
Perkataan Algar kemarin cukup membuat Vanka kepikiran. Jebakan mereka? Jebakan apa memangnya. Wanita itu sama sekali tidak mengerti dengan ucapan Algar. Yah daripada dia pusing memikirkan hal semacam itu, lebih baik dia melanjutkan pekerjaannya karena masih ada yang belum siap.
Vanka meneguk satu cup coffee yang selalu menemaninya disaat wanita itu tengah sibuk menatap layar komputer. Tak lupa pula tumpukan berkas juga selalu berada di sana. Selang beberapa menit Vanka fokus pada tugasnya, dia malah tidak sengaja mendengar bisikan-bisikan dari karyawan wanita.
“ Katanya hari ini direktur muda yang masuk loh karena nyonya Emily sakit.”
“ Serius nih? Beruntungnya kita pagi-pagi bisa cuci mata.”
Direktur muda? Ah Vanka mengerti sekarang. Orang yang mereka maksud adalah Naufal. Siapa lagi jika bukan dia? Tapi Vanka juga tidak percaya dengan ucapan karyawan tadi. Cuci mata katanya? Melihat wajah itu saja sudah membuat perutnya sakit.
Vanka menggeleng pelan sambil tertawa kecil. Karena asik membayangkan wajah Naufal yang seperti raja hutan, dia sampai tidak sadar jika pria itu sudah bersandar di meja kerja wanita itu sambil melipat tangan di dada.
“ Ada yang lucu? ”
Eh?
Vanka meneguk ludahnya dan membelalak ketika sudah menoleh ke samping. Entah kenapa dia merasa jika pria itu sedang mengejeknya.
“ G-gak ada kok pak,” jawab Vanka gugup lalu kembali melihat komputernya.
Biar bagaimanapun juga, jika di kantor Vanka harus memanggilnya dengan sebutan bapak. Tapi ada satu hal yang membuat Vanka sedikit merasa berbeda ketika melihat Naufal.
Yaitu karena pakaian yang dikenakannya. Kemeja putih beserta balutan jas hitam dengan rambut yang lumayan licin agar terlihat rapi, tampilan itu benar-benar mencerminkan bahwa dia adalah seorang direktur tetap, bukan mahasiswa tingkat akhir.
Apakah Vanka terpesona? Yah jujur saja, dia sedikit terpesona.
Naufal mengambil salah satu tumpukan berkas itu dan membacanya dengan serius. Secara tidak sadar manik mata wanita itu melirik Naufal yang tengah fokus sambil mengeluarkan pulpen dari dalam saku kemeja.
Sialan sialan! Gak usah sok keren gitu dong.
“ Kamu beneran mahasiswa manajemen? ” tanya Naufal sambil melirik Vanka dan pandangan keduanya saling bertemu.
“ Ya-ya iyalah! Emangnya kenapa? ”
Naufal mencampakkan berkas yang dipegangnya tadi ke meja Vanka.
“ Perkalianmu hancur.”
__ADS_1
Vanka langsung mengambil kertas itu dan melihatnya dengan mulut menganga. Kini catatan laporannya penuh dengan coretan tinta merah. Padahal sebentar lagi dia akan menyerahkannya kepada Silvi.
Naufal kembali menyimpan pulpen merah itu dan berjalan sambil memasukkan tangannya ke dalam saku celana.
“ Jangan lupa di revisi ya nona Kesya.”
Vanka merapatkan gigi-giginya sambil menggepalkan tangan. Sungguh dosen killer yang ada di fakultas mereka saja sampai kalah dibuat pria itu. Dan satu lagi apa katanya? Kesya? Sial, Vanka benar-benar benci jika ada seseorang yang menyebutnya dengan panggilan itu.
Naufal sialan!
….
Cecile merapikan rambutnya yang terbang terkena angin. Bibir merahnya tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman karena dia sudah menginjakkan kakinya di perusahaan Nugraha. Dia mendapat kabar dari Bian jika Naufal sekarang berada di sana karena menggantikan Emily yang sakit.
Dengan penuh percaya diri, wanita itu masuk dan segera menjumpai Naufal mantan kekasihnya ketika SMA. Cecile memutuskan hubungan mereka dengan alasan ingin melanjutkan kuliahnya di Cambridge sedangkan Naufal orang yang tidak bisa melakukan hubungan jarak jauh.
