
Suara getaran dari sebuah ponsel membuat tidur seorang pria menjadi terganggu. Tangannya meraba-raba nakas dan mencoba untuk mengambil benda tersebut. Perlahan matanya terbuka untuk melihat siapa yang menelfonnya pagi-pagi buta.
Naufal langsung terduduk dan membelalak. Dia masih mengabaikan panggilan dari Vanka dan melihat sekelilingnya. Pria itu langsung menepuk keningnya ketika melihat seorang wanita sedang terlelap di sampingnya tanpa mengenakan apapun dan hanya terbalut oleh selimut.
Pria itu memijit keningnya dan menghela napas kasar. Dia pun segera bangkit lalu pergi ke kamar mandi. Padahal pagi ini Naufal harus pergi ke kantor, tapi dia malah keasikan bermain sampai melupakan pekerjaannya.
Benar, ini karena kejadian tadi malam.
* Naufal mengacak rambutnya frustasi di depan layar laptopnya. Masalah skripsi belum selesai, ditambah lagi masalah perusahaan, rasanya dia ingin menjadi orang normal saja. Naufal melihat jam dinding di kamarnya yang sudah menunjukkan pukul enam sore namun Vanka belum pulang juga.
Dia ingin sekali menelfon wanita itu, tapi rasanya sedikit malas. Namun tiba-tiba saja ponsel pria itu berdering. Naufal menjawab panggilan masuk dari Cecile.
“ Hiks Naufal..hiks..”
Naufal mengernyit. “ Kenapa? ”
“ Kepalaku pusing banget.”
“ Kamu dimana sekarang? ” Naufal mulai khawatir.
“ Di hotel xxx kamar 303. Datang kesini please..”
“ Oke tunggu sebentar,” Naufal mematikan panggilan itu dan segera bergegas menuju lokasi.
Hingga tak lama kemudian pria itu sampai dan disambut oleh Cecile. Naufal meneguk ludahnya karena wanita itu hanya mengenakan lingerie saja. Namun saat itu juga dia melihat sebuah alkohol yang terletak di meja.
“ Gimana gak pusing, orang kamu minum,” ucap Naufal sambil duduk di salah satu kursi.
Cecile tidak menjawab, wanita itu malah mendudukkan dirinya dipangkuan Naufal dan membuat pria itu membelakak.
“ Ngapain kamu? ” tanya Naufal gugup.
“ Aku pusng Fal,” jawab Cecile sambil merapatkan dirinya kemudian menenggelamkan wajahnya di dada bidang Naufal.
Naufal terdiam, dia tidak membalas perkataan wanita itu. Tangan Cecile terulur untuk menarik tengkuk pria itu dan mencium bibir Naufal. Jujur saja Naufal tidak bisa menolak atas tindakan Cecile barusan, pria itu jadinya ikut terbuai dalam permainan Cecile.*
“ Fal..”
Naufal yang baru saja keluar dari kamar mandi hanya dengan berbalut handuk dipinganggnya, langsung menoleh ke arah tempat tidur dan melihat Cecile yang sudah terbangun.
__ADS_1
“ Kenapa? ”
“ Aku turut berduka atas kematian pak Surya.”
“ Hm, makasih,” ucap Naufal tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya.
Cecile beranjak dari tempat tidur, kemudian dia memeluk Naufal dari belakang. Pria itu terkejut karena masalahnya tubuh wanita itu masih tidak terbalut apa-apa.
“ Jadikan aku asisten kamu.”
….
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Namun Naufal tak kunjung menampakkan dirinya padahal mereka akan melakukan briefing. Vanka juga sangat gelisah dan kantung matanya tercetak jelas. Wanita itu tidak tidur karena terus-terusan memikirkan Naufal.
Kemarin malam suaminya tidak pulang dan Vanka sendiri juga tidak tau dia kemana. Vanka sudah menelfon pria itu berulang kali namun tak ada jawaban. Hal itu membuat Vanka sangat gelisah. Yah jujur saja dia sudah mulai khawatir dengan Naufal karena biar bagaimanapun pria itu adalah suaminya.
Para karyawan juga terlihat mengeluh karena sudah cukup lama menunggu. Tapi tak lama kemudian, suara langkah kaki Naufal sudah mulai terdengar di lorong dan para karyawan kembali tertib.
“ Maaf semuanya karena saya telat.”
