
Walaupun hawa di ruangan ini sangat berat karena para konglomerat sedang berkumpul, namun Vanka berusaha untuk mengalihkan pikirannya dan segera berjalan menuju pintu. Tapi baru saja tangan itu hendak memegang knop, suara Algar sedikit mengejutkan Vanka.
“ Kamu magang di sini Van? ”
Mau tidak mau Vanka berbalik dan mengangguk menjawab pertanyaan itu. “ Iya kak.”
Algar tertawa sambil menggelengkan kepala lalu bertepuk tangan. Dan itu membuat semua orang yang ada di sana menatapnya heran.
“ Hahaha menarik banget! ”
Naufal dan Bian menghela napas kasar karena mereka sudah tau apa maksud ucapan Algar barusan. Namun hal itu tidak berlaku bagi Vanka dan Cecile. Mereka berdua tidak tau apa-apa.
“ Menarik gimana ya kak? ” tanya Vanka bingung.
“ Gak apa-apa kok Van. Yaudah deh aku cabut duluan, semangat ya kalian berdua,” ucap Algar sambil menepuk bahu kedua temannya itu.
Melihat Algar yang keluar dari ruangan, ini adalah kesempatan Vanka untuk mengikuti pria itu dari belakang. Namun lagi-lagi dia tidak diperbolehkan untuk melangkahkan kakinya keluar karena sebuah tangan mencengkram lengannya.
“ Van tunggu,” Bian menarik lengan Vanka dengan lembut.
Sejujurnya Vanka benar-benar ingin membanting benda apapun yang berada di sini. Dia benar-benar sangat kesal karena sedari tadi dihalang terus menerus. Ini juga sudah jam makan siang dan dia sangat lapar, tapi Bian malah menahannya.
“ Kenapa lagi? ” tanya Vanka dengan raut wajah malas.
Bian paham jika sekarang Vanka sedang kesal. Maka dari itu dia segera menurunkan tangannya dari lengan wanita itu.
“ Mau makan siang bareng? ”
Mendengar itu Naufal langsung menyangkal perkataan Bian. “ Gak bisa! Dia masih banyak kerjaan.”
“ Jangan ngada-ngada kamu Fal. Ini udah jam makan siang, anak orang mau kamu biarin mati? ”
“ Dia makan bareng aku.”
Manik mata Cecile membulat dan wanita itu langsung memegang lengan kekar Naufal ketika pria itu ingin menghampiri Vanka.
“ Tapi kamu bilang mau makan siang bareng aku kan?! ”
“ Gak jadi. Kamu sama Bian aja,” jawab Naufal sambil melepas rangkulan wanita itu.
“ Loh Fal? Kok kamu gitu sih?! ”
Namun ketika Naufal ingin menarik tangan Vanka, Bian langsung menghalangi pria itu.
“ Kalau udah janji sama orang itu ditepati. Belajar jadi pemimpin yang baik.”
Bian merangkul pundak Vanka dan membuat wanita itu sedikit terkejut. Pria itu langsung menuntun Vanka untuk keluar dari ruangan, meninggalkan Naufal yang melihat punggung keduanya sambil menggepalkan tangan.
….
“ Ngapain sih? ”
Widya, kekasih Algar bertanya pada pria itu sambil memoleskan bedak di wajahnya. Wanita itu melirik Algar yang terus menatap kaca depan dengan serius. Seperti tengah memantau seseorang dari dalam mobilnya.
“ Sayang?! ”
__ADS_1
Algar tersentak karena Widya menyenggol tangannya dan juga membuat lengan pria itu jadi menekan klakson mobilnya dengan tidak sengaja.
“ Kenapa sayang? Bentar dong, lima menit aja.”
“ Lima menit apaan, ini udah lebih dari sepuluh menit! Nanti aku telat sayang, masih ada barang yang mau di en—”
“ Nah! ”
Seruan Algar membuat Widya terkejut. Wanita itu pun mengikuti arah pandang Algar untuk melihat apa yang membuat pria itu berseru.
“ Loh loh, itu kan Vanka? ” ucap Widya heboh.
“ Eh tapi emang Vanka magang di perusahaan kak Naufal sih, cuma kok keluarnya bareng kak Bian? Kenapa mereka bisa berdua? ”
Widya mengernyit ketika melihat Algar tersenyum miring. “ Kamu gak lagi sawan kan? ”
Algar menoleh kemudian mencium pipi kekasihnya itu. “ Cerewet banget sih.”
Widya terdiam dan pipinya bersemu merah. Sementara Algar langsung menyalakan mesin mobilnya dan segera melasat dari sana.
