
Naufal duduk di kasurnya sambil memainkan ponsel dengan tersenyum. Ada hal yang sangat membuat pria itu senang. Kini saham yang telah diberikan Algar sudah laku terjual. Vanka yang baru saja keluar dari kamar mandi menatap pria itu sambil menautkan kedua alisnya.
“Kenapa kamu? Kok senyum-senyum sendiri?”
Kini Vanka duduk di samping Naufal tapi pria itu tidak memperdulikannya. Vanka pun sedikit mendekat untuk mencoba mengintip ponsel milik pria itu. Tapi Naufal sadar dan dia langsung membalikkan ponselnya sambil menoleh ke arah wanita itu.
Sial, karena jarak mereka yang sangat dekat, bibir keduanya pun bertemu. Vanka membelalak, sementara Naufal hanya diam. Vanka pun langsung menjauhkan dirinya, namun gerakan itu cukup lambat sehingga Naufal dapat dengan mudahnya menarik tengkuk wanita itu dan memperdalam ciuman mereka.
Entah kenapa Vanka tidak bisa menolak. Benar, sejak kecelakaan itu mereka sama sekali belum melakukan malam pertama. Vanka mengalungkan tangannya di leher Naufal dan mengkuti permain pria itu.
Namun tiba-tiba saja, terdengar suara ketukan yang berasal dari luar pintu kamar mereka. Naufal menghela napas kasar, dan Vanka menutup wajahnya karena malu. Padahal wanita itu ingin menjauh, tapi seakan ada tarikan magnet yang membuat wanita itu semakin mendekat.
“ Cecile? ”
Seketika itu juga Vanka langsung menoleh ke arah pintu. Di depan sana Cecile sudah berdiri sambil memegang sesuatu di balik punggungnya. Vanka beranjak dari duduknya ketika dia merasakan ada yang tidak beres.
“ Fal..” ucap Cecile lirih. Membuat pasangan suami istri itu bingung.
“ Aku hamil.”
Vanka langsung membelalak tidak percaya sambil menutup mulutnya. Dia tercekat seperti ada sesuatu yang menyumbat tenggorokannya. Terlebih lagi melihat Cecile yang memeluk Naufal sambil mengeluarkan airmata. Entah airmata apa itu, yang jelas hati Vanka sangat sakit.
“ Kamu yakin kalau itu anakku? ” ucap Naufal pelan dan tidak membalas pelukan itu.
Cecile langsung melepaskan pelukannya dan menatap Naufal. “ Kamu gak percaya? Sama siapa lagi aku ngelakuin itu kalau bukan sama kamu.”
“ Ngelakuin itu? ”
Vanka melihat Naufal dengan tatapan tajam sementara pria itu langsung mengusap wajahnya kasar. Vanka sendiri tidak menyadari jika Cecile menatapnya dengan penuh kemenangan.
“ Jawab Fal! Ngelakuin apa?! ” bentak Vanka.
“ Aku itu sekarang udah jadi istri kamu! Apa salah aku bertanya? ”
Sial, airmata yang berusaha ditahan wanita itu akhirnya lolos. Namun Vanka segera menghapus airmata itu dan kembali menatap keduanya secara bergantian.
“ Cil maaf, tapi aku gak yakin kalau janin yang kamu kandung itu anakku.”
Cecile langsung memegang lengan Naufal dan kembali memeluk pria itu. “ Enggak Fal, aku cuma ngelakuin itu sama kamu. Waktu kita di hotel.”
Vanka sudah tidak tahan lagi dan dia pun memutuskan untuk mengambil tasnya. Namun dengan cepat Naufal melepas pelukan Cecile kemudian menghampiri Vanka.
“ Mau kemana kamu? ” ucap Naufal tegas saat dia melihat Vanka memasukkan ponsel dan dompetnya ke dalam tas.
“ Bukan urusanmu.”
“ Aku suami kamu tentu aja itu urusanku! ”
__ADS_1
Vanka menatap tajam pria itu dan tersenyum kecut. “ Jadi baru ini kamu ngakui aku sebagai istrimu? Kamu udah ngerebut harga diriku, dan nikahi aku dengan alasan tanggung jawab, tapi kamu malah ngebuat perempuan lain hamil. Ironis banget Fal.”
Naufal terdiam. Dia tidak mampu membalas perkataan Vanka. Kini rasa bersalah telah menyelimuti pria itu.
“ Lepasin Fal, aku mau keluar,” ucap Vanka dingin sambil melepas cengkraman Naufal dari tangannya. Sekarang Vanka tidak perduli lagi, dia ingin menjernihkan pikiran.
