
Vanka merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Dia sangat lelah dan kepalanya pusing karena setelah kepergian Emily, dia tidak bisa tidur sama sekali. Namun Vanka masih teringat akan suasana pemakaman siang tadi. Semua pekerja di perusahaan Nugraha datang untuk mendoakan Emily. Bahkan tak sedikit pula yang menangis mengingat Emily adalah seorang bos yang sangat baik, sama seperti suaminya yang dulu juga pernah memimpin perusahaan.
Apalagi jika membayangkan Naufal yang sangat sangat terpukul. Pria itu menangis tertunduk sambil memegang batu nisan ibunya. Dia mencengkram nisan itu kuat, seakan tidak ingin membiarkan ibunya pergi untuk selamanya. Ditambah lagi, Naufal yang akan menanggung beban perusahaan itu seorang diri. Yah, Vanka sangat paham bagaimana rasanya jadi pria itu.
Tiba-tiba saja perkataan Emily kemarin malam terngiang kembali di kepalanya. Sial, Vanka tidak tau harus berbuat apa sekarang. Bagaimana bisa Emily menyuruhnya untuk menikah dengan Naufal? Wanita itu memeluk bantalnya erat sambil berguling ke kanan dan ke kiri.
Tidak, Vanka tidak ingin menikah dengan Naufal. Namun entah kenapa bayangan Emily seperti menghantui dirinya saat dia memikirkan hal itu sampai-sampai tidak bisa tidur semalaman dan menyebabkan kantung matanya terlihat jelas.
Daripada kepalanya pecah hanya karena memikirkan hal tersebut, Vanka memilih untuk memejamkan mata, membiarkan tubuhnya beristirahat sebentar. Yah biarlah takdir yang menjawab bagaimana ke depannya. Vanka hanya bisa menyerahkan hidupnya pada yang Kuasa.
….
“ Selamat siang, pak.”
Seorang pria paruh baya bernama Surya, yang merupakan asisten direktur, masuk ke dalam ruangan Naufal dan menyerahkan sebuah amplop cokelat.
“ Dari siapa? ” tanya Naufal sambil membuka amplop tersebut.
“ Klien.”
Kening Naufal mengekerut ketika dia membaca tulisan yang terdapat di kertas HVS putih tersebut. Dia menghela napas kasar dan dengan spontan memukul mejanya.
“ Klien atas nama Dermawan meminta kita untuk segera melakukan penarikan dana.”
Naufal tidak menjawab. Dia masih menunduk sambil menautkan jari-jarinya.
“ Angka kita menurun lagi menjadi 2,5 persen. Dan masih banyak juga klien yang ingin menghentikan kerjasamanya dengan kita.”
“ Perusahaan xxx juga sudah membatalkan penandatanganan kontrak dua hari yang lalu.”
Naufal menghela napas kasar lalu mendongak. Menatap pria itu dengan cukup tajam.
“ Saya tau. Bisa anda keluar sekarang? ”
“ Baik pak, saya permisi.”
Setelah pintu ruangan kembali tertutup rapat, Naufal melemparkan berkas yang tadi dipegangnya. Pria itu merapatkan gigi-giginya dan juga mengacak-acak rambutnya. Kepalanya benar-benar pusing sekarang.
__ADS_1
Memang semenjak Emily meninggal, lagi-lagi saham perusahaan menurun.
Setiap ada berita-berita buruk yang terjadi, saham perusahaan Nugraha langsung turun drastis. Sementara kedua perusahaan yang menjadi saingannya masih berada di atas. Seolah-olah seperti sedang mengejek Nugraha yang sudah mulai goyang.
Satu-satunya cara yang bisa membuat Nugraha bangkit kembali adalah cara itu. Menikahi Vanka dan menarik 25 persen saham dari Flowgear. Naufal sangat yakin, jika Vanka masih kepikiran dengan ucapan Emily kemarin malam. Sepertinya dia juga harus berterima kasih pada Emily yang sedang beristirahat dengan tenang.
Lagian Vanka juga tidak mungkin akan menolak bukan?
….
Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Vanka merenggangkan otot-otot tubuhnya yang kaku. Yah tidur selama empat jam sudah lumayanlah pikirnya. Tiba-tiba saja Vanka merasa haus, dan dia segera beranjak dari tempat tidurnya untuk mengambil minum.
Vanka melihat keponakannya terlelap di sofa ruang tamu, mereka adalah Sani dan Soni. Kembar memang, dan wajah anak berumur tujuh tahun itu sangat lucu sehingga membuat Vanka geram dengan keponakannya sendiri.
