
A/n : cuma mau bilang, kalau kalian baca cerita ini jangan di skip ya karna biar ngerti jalan ceritanya π
Oke, selamat membaca ^^
.
.
.
Naufal melangkahkan kakinya dengan cepat dan raut wajah pria itu juga terlihat senang. Bahkan sampai membuat para karyawan wanita di perusahaan Flowgear terkesima melihat senyuman Naufal.
Naufal mengehentikan langkahnya ketika sudah sampai di depan pintu yang bertuliskan ruangan direktur. Naufal mengetuk pintu itu selama tiga kali dan akhirnya terdengar suara seorang pria dari dalam sana dan menyuruh Naufal agar segera masuk.
β Oy, pagi,β ucap Naufal.
β Ya ya pagi. Ada apa nih? Kok tumben? β tanya pria itu.
Naufal mendicih sambil tersenyum lalu duduk di sofa.
β Al, jangan bilang kamu lupa? Atau pura-pura lupa.β
Kening Algar mengkerut. β Lupa? Apaan sih, gak ngerti.β
β Saham.β
Seketika itu juga manik mata Algar membulat. β Berhasil nikahi dia? β
Naufal mengangguk lalu menunjukkan cincin di jarinya. β Liat aja sendiri buktinya.β
Algar bangkit dari posisinya kemudian berjalan mendekati Naufal. Pria itu merunduk untuk bisa melihat cincin itu dengan jelas.
β Imitasi.β
β Nenek buyutmu imitasi.β
β Gak usah bawa-bawa nenek buyut, dia udah tenang di alam sana.β
Naufal memutar bola mata malas. β Udah cepetan mana surat sahamnya.β
β Seburuk itukah angka perusahaanmu Fal? β tanya Algar sambil menaikkan sebelah alisnya.
β Hm, lumayan.β
β Tapi sebelumnya..β Algar menggantung kalimatnya dan bersandar di meja kerjanya sambil melipat tangan.
β Ceritain dong gimana kamu bisa nikah sama dia. Kok tiba-tiba udah akad aja.β
__ADS_1
β Aku ngelakuin saranmu.β
Algar mengernyit. β Saranku? Yang mana? β
Naufal menghela napas pelan. β Bermain-bermain dengannya.β
Algar membelalak tidak percaya. β Serius? Beneran main? β kemudian pria itu bertepuk tangan sambil tertawa. β Gila gila, nekat juga kamu lakuin saran dari aku. Padahal itu cuma bercanda.β
β Bercanda? Jangan ngada-ngada kamu,β Naufal menatap mata pria itu. Tapi beberapa detik kemudian dia langsung mengalihkan pandangannya sambil mengusap wajah.
β Oke, mengenai surat saham kamu tenang aja. Aku gak mungkin bohong.β
β Terus kapan di proses? β
β Oh gak semudah itu Fal. Ngomong-ngomong, kamu tau kan istilah timbal balik? β
Naufal menghela napas dan mengangguk paham. Dia sudah yakin pasti Algar tidak akan mudah menyerahkan harta itu begitu saja. Pasti dia juga minta jaminan sebagai imbalan. Yah bisa dibilang dengan istilah barter mungkin.
β Aku ngerti, jadi apa yang harus ku serahkan?β
Algar tersenyum simpul. β Sertiββ
Ucapan Algar terhenti karena tiba-tiba saja ponsel milik Naufal berdering. Pria itu langsung bangkit dari duduknya kemudian menjawab panggilan masuk tersebut. Dahinya mengkerut ketika melihat Dafa menelfonnya.
β Kenapa Daf? Hah?! Jadi sekarang gimana? Kapan kejadiannya?!Oke oke, tunggu aku sebentar lagi.β
β Kenapa? β
Bukannya menjawab, namun Naufal justru mengacak rambutnya sambil berteriak frustasi.
β Argh! β
Algar mendekati Naufal dan menepuk bahu pria itu pelan. Dia berusaha menenangkan. Jujur saja jika Algar juga penasaran dengan apa yang terjadi.
