
Vanka melihat penampilan wanita di depannya ini dari ujung kaki hingga ujung kepala. Wow, barang-barangnya branded semua pikirnya. Secara tidak sengaja, manik mata Vanka melirik ke arah Naufal yang terlihat sedikit risih dengan kehadiran wanita itu.
“ Ini pesanannya,” ucap wanita itu sambil meletakkan beberapa pesanan mereka bertiga di atas meja.
“ Terima kasih,” jawab Vanka sambil tersenyum ramah.
Sementara Naufal dan Bian hanya diam sambil memainkan ponsel masing-masing.
Yah Vanka tidak tau apa masalahnya sampai-sampai mereka tidak ingin membalas perkataan wanita itu. Namun Vanka tidak perduli dan memilih untuk meminum jus apel yang sudah berada di hadapannya. Padahal bentukannya sama seperti jus apel di tempat makan kaki lima, tapi kenapa harganya begitu mahal? Entahlah, mungkin saja buah-buahan di restoran ini semuanya impor dari Amerika pikirnya.
“ Naufal, apa kabarmu? ” ucap wanita itu dan duduk di sebelah Naufal.
“ Baik,” Naufal hanya membalas singkat perkataan wanita itu.
Hingga tak lama kemudian manik mata Vanka dan wanita itu bertemu secara tidak sengaja. Dia pun tersenyum ramah ke arah wanita itu dan Vanka hanya bisa membalas senyumannya.
“ Pacar kamu ya Bian? ”
Mendengar perkataan tersebut membuat Vanka tersedak, dan Bian pun segera memberinya sebuah napkin. Vanka juga sempat melihat raut wajah Naufal yang tidak suka saat wanita itu menyebut dirinya adalah pacar Bian. Apa-apaan dengan ekspresi itu?!
“ Bukan kok Cecile, dia itu—”
“ Mantan. Cuma mantan.”
Bian dan Vanka membelalak ketika Naufal memotong perkataan Bian. Pria itu juga menegaskan kata mantan di dalam kalimatnya. Intonasi nada itu terdengar sangat dingin.
__ADS_1
“ Oh mantan ya.. Wah berarti kita sekarang kayak lagi double date with mantan gitu dong ceritanya,” ucap wanita yang bernama Cecile itu sambil tertawa pelan.
Sebentar, tadi apa katanya? Double date with mantan? Apa jangan-jangan dia mantannya Naufal?!
Tapi Vanka juga tidak heran jika wanita itu adalah mantannya Naufal, dilihat dari gayanya saja pasti siapapun juga percaya. Kini Vanka baru menyadari kenapa raut wajah Naufal berubah seketika waktu melihat Cecile.
“ Aku balik dulu,” ucap Naufal tiba-tiba dan langsung bangkit dari duduknya.
Tapi tiba-tiba saja, Vanka ikut bangkit lalu memegang pergelangan tangan pria itu. Naufal langsung menoleh tidak percaya. Begitu pun dengan Bian dan Cecile.
“ Kok balik sekarang? Aku belum buka blokiran instagram kamu loh.”
Ucapan Vanka justru membuat Naufal tersenyum manis pada wanita itu sambil mengacak-acak rambutnya. Entah kenapa tiba-tiba saja raut wajah Vanka memerah dan dia mulai merasakan jantungnya berdetak tidak karuan. Sama seperti apa yang dirasakannya pada Bian.
“ Gak apa-apa, aku cuma pengen balik aja. Lagian aku juga gak mau ganggu kencan kamu sama Bian.”
“ Bukan kencan kok! ”
“ Iya Vanka iya, besok-besok aku tunjukin gimana kencan yang sebenarnya.”
Naufal membalikkan badannya dan berjalan menuju pintu keluar. Tapi tak lama kemudian dia menoleh kembali sambil menjentikkan jarinya.
“ Nasi gorengnya bawa pulang aja Van buat mama. Sekalian titip salam dari calon mantu.”
Vanka hanya bisa tersenyum mengingat ibunya sudah tidak ada, tapi Naufal malah ingin membawakan makanan. Memangnya mau makan bagaimana? Di alam kubur? Benar-benar tidak lucu.
__ADS_1
Dan tanpa wanita itu sadari, Bian masih terus menatap ke arah pintu keluar sambil menggepalkan tangannya lalu Cecile melirik Vanka dengan tatapan tidak suka.
….
Setelah beberapa menit Naufal pergi, Cecile pun juga ikut pamit. Karena merasa suasananya sudah tidak enak, akhirnya Bian juga mengajak Vanka pulang. Satu hal yang wanita itu sayangkan, beef steak dan jus apel milik Bian belum tersentuh sama sekali. Padahal harganya sangat mahal. Apa gabutnya orang-orang kaya seperti itu ya?
Vanka merebahkan dirinya di tempat tidur, memandang layar ponselnya yang menampilkan akun sosial media seseorang, ya itu adalah akun milik Naufal yang blokirannya sudah dibuka oleh Vanka. Dan secara tidak sadar bibir wanita itu membentuk sebuah senyuman. Namun setelah dipikir-pikir, Naufal itu lucu juga.
Hey, menganggap seseorang lucu bukan berarti suka pada orang itu kan? Vanka hanya berpikiran jika sikap Naufal sangat lucu, sudah itu saja dan tidak lebih. Nama Bian masih terukir di hatinya. Dan tidak tau kapan nama itu akan memudar.
Tiba-tiba saja ponsel hitam milik Vanka bergetar menandakan ada sebuah panggilan masuk. Dilihatnya nama kontak pemanggil itu dan jemarinya segera menggeser tombol hijau.
“ Sore mbak Silvi, ada apa ya? ”
Vanka langsung terduduk ketika mendengar kabar kurang baik dari sebrang sana.
“ Nyonya Emily masuk ruang ICU?! ”
Segera mungkin wanita itu langsung berganti pakaian dan bersiap-siap menuju rumah sakit. Walaupun status Emily hanyalah seorang bos, tapi dia sudah sangat dekat dengan wanita paruh baya itu. Bahkan tak jarang Emily menyuruh Vanka masuk ke dalam ruangannya hanya untuk makan siang.
Jika ada kabar buruk mengenai Emily, rasanya Vanka sangat khawatir. Mengingat Emily juga seorang janda yang sakit-sakitan. Usia wanita paruh baya itu pun sudah mencapai 50 tahun. Entah kenapa dia sangat yakin jika sekarang Naufal sedang bersedih melihat kondisi ibunya.
Vanka mengambil jaketnya yang tergantung di belakang pintu kamar, dan sedikit memoleskan bedak serta lipstik. Vanka menuruni anak tangga dengan cepat, tak lupa pula dia berpamitan pada abangnya, lalu setelah itu segera beranjak untuk menuju rumah sakit.
BERSAMBUNG...
__ADS_1