Jika ingin ke dapur, Vanka memang harus melewati kamar tidur abangnya terlebih dahulu. Namun pada saat itu juga, dia mendengar sedikit suara ribut dari dalam sana. Karena penasaran, Vanka pun menempelkan kupingnya di pintu cokelat tersebut.
“ Kenapa jatah bulan ini kurang mas? ”
“ Maaf sayang, kemarin aku bayar spp Vanka. Sama sekalian bayar cicilan motor.”
“ Mas, aku bukannya iri sama adik kamu, tapi uang sekolah anakmu aja belum dibayar, malah dahuluin uang spp Vanka.”
“ Aku tau, kewajiban kamu juga menafkahi dia karena dia adik kamu dan orangtua juga udah gak ada. Tapi jangan lupakan kewajibanmu juga sebagai seorang ayah.”
Vanka terdiam. Kakinya terasa lemas. Memang benar yang dikatakan kakak iparnya, selama ini abangnya selalu mendahulukan kebutuhan dirinya. Padahal Vanka juga sudah mencoba mencari kerja, tetapi belum dapat panggilan interview. Sekarang dia hanya mengharapkan uang yang dihasilkannya dari magang. Walaupun itu hanya cukup untuk uang jajan saja.
Vanka kembali ke kamarnya dan mendudukkan dirinya di atas tempat tidur. Vanka memejamkan matanya kemudian menarik napas lalu menghembuskannya secara perlahan.
Jika dia menikah dengan Naufal, pasti pria itu yang akan memenuhi kebutuhannya bukan? Jika dia menikah dengan Naufal, pasti dia tidak akan menyusahkan keluarga abangnya lagi bukan? Tapi yang menjadi pertanyaan adalah, apakah Naufal mau menikah dengannya?
Benar apa yang dikatakan oleh Widya, jangan terlalu menunjukkan rasa tidak suka kepada orang lain karena suatu saat kamu akan berhubungan dekat dengan orang itu. Sial, lagi-lagi Vanka merasa bingung.
Drrrtt…drrrtt..
Tiba-tiba saja ponsel wanita itu bergetar dia atas nakas. Vanka segera mengambil ponselnya namun keningnya mengkerut melihat nomor tidak kenal. Tapi karena penasaran, Vanka menjawab panggilan itu, kali saja penting pikirnya.
“ Halo? ”
__ADS_1
Tidak ada jawaban dari sebran sana. Yang terdengar hanyalah suara dentuman musik yang sangat kuat sehingga membuat Vanka sedikit menjauhkan ponselnya.
“ Halo? Siapa sih? ”
Masih tidak ada jawaban.
“ Kalau gak jelas aku matikan nih.”
Namun ketika wanita itu ingin menekan tombol merah, terdengar suara deruan napas yang berat dari sebrang sana.
“ Van..”
Vanka menaikkan sebelah alisnya. Dia juga merasa suara itu familiar, seperti suara Naufal mungkin.
“ Van, jemput aku di club xxx.”
“ Siapa sih ini?! ” Vanka mulai tidak sabar.
“ Naufal..” lirih orang dari sebrang sana dan beberapa detik kemudian panggilan itu terputus.
….
Vanka mengerjapkan matanya. Dia juga bingung, kenapa dia benar-benar datang untuk menjemput pria itu?!
Tapi kemudian Vanka menghela napas pelan. Naufal adalah yatim piatu juga sama seperti dirinya sekarang ini, jadi apa salahnya dia membantu pria itu pikirnya.
Suara dentuman musik dan bau alkohol sangat menyengat membuat Vanka ingin muntah. Namun dia tidak peduli dan melanjutkan langkahnya.
Hingga tak lama kemudian manik mata itu menemukan Naufal yang sedang duduk di sofa sambil meneguk segelas vodka. Padahal pria itu sudah tidak sadar, tetapi masih saja meneguk minumannya.
“ Ayo balik! Dasar kakak tingkat sialan.”
Naufal mendongak dan tersenyum saat melihat wanita itu. Namun bukan senyuman tulus yang ditampilkan.
Vanka mulai sedikit takut. Wanita itu mundur perlahan, mencoba untuk menjauh dari Naufal. Tapi sayangnya, Naufal langsung menggendong Vanka dan membuat wanita itu berteriak sambil meronta-ronta.
Namun, Naufal tidak memperdulikan hal itu dan tetap melanjutkan langkahnya menuju suatu ruangan. Dia merasa ingin bersenang-senang dengan Vanka. Mungkin dengan cara ini, mereka dapat segera menikah.
__ADS_1
BERSAMBUNG...