Vanka langsung membelalak ketika melihat Cecile juga berdiri di samping suaminya. Sungguh, rasanya Vanka ingin bertanya secara membabi buta dan meminta penjelasan Naufal kemana saja dia kemarin malam.
“ Baik, selamat pagi semuanya. Sebelum memulai hendaklah kita berdoa menurut kepercayaan masing-masing.”
“ Mulai sekarang, jam kerja akan saya tingkatkan. Biasanya para karyawan sudah keluar dari kantor sekitar pukul lima sore. Tapi mulai hari ini kalian baru boleh keluar dari kantor pukul tujuh malam.”
Suara bisikan-bisikan tidak terima pun mulai terdengar dari seluruh karyawan. Vanka hanya bisa menghela napas kasar sambil menggelengkan kepalanya.
“ Saya tau itu cukup buat kalian kesal. Tapi kalian tenang saja, nanti akan ada bonus di slip gaji kalian.”
Perkataan terakhir cukup membuat mereka semua tenang.
“ Baik tolong dengarkan saya lagi. Perempuan yang di samping saya ini adalah asisten direktur yang baru, namanya adalah Cecile Mauren.”
“ Perkenalkan nama saya Cecile Mauren usia 23 tahun. Saya harap bisa bekerja sama dengan baik pada kalian semua,” ucap Cecile sambil tersenyum.
Semua karyawan bertepuk tangan dan membalas senyum Cecile. Namun ada seorang wanita yang tidak bisa menerima ini semua. Vanka menggeleng tidak percaya dan hanya bisa diam.
“ Pak Naufal, tunggu pak! ”
__ADS_1
Vanka berlari kecil untuk mengejar Naufal yang berjalan beriringan dengan Cecile. Ketika sudah hampir dekat, wanita itu pun menarik lengan Naufal sehingga membuat pria itu menoleh.
“ Ada apa? ” ucap Naufal tegas. Dan Cecile menatap risih wanita itu.
“ Kenapa bisa tiba-tiba mbak Cecile jadi asisten direktur? ”
“ Keputusan ditangan aku Vanka.”
“ Terus kenapa kamu tadi malam gak—”
“ Kalau mau bahas itu jangan di sini, nanti orang-orang bisa dengar. Sudah sana kamu urus berkas-berkas lain. Jangan malas mentang-mentang sudah mau selesai magang.”
Vanka terdiam melihat punggung keduanya yang mulai menjauh. Dia tidak percaya jika Naufal akan berubah sedrastis ini. Padahal waktu itu Naufal masih terlihat perduli, namun sekarang dia berubah total karena sudah dekat dengan Cecile.
Rasanya gak adil, benar-benar gak adil! ”
….
Derasnya hujan mengguyur kota Jakarta dan membuat udara cukup dingin. Seorang pria tua terbaring lemah di ranjangnya lalu mengeratkan selimut yang dikenakannya. Pria itu terbatuk sambil sesekali memegangi dadanya.
Namun tak lama kemudian, pintu kamar yang besar itu terbuka, dan seorang pria masuk ke dalam sambil membawa nampan yang diatasnya berisikan bubur dan segelas teh hangat.
“ Pelan-pelan yah,” ucap pria itu sambil memegang pundak ayahnya. Membantu agar bisa duduk.
“ Terima kasih.”
“ Makan dulu ya,” Pria itu menyuapkan sesendok bubur ke dalam mulut ayahnya.
Sementara pria paruh baya itu menatap putra tunggalnya dengan tatapan sedih dan perlahan butiran airmatanya keluar.
“ Maafkan ayah karena nyuruh kamu jadi penerus perusahaan. Sehingga kamu gak bisa capai cita-cita kamu menjadi dokter.”
Pria itu tersenyum. “ Gak apa-apa, ngejalani semua ini lebih menantang.”
“ Pipi kamu masih sakit? ” ucap pria baruh baya itu dan tangannya terulur untuk menyentuh wajah putranya.
“ Udah enggak kok. Aku baik-baik aja.”
Pria paruh baya itu menghela napas pelan kemudian menggenggam tangan putranya.
__ADS_1
“ Mau badai sekuat apapun, kamu tetap harus tegar karena cobaan gak akan pernah berhenti sebelum kita meninggalkan dunia ini. Ayah bangga sama kamu, kamu adalah pria hebat Bian.”
BERSAMBUNG.