Menikah Karena Taruhan

Menikah Karena Taruhan
Restoran Mewah


__ADS_3

Naufal dan Bian menatap nanar pagar besi bewarna putih dengan balutan fiber hijau tosca itu. Sebenarnya Vanka tidak benar-benar masuk ke dalam rumah, namun dia berdiri menyandari pagar tersebut.


“ Van, kok tamunya diusir? ” tanya Bian dengan intonasi nada sendu.


“ Buka blokiran! ” teriak Naufal sambil memukul pagar tersebut.


Bian mengernyit. “ Kok blokiran? ”


“ Ya ini kita ibaratkan di blokir.”


“ Gak mau, kalian seram! ” teriak Vanka tak kalah kuat. Syukur saja daerah perumahan ini sepi, jadi tidak ada yang komplain. Ya terkecuali kalau sudah kelewat batas.


“ Aku bukan karnivora Van, dia nih yang karnivora,” ucap Bian sambil melirik ke samping.


Naufal mengehela napas, lalu berkata lembut.


“ Aku bukan karnivora atau apapun yang menyeramkan. Tapi aku cinta kamu.”


Hening beberapa saat….


“ Hah?! Cinta siapa?! ” teriak Vanka.


“ Bian! Iya cinta Bian! ”


“ Amit-amit, mending aku pacaran sama Annabelle.”


“ Tuhkan makin serem! Kalian homo! ”


Dibalik pagar, wanita itu sudah sangat mual dan ingin segera mengeluarkan apapun yang ada di dalam perutnya. Sementara Bian masih menatap Naufal dengan wajah datar. Yah tidak bisa dipungkiri jika Vanka merasa sedikit kasihan melihat dua orang itu. Mau tidak mau akhirnya Vanka membuka pagar rumahnya.


“ Buka blokiran.”


Dengan spontan Vanka langsung menendang tulang kering pria itu dan membuat Naufal meringis kesakitan sambil memegangi kakinya.


“ Apasih blokir-blokir mulu, emang kamu cocoknya yang di blokir dari muka bumi,” sarkas Bian, dan itu membuat Vanka tersenyum lebar lalu melakukan high five dengan Bian.


Sebentar… Melakukan high five?


Mereka berdua langsung menurunkan tangan masing-masing dan saling berdeham. Vanka menggosok-gosok telapak tangannya dan mengedarkan pandangan ke arah lain. Naufal yang sadar akan prilaku keduanya pun langsung mendecih.


“ Gini biar hangat,” ucap Naufal lalu menarik tangan Vanka dan menggenggamnya kemudian dimasukkan ke dalam saku hoodie hitam yang dikenakan Naufal.

__ADS_1


“ Dih apaan! ” Vanka menarik paksa tangannya sambil menatap pria itu dengan tajam.


Bian menghela napas dan masih memantau mereka berdua. Karena lelah Bian pun menyandarkan tubuhnya di mobil sport merah miliknya sambil melipat tangan di dada.


“ Jovanka Kesya, sekali lagi aku peringatkan, tolong buka blokiran di instagram.”


Seorang kakak tingkat yang diketahui mempunyai sifat angkuh dan senioritas ini memasang wajah memelas di hadapannya? Sungguh Vanka sama sekali tidak percaya. Siapapun tolong katakan jika sekarang bukan april mop.


“ Hpku di dalam.”


“ Ambil.”


“ Kok maksa?! ”


Kini giliran Bian yang pusing melihat mereka berdua. Pria itu berjalan mendekati Vanka dan menatap wanita itu dengan lembut.


“ Kita pergi yuk? Makan dimana gitu? ”


“ Di-dimana? ” tanya Vanka gugup. Dari dulu dia sangat menyukai tatapan lembut Bian yang seperti ini.


“ Dimana aja. Yaudah kamu siap-siap gih sana. Habis itu kita langsung berangkat ya.”


“ Oy tunggu! Mau kemana? ”


“ Kalau kamu penasaran yaudah ikuti aja dari belakang. Lagian yang datang kesini lebih awal itu aku, jadi aku yang punya kesempatan untuk ngajak dia pergi.”


