
Vanka terbangun dari tidurnya dan dia melihat Naufal yang masih terlelap di sampingnya. Di saat dia sudah mulai ada rasa dengan Naufal, namun di saat itu jugalah hatinya dibuat hancur. Padahal pernikahan mereka baru seumur jagung, tapi sudah ada masalah besar. Ya begitulah jika pernikahan tidak di landaskan oleh cinta.
Tidak ingin membuang waktu, Vanka langsung beranjak dan menuju kamar mandi. Hingga beberapa menit kemudian, Vanka bersiap-siap dan melihat Naufal yang sudah duduk di tempat tidur. Pria itu tidak bisa berhenti menatap Vanka.
“ Kenapa? Ada yang aneh? ” tanya Vanka.
“ Enggak,” balas Naufal.
Ting nong!
Bel rumah mereka pun berbunyi dan Vanka segera berjalan keluar untuk melihat siapa yang datang pagi-pagi begini.
“ Naufal..”
“ Ada perlu apa? ” ucap Vanka dingin sambil menatap ke arah Cecile.
“ Naufal mana? ” balas wanita itu.
“ Ada perlu apa? ” ulang Vanka.
Cecile mendecih. “ Mulai sekarang aku tinggal di sini.”
Vanka membelalak dan fokus matanya teralih pada sebuah koper hitam di samping wanita itu.
“ Gak, gak bisa,” tolak Vanka.
“ Apa-apaan sih kamu?! Aku ini lagi ngandung anaknya Naufal! ”
“ Walaupun kamu lagi ngandung anaknya Naufal atau siapapun itu, tetap aja aku masih nyonya di rumah ini. Dan aku berhak ngelarang kamu.”
Cecile mulai geram dan dia menggepalkan tangannya. Namun pada saat itu juga Naufal keluar karena mendengar kebisingan dari ruang tamunya.
“ Cecile? Ngapain kamu? ” tanya Naufal sambil menaikkan sebelah alisnya.
“ Naufal..aku dimarahi sama dia.”
Cecile berlari ke pelukan Naufal dan telunjuknya mengarah ke Vanka. Sementara Vanka menganga tidak percaya atas sikap menggelikan Cecile barusan. Rasanya Vanka seperti sedang berada di dalam dunia sinetron sekarang ini.
“ Memangnya kamu bilang apa Vanka? ” tanya Naufal.
“ Aku cuma bilang kalau dia gak bisa tinggal di sini. Tuh kamu liat aja kopernya sendiri.”
Pandangan Naufal langsung beralih pada koper hitam yang masih berada di depan pintu. Pria itu menghela napas kasar kemudian memegang bahu Cecile, berusaha untuk melepaskan pelukan wanita itu.
“ Cil…”
“ Kenapa? Kamu juga berpikiran hal yang sama kayak Vanka? ”
“ Bukan gitu, tapi gimana kalau media tau aku tinggal dengan dua orang perempuan? Sedangkan pernikahanku sama Vanka aja belum ada yang tau.”
Cecile mendecih, lalu dia menghadap Vanka. “ Sebenarnya Naufal mau menikah sama kamu itu karena—”
“ Taruhan. Aku tau kok,” jawab Vanka dingin.
“ Terus kalau udah tau, kenapa gak pergi aja dari sini? ”
“ Cecile! ”
Cecile tidak menghiraukan Naufal dan dia berjalan mendekati Vanka.
__ADS_1
“ Kalau aku jadi kamu, aku udah malu tau gak. Emangnya kamu gak malu apa dinikahi hanya karena sebuah saham? Gak punya harga diri ya? ”
“ Cukup Cecile! ”
Vanka mencengkram roknya kuat. Karena sudah tidak tahan wanita itu langsung keluar rumah dan berlari kecil sampai-sampai Naufal tidak bisa menahannya.
“ Apa-apaan kamu?! ” bentak Naufal pada Cecile.
“ Apa-apaan? Aku bicara yang benar Fal! ”
“ Tapi gak seharusnya kamu ngomong begitu.”
“ Kenapa? Kamu udah mulai suka sama dia? ”
Naufal terdiam, dia tidak bisa menjawab perkataan Cecile.
“ Aku gak perduli Fal. Aku tetap akan tinggal di sini sampai anak ini lahir.”
….
Vanka duduk di salah satu tempat makan saji dan memesan menu sarapan pagi. Selama magang dia baru membolos dua kali. Dan ini adalah yang kedua kalinya. Rasanya Vanka malas masuk kantor karena kejadian tadi pagi yang membuat moodnya hancur seketika.