Jadi permainan ini akan dimenangkan oleh siapa?
….
Vanka mengaduk minumannya sambil sesekali melirik ke arah kaca jendela. Kini dia dan Bian sedang duduk di sebuah café yang terletak di dekat perusahaan Nugraha karena mengingat waktu istirahat yang akan berakhir sebentar lagi dan Vanka juga masih banyak pekerjaan, maka mereka memutuskan untuk datang ke tempat yang dekat saja.
“ Van,” ucap Bian sambil menatap manik mata wanita itu.
Vanka menoleh. “ Iya? ”
“ Kabar Beta gimana ya? ”
“ Atau jangan-jangan udah mati karena gak ada yang kasih makan lagi? ” lanjut Bian.
“ Gak mungkin deh, kan ada pak Jono,” sangkal Vanka.
Yah pak Jono adalah pembersih halaman di sekolah mereka dulu.
“ Hm bener juga sih,” jawab Bian sambil mengangguk.
Setelah percakapan singkat itu, tidak ada lagi yang memulai pembicaraan. Keduanya terdiam namun pandangan satu sama lain saling bertemu. Bian mengetuk-ngetuk meja dan terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu. Dia sangat ingin mengatakan jika masih mempunyai rasa terhadap Vanka.
“ Van? ”
“ Iya? ”
“ Sebenernya aku—”
Tiba-tiba saja ponsel pria itu berdering. Bian mengambil ponselnya dan melihat siapa yang tengah menelfonnya.
“ Kenapa Fal? ”
“ Kasih hpmu sama Vanka sekarang! ”
Mendengar teriakan Naufal yang seperti sedang panik, Bian pun langsung menyerahkan ponselnya kepada Vanka.
__ADS_1
“ Ya halo? ”
“ Ke rumah sakit sekarang! Mama sekarat! ”
….
Vanka berlari di lorong koridor rumah sakit dan Bian mengikuti wanita itu dari belakang. Setelah mendapat telfon dari Naufal mengenai Emily yang sedang sekarat, Vanka langsung bangkit dari duduknya lalu Bian mengantarkan wanita itu untuk ke rumah sakit.
Vanka melihat Naufal dan Cecile yang sedang duduk di ruang tunggu. Naufal langsung beranjak dari duduknya dan menghampiri Vanka.
“ Tadi dokter bilang mama manggil-manggil nama kamu.”
Vanka tertegun. “ Terus? ”
“ Mungkin dia mau jumpa kamu.”
Vanka mengangguk dan segera masuk ke ruang ICU diikuti oleh Naufal di belakangnya.
“ Aku juga mau ikut masuk! ” ucap Cecile tiba-tiba.
“ Ruang ICU gak bisa dimasuki lebih dari dua orang,” tegas Naufal.
“ Tapi—”
Cecile terdiam karena Naufal langsung pergi begitu saja. Wanita itu sangat kesal dan kembali duduk sambil menghentakkan kakinya. Bian yang juga duduk di sebelah wanita itu hanya bisa menghela napas pelan melihat tingkah laku Cecile barusan.
Setibanya di dalam ruangan, Vanka mendengar deruan napas Emily yang tersengal. Dia memegang tangan Emily dan mengelusnya lembut.
“ Saya di sini nyonya.”
Perlahan mata Emily terbuka dan dia tersenyum saat sudah melihat Vanka.
“ Ma-makasih u-udah mau da-datang,” ucapnya terbata.
“ Saya pasti datang nyonya.”
“ Vanka..” Emily menggantungkan kalimatnya.
“ Iya nyonya, ada apa? Bilang saja.”
“ Tadi sa-saya sempat mimpi, ka-kamu dan Naufal me-menikah.”
Vanka terdiam, dia masih menunggu wanita paruh baya itu melanjutkan perkataannya. Sementara Naufal sudah membulatkan matanya dan jantungnya berdetak hebat.
“ Mau turuti permintaan sa-saya yang terakhir? ”
“ Apa itu tante? ” jawab Vanka pelan. Perasaaannya sudah mulai tidak enak sekarang.
“Setelah saya pergi, Naufal akan sendirian. A-ayahnya sudah ti-tidak ada.”
Vanka tertegun dan langsung melihat Naufal yang tengah menutup wajahnya dengan satu tangan. Pria itu sedang menyembunyikan tangisannya.
“ Vanka..” lanjut Emily.
“ To-tolong gantikan sa-saya untuk merawatnya. Sa-saya sangat percaya jika kamu adalah orang yang tepat untuknya.”
__ADS_1
“ Jadi, tolong menikahlah dengan Naufal.”
BERSAMBUNG...