Ucapan Bian terdengar dingin. Pria itu membalikkan badannya dan masuk ke dalam mobil, meninggalkan Naufal yang masih berdiri di tempat sambil menggepalkan tangannya.


Sialan!


….


Vanka menautkan kedua alisnya ketika menyadari Bian memarkirkan mobilnya di sebuah restoran mahal. Tangan milik Vanka langsung terulur memegang lengan kemeja Bian sebelum pria itu membuka pintu mobilnya.


“ Kenapa di sini? Mahal kan? ”


Yah walaupun Vanka tau bahwa Bian adalah orang berada, tetapi tidak harus di tempat ini juga pikirnya. Apalagi ke restoran mahal dengan seorang mantan? Yang benar saja!


Lebih cocok jika Bian membawa calon istrinya kemari. Tapi maaf sebelumnya, Vanka juga masih egois untuk membiarkan Bian punya calon istri secepat ini.


“ Ayo turun,” ajak Bian sambil mengelus punggung tangan wanita itu dengan ibu jarinya dan membuat wajah Vanka langsung memanas.

__ADS_1


“ Oke.”


Bian tersenyum, dan tak lama kemudian dia melirik kaca spionnya. Benar ternyata dugaan pria itu jika Naufal akan mengikuti mereka. Namun Bian tidak perduli dan langsung turun dari mobilnya.


Vanka terlihat bingung saat dia melihat menu yang berada ditangannya. Dia sama sekali tidak mneyangka jika ternyata harga makanan di restoran ini sangat mahal. Jika dipikir-pikir, lebih baik dia membayar UKT daripada memesan makan di sini.


“ Pulang aja yuk Bian? ” ucap Vanka pelan dari balik menu. Dia merasa tidak enak dengan pelayan yang sudah menunggu untuk mencatat pesanan.


“ Cavia’s beef steak dua, kamu mau minum apa? ” tanya Bian pada Vanka yang masih menganga tidak percaya.


“ Van? ” ulang Bian.


“ Eh iya, aku apple juice aja deh.”


“ Apple juice dua juga,” ucap Bian kepada pelayan itu sambil menyerahkan menunya.


“ Terima kasih, silahkan ditunggu pesanannya sebentar lagi.”


Vanka mengetuk-ngetuk meja di hadapannya ini dengan pelan. Sementara Bian melihat wajah manis itu dengan senyuman tipis. Vanka yang merasa diperhatikan jadinya salah tingkah. Wanita itu merapikan rambutnya sambil berdeham pelan.


Bian tertawa kecil melihat Vanka seperti itu. Namun ketika tangannya hendak terulur untuk merapikan surai wanita itu, Naufal sudah berdiri di tengah-tengah mereka dan tentu saja membuat keduanya terkejut.


“ Aku juga lapar,” ucap Naufal lalu menarik kursi di sebelahnya dan duduk di tengah-tengah mereka.


“ Mbak tolong menunya.”


Vanka mengerjap tidak percaya. Tindakan Naufal barusan seperti makan di kaki lima, tidak mencerminkan jika pria itu sedang berada di restoran mewah.


“ Nasi goreng sama teh manis satu.”


Padahal sudah jelas di sana tertulis jika nama nasi goreng itu menggunakan bahasa inggris dan ditambahkan embel-embel apalah yang Vanka sendiri juga tidak mengerti. Tapi dengan mudahnya pria itu menyebutnya dengan kata informal.


“ Bener-bener ya,” ucap Vanka sambil menggelengkan kepala.


“ Apaan? Intinya tetap nasi goreng kan? ”


Memang ada benarnya juga, tapi Vanka tetap saja menilai jika Naufal adalah pria aneh.


Hingga tak lama kemudian pesanan mereka semua datang. Tapi yang membawa nampan tersebut bukan pelayannya, melainkan seorang wanita muda yang diketahui adalah pemilik restoran tersebut.


“ Lama gak jumpa ya, Naufal.”

__ADS_1


Naufal yang merasa namanya disebut pun langsung mendongak. Begitu terkejutnya dia saat melihat rupa wanita itu. Secepat mungkin Naufal menoleh ke arah Bian yang sedang tersenyum licik sambil memainkan ponselnya.


BERSAMBUNG...


__ADS_2