Wanita itu memilih untuk membuka laptopnya dan mengerjakan sesuatu di sana. Vanka mengerjakan laporannya yang belum selesai. Vanka meminum kopinya sambil terus mengetik sesuatu.
Namun tiba-tiba saja ponsel wanita itu berdering dan Vanka langsung mengambilnya dari dalam tas.
Oh sial mbak Silvi!
“ Pa-pagi mbak.”
“ Dimana kamu?! Kok gak masuk? ”
Vanka tidak berbohong, dia memang sedang sakit hati sekarang.
“ Duh Van gimana ya, tapi laporan kamu masih banyak yang belum siap.”
“ Saya tau mbak, kalau gitu mbak kirim saja ke email ya? Biar saya kerjakan.”
“ Iya deh iya, cepat sembuh ya Van. Besok kalau udah mendingan jangan lupa masuk! ”
“ Siap mbak, terima kasih.”
Vanka pun menghela napasnya lega. Walaupun tidak sepenuhnya lega. Tapi ketika dia ingin memasukkan ponselnya ke dalam tas, dia teringat akan Widya. Siapa tau saja wanita itu bisa datang untuk menemani dirinya dan membantu mengerjakan laporannya.
“ Halo Wid, kalau gak ada kerjaan, bisa temani aku gak? Di Mcd xxx, oke aku tunggu.”
Setelah menutup panggilan itu Vanka kembali mengerjakan laporannya. Sekitar 20 menit kemudian, Widya datang dan langsung duduk di hadapan Vanka yang masih fokus terhadap sesuatu.
“ Oy! Serius banget.”
Vanka tersentak dan dia langsung tersenyum melihat Widya.
“ Wid aku mau curhat.”
Widya mengernyit. “ Soal apa? ”
“ Emang bener ya kalau cinta bisa datang dengan sendirinya? ”
“ Hah? Kok tiba-tiba? ” Widya mulai heran.
__ADS_1
“ Aku udah mulai suka sama Naufal, tapi..”
“ Tapi?? ”
“ Dia udah punya anak sama mantannya.”
“ HAH?! ”
Semua orang yang ada di sana kini melihat ke arah meja mereka berdua karena teriakan Widya yang cukup kuat. Mereka segera meminta maaf dan kembali melanjutkan pembahasan.
“ Biasa aja dong, aku malu,” ucap Vanka berbisik.
“ Ya maaf,” jawab Widya pelan sambil tercengir.
“ Gimana ceritanya kak Naufal udah punya anak? ”
Vanka menghela napas. “ Dia ada main sama mantannya.”
“ Wah gila! Terus sekarang gimana? ”
“ Perempuan itu minta tinggal di rumahnya Naufal. Yah wajar aja, dia juga nikahi aku karena taruhan.”
Widya membelalak. “ Taruhan? Taruhan gimana? Siapa yang buat taruhan itu? Bener-bener gak ngotak.”
Vanka terdiam sambil mengedarkan pandangannya. “ Kak Algar,” ucap Vanka pelan namun masih di dengar oleh Widya.
“ Kak Algar? Maksud kamu kak Algar yang buat taruhan itu?! ”
Vanka mengangguk, sementara Widya terdiam.
“ Apa yang dijanjikannya? ” tanya Widya lagi.
“ Saham.”
Widya menggeleng pelan karena dia sama sekali tidak percaya jika Algar yang membuat taruhan itu.
“ Kak Bian atau kak Naufal yang jujur? ”
“ Bian.”
Widya megangguk pelan karena dia juga tau kalau Bian adalah orang jujur dan tidak mungkin berbohong soal itu. Widya pun memijit pelipisnya yang basah karena keringat menggunakan sapu tangan.
Vanka menautkan kedua alisnya ketika melihat benda yang sedang dipegang Widya.
Wanita itu pun langsung membuka tasnya dan melihat sebuah benda di dalam sana. Entah kenapa kini jantungnya berdetak.
“ Wid,” ucap Vanka sambil memegang tangan Widya.
“ Ya? ”
“ Kamu tau kalau kak Algar punya perpustakaan? ”
Widya mengernyit. “ Perpustakaan? Mana ada, halu kamu ya Van? ” jawab Widya sambil tertawa.
Vanka menggeleng kuat dan semakin mengeratkan genggaman tangannya pada Widya.
“ Aku gak tau ini benar atau salah, tapi kayaknya kak Algar punya kemampuan menghipnotis orang lain. Aku mohon sama kamu jangan terpengaruh dan aku juga butuh bantuan kamu Wid! ”
BERSAMBUNG.
__ADS_1