….
Setelah berhasil keluar dari rumah itu, jujur saja Vanka bingung mau kemana. Dia sudah menghubungi Widya untuk mengajaknya pergi jalan-jalan, tapi temannya itu ada urusan dengan Algar.
Berbicara tentang Algar, jujur saja wanita itu masih sedikit aneh dengan kakak tingkatnya. Tapi Vanka tidak ingin memperdulikan hal itu lagi, dia mungkin telah salah paham dengan Algar. Pikiran aneh itu hanya pikiran buruknya saja.
Sekarang Vanka tengah berdiri di sebuah halte. Pikirannya seakan berkata jika dia harus ke rumah Bian. Entah kenapa rasanya Vanka ingin bertanya mengenai keanehan yang dialaminya.
“ Loh? Neng Vanka?! ”
Seorang asisten rumah tangga keluarga Giovano terkejut saat melihat Vanka yang sudah berdiri di depan pagar rumah Bian. Vanka pun tersenyum melihat wanita paruh baya yang sudah lama dikenalnya itu.
“ Selamat siang,” ucap Vanka ramah sambil berjalan masuk ke dalam.
“ Siang neng Vanka. Apa kabarnya? Udah lama banget ya! ”
Vanka mengangguk. “ Iya udah lama banget. SMA kelas dua aku terakhir kali main kemari.”
“ Mas Bian ada di dalam tuh, masuk aja.”
Vanka pun segera masuk ke dalam rumah Bian. Namun ketika dia sudah sampai di ruang keluarga, Vanka melihat ayahnya Bian duduk di kursi roda sambil menonton acara televisi.
“ Se-selamat siang om,” ucap Vanka pelan, namun terdengar oleh pria paruh baya itu.
“ Vanka ya? ” tanya tuan Giovano sambil menyipitkan matanya.
“ Iya, saya Vanka,” jawab wanita itu sambil tersenyum dan berjalan ke arah ayahnya Bian.
“ Kaki om kenapa? ”
“ Oh, saya emang udah sakit-sakitan jadinya gini. Apalagi semenjak masalah itu.”
Vanka mengernyit. Tapi sedetik kemudian dia paham. Pasti masalah yang dimaksud adalah masalah perusahaan.
“ Saya sudah dengar masalahnya om. Saya turut berduka atas beban yang om pikul.”
“ Terima kasih Vanka.”
Namun pada saat itu juga, Bian turun dari anak tangga dan dia terkejut akan kehadiran Vanka.
“ Vanka? ”
__ADS_1
Wanita itu langsung menoleh saat namanya disebut. “ Oh Bian,” jawab Vanka sambil tersenyum.
“ Ngapain kamu di sini? ” tanya Bian heran.
Jujur saja Vanka menanggapi ucapan pria itu barusan seperti sedang mengusirnya. “ Nada bicaramu kayak gak enakin gitu deh.”
Dia udah gak punya harga diri lagi.
Perkataan Algar beberapa waktu silam masih terngiang di kepala Bian. Segera mungkin pria itu menggelengkan kepala untuk menepis pikiran buruknya.
“ Maaf Van, aku gak bermaksud. Maaf ya,” ucap Bian sambil tersenyum tulus.
“ Gak apa-apa kok.”
“ Gimana kalau kita bicara di balkon aja? ”
Vanka mengangguk pertanda setuju dan mereka berdua segera naik ke atas untuk membicarakan sesuatu.
….
“ Jadi, ada perlu apa tiba-tiba kemari? ” tanya Bian sambil menoleh ke arah Vanka.
“ Aku langsung to the point aja boleh gak? ”
Bian mengernyit. “ Tentang apa? ”
Vanka menghela napas pelan dan wanita itu pun menatap manik mata Bian dalam-dalam.
“ Kamu tau alasan Naufal sebenarnya nikahi aku karena apa? ”
Bian membelalak. “ Ke-kenapa nanya gitu? ”
“ Gak apa-apa, jawab aja. Karena dari awal aku udah ngerasa ada yang aneh.”
“ Maafin aku Van.”
Vanka mengernyit, melihat Bian yang tengah tertunduk.
“ Maaf buat apa? ”
“ Aku, sama Naufal sebenarnya terlibat dalam taruhan.”
Kini Bian mengangkat kepalanya dan raut wajahnya terlihat sangat menyesal.
“ Aku minta maaf Van. Karena kamu adalah korbannya.”
BERSAMBUNG.
__ADS_1