Tanpa perlu mengetuk, Cecile langsung membuka knop pintu tersebut. Naufal yang tadinya fokus terhadap berkas-berkas di hadapannya langsung melihat lurus ke depan sambil menautkan kedua alisnya.
“ Loh? Kamu kena—”
Belum sempat Naufal menuntaskan kalimatnya, Cecile sudah terlebih dahulu membungkam bibir pria itu dengan bibirnya.
Jujur saja sebenarnya Naufal masih mencintai Cecile. Bahkan bisa dibilang dia tidak terima jika mereka harus putus. Karena terbawa suasana, akhirnya Naufal membiarkan Cecile sedikit bermain dengannya. Dia pun menarik pinggang wanita itu agar lebih mendekat.
….
Vanka berjalan di koridor dengan setumpuk berkas di tangannya. Dia ingin pergi ke ruangan Naufal karena Silvi berkata padanya kalau lebih baik dia menyerahkan semua berkas itu langsung kepada Naufal agar tidak terjadi kesalahan lagi.
Tapi Vanka langsung dijegat oleh salah seorang karyawan wanita dan itu membuat Vanka menautkan kedua alisnya.
“ Mau ke ruangan pak Naufal? ”
Vanka mengangguk. “ Iya.”
“ Biar aku aja yang kasih,” jawab wanita itu sambil tersenyum paksa.
“ Oh gak usah mbak, aku aja.”
__ADS_1
“ Gak apa-apa, aku aja.”
“ Aku aja mbak.”
“ Aku aja Van! ”
Vanka menghela napas kasar. “ Memangnya ada apa mbak? ”
“ Para direktur muda lagi ngumpul di ruangan pak Naufal.”
Vanka mengernyit. “ Para direktur? ”
“ Ya ampun Van, masa kamu gak tau sih? Itu loh direktur muda dari Flowgear sama Giovano. Sekarang ada di sini mau bahas tentang masalah perusahaan, yah bisa dibilang mereka lagi rapat,” ucap wanita itu panjang lebar.
Vanka mengangguk paham. Tapi sayangnya Vanka tidak mudah untuk membiarkan karyawan wanita itu mengambil alih pekerjaannya karena dia tau jika wanita itu hanya ingin tebar pesona dengan para direktur muda.
“ Maaf mbak, tapi ada hal yang perlu saya bicarakan juga dengan pak Naufal. Kalau begitu saya permisi,” ucap Vanka dan langsung melewati wanita itu.
Hingga setibanya di depan ruangan, Vanka mengetuk pintu selama tiga kali. Tidak perlu waktu lama sudah terdengar suara Naufal yang menyuruh wanita itu untuk masuk.
Vanka membuka knop pintu tersebut, dan manik matanya membulat sempurna ketika melihat Bian dan Algar tengah duduk berhadapan dengan Naufal.
Namun tidak hanya Vanka yang terkejut, melainkan kedua pria itu juga. Bahkan sampai saat ini Bian tidak bisa berhenti mengerjapkan matanya. Vanka sangat terlihat dewasa ketika mengenakan seragam kantoran.
“ Ma-maaf saya mengganggu,” ucap Vanka sambil berjalan pelan.
Dan dia baru menyadari satu hal jika Bian dan Algar adalah direktur muda dari perusahaan Giovano dan Flowgear. Pantas saja nama belakangnya sama, awalnya Vanka hanya mengira jika itu sebuah kebetulan, tapi ternyata tidak.
Karena Vanka berjalan sambil menunduk, dia sampai tidak sadar jika ada sepasang kaki wanita di hadapannya. Vanka langsung mendongak untuk melihat siapa seorang wanita yang tengah berdiri di hadapannya itu. Karena setahu Vanka tadi di dalam sana tidak ada seorang perempuan.
“ Jalannya jangan nunduk, nanti bisa nabrak.”
Vanka mengerjap, ternyata wanita itu adalah Cecile yang pernah dijumpainya di restoran beberapa waktu silam. Dan Vanka juga sudah tau jika Cecile merupakan mantan Naufal.
“ Maafin saya,” jawab Vanka sambil tersenyum kaku.
Tidak ingin membuang-buang waktu, Vanka segera meletakkan semua berkasnya di meja kerja Naufal. Setelah selesai, dia pun membalikkan badannya dan melihat tiga orang pria dan seorang wanita yang tengah berkumpul sambil menatap lurus dirinya.
__ADS_1
Sebentar, hawanya kok berat banget?!