamu itu gak bisa santai ya sama aku? ” ucap Naufal lalu berjalan mendekati wanita itu.


Vanka menelan ludahnya ketika Naufal sudah berdiri di depannya dengan tatapan mengintimidasi.


“ Aku antar,” ulang Naufal.


“ Aku udah pesan ojek online,” jawab Vanka pelan.


“ Batalin.”


“ Eh mana bisa! Kasihan dong bapaknya! ” seru Vanka dan dia pun refleks bangkit dari duduknya.


“ Yaudah, tunggu datang nanti tinggal kasih uangnya.”


“ Aku juga sekalian pu—”


“ Kamu pulangnya sama aku.”


Vanka terdiam sambil memijit pelipisnya. Kenapa bisa ada orang seperti Naufal pikirnya. Hingga tak lama kemudian suara klakson motor terdengar di depan pagar. Vanka pun segera berjalan cepat, tapi sayangnya tangan wanita itu langsung ditahan oleh Naufal.


“ Mau lari ya? ”


Vanka menghela napas kasar, dan dia kembali duduk sambil melipat tangan di dada. Kemudian Naufal berjalan ke arah pagar, dan memberi bapak ojol itu lima lembar uang seratus ribu. Vanka langsung menganga sambil mengerjapkan mata. Sultan memang beda pikirnya.


Setelah memberi uang tersebut, Naufal berjalan ke tempat duduk Vanka kemudian memegang tangan wanita itu. Jelas saja hal tersebut membuat Vanka semakin melebarkan matanya dan mulutnya tidak jadi tertutup rapat.


“ Gak usah pegang-pegang! ” kata Vanka sambil menggoyangkan tangannya agar cengkraman Naufal terlepas.


“ Suaramu terlalu kuat. Kedengaran tetangga nanti jadi salah paham, dikira aku malah lagi *****-***** kamu.”


Refleks Vanka langsung menutup mulutnya menggunakan tangan kirinya. Benar juga kata pria itu, jika tetangga mendengar dan salah paham, bisa-bisa dia dinikahkan dengan Naufal. Ah tidak, itu adalah hal terburuk dan jangan sampai terjadi!


Dengan langkah gontai, Vanka membiarkan tangannya berada di dalam genggaman Naufal. Dia pun segera masuk ke dalam mobil sport hitam itu dan mereka langsung melesat dari sana.


….


Tidak ada kalimat apapun yang keluar dari mulut keduanya selama di perjalanan. Tadi Vanka hanya memberitahu alamat rumahnya pada Naufal, dan setelah itu mereka kembali diam.


Vanka melihat ke kaca mobil sambil menopang dagunya. Entah mimpi apa dia semalam, wanita itu benar-benar tidak menyangka jika Naufal akan mengantarkannya pulang. Di lain sisi, manik mata Naufal tidak berhenti untuk melirik Vanka. Yah kalau dia boleh jujur, Vanka memang cantik pikirnya.


Pantas saja jika Bian masih belum bisa melupakan Vanka sampai sekarang. Semenjak kejadian PKKMB itu, Bian memberitahu Naufal bahwasannya dia mengenal Vanka. Fakta yang cukup menarik bagi Naufal adalah, saat Bian bercerita kalau dia dan Vanka pernah menjalin hubungan.

__ADS_1


Menarik sekali tidak? Rasanya Naufal ingin sekali mendekati Vanka dan membuat hidup Bian hancur. Karena dia tau jika wanita itu adalah kelemahan Bian. Dan kini dia bisa membalas kematian ayahnya dengan cara menikahi Vanka. Dan pasti, itu akan membuat hidup Bian hancur bukan?


BERSAMBUNG...


__ADS_2