β Kenapa sih? β
β Asistenku terbunuh.β
β¦.
Vanka duduk di meja kerjanya sambil menopang dagunya. Wanita itu benar-benar heran dan bingung, siapa sih yang tega sekali melakukan pembunuhan terhadap pak Surya? Memangnya pria tua itu punya dosa apa sampai-sampai bisa menjadi korban.
Para karyawan juga masih membahas tentang kejadian tadi. Karena keasikan mengobrol semuanya jadi lupa terhadap pekerjaan, termasuk Vanka sendiri. Dia masih termenung sambil menatap layar komputernya dengan tatapan kosong.
Hingga tak lama kemudian, terdengarlah suara langkah kaki yang sangat jelas dan orang itu mendorong kuat pintu ruangan administrasi.
β Silvi! Dafa! β
__ADS_1
Semua yang berada di dalam sana langsung tersentak ketika melihat Naufal yang sudah berdiri di depan pintu ruangan dengan raut wajah kesal dan keringat yang bercucur banyak di kening pria itu. Jujur saja Vanka tidak tega melihat keadaan suaminya sekarang ini. Pasti Naufal sedang terpukul sekali sekarang.
Naufal langsung berjalan mendekati meja Silvi. Di sana juga sudah ada Dafa yang sedang berdiri sambil memegang sebuah bukti.
Para karyawan bagian pemasaran yang baru selesai dari lapangan pun ramai berkumpul di depan ruangan administrasi untuk melihat kejadian itu. Tentu saja semuanya sangat penasaran dengan kasus mengerikan ini.
Tanpa basa-basi lagi, Dafa langsung menyerahkan bukti tersebut. Vanka terpaksa bangkit dari poisisinya dan mencondongkan badannya agar bisa melihat mereka bertiga.
β 2.6.8? β ucap Naufal ketika melihat kode yang ada di pisau itu.
β Iya pak, itu angka genap kan? β tanya Dafa sambil menaikkan sebelah alisnya.
Angka genap?
Setelah sadar dengan perkataan Dafa barusan, Naufal langsung menggenggam bukti tersebut dengan kuat sampai tangannya memerah. Vanka membelalak ketika melihat Naufal semarah itu. Apa maksudnya dengan angka genap? Sampai-sampai Naufal tidak bisa membendung amarahnya.
β Maksudnya apa ya pak? Jadi siapa yang bunuh pak Surya? β
Bukannya menjawab perkataan Silvi, Naufal justru langsung melangkahkan kakinya keluar sambil membawa bukti tersebut. Vanka yang melihat itu pun segera berjalan mengikuti Naufal. Dia sangat ingin mengetahui kemana pria itu akan pergi.
β Tunggu Fal, kamu mau ngapain? β Vanka masih terus mengikuti Naufal dengan mempercepat langkahnya agar bisa sejajar dengan pria itu.
β Kak Naufal?! β
Vanka yang sudah tidak tahan diabaikan akhirnya memegang lengan Naufal dan membuat Naufal menoleh sambil menatapnya tajam.
β Tolong lepasin, saya sedang buru-buru.β
Mendengar ucapan dingin Naufal membuat Vanka bungkam dan akhirnya melepaskan cengkramannya.
β Baik, saya minta maaf.β
Vanka berbalik, kemudian berjalan untuk masuk ke dalam ruangannya. Dia sempat menoleh ke belakang sebentar, tapi wanita itu sudah tidak melihat punggung Naufal karena pria itu sudah berlalu.
Oke, kalau kamu gak mau ngasih tau, biar aku yang akan cari tau sendiri.
β¦.
Tanpa aba-aba, Naufal langsung membuka pintu sebuah ruangan dengan keras dan menimbulkan suara yang cukup mengejutkan.
Bugh!
Pria itu langsung memukul wajah seorang pria yang sekarang sedang berada di hadapannya. Naufal segera menarik kerah baju pria itu sambil mendekatkan wajahnya dan menggertakkan giginya.
β Keparat kamu! Sialan! β
BERSAMBUNG...
__ADS_1