Menikah Karena Taruhan

Menikah Karena Taruhan
Ruang Rahasia


__ADS_3

Bian melangkahkan kakinya di koridor sebuah perusahaan. Tanpa basa-basi lagi dia langsung masuk ke dalam ruangan direktur. Para karyawan di sana yang tengah melihat Bian merasa sedikit takut karena dia adalah direktur perusahaan yang selalu terlibat dalam kasus pembunuhan.


“ Eh? Kenapa Bian? ”


Algar yang sedang mengetik sesuatu di laptopnya langsung tersentak karena kehadiran Bian yang tiba-tiba tanpa mengetuk pintu atau mengucapkan salam.


“ Al, aku mau batalin kerjasama kita yang di Kalimantan.”


Perkataan tersebut membuat Algar menautkan alisnya. “ Kok tiba-tiba? ”


Bian pun langsung melemparkan sebuah amplop cokelat yang sedari tadi dipeganggnya. Algar mengambil amplop tersebut dan membaca isinya.


“ Bangkrut? ”


Bian menghela napasnya kasar dan menjatuhkan dirinya di sofa. Pria itu memijit pelipisnya, dan Algar yang melihat itu menjadi kasihan lalu menghampiri Bian.


“ Makanya kemarin itu jangan asal milih wakil direktur. Korupsi kan jadinya.”


“ Ayahku yang milih.”


“ Ayah kamu udah salah di awal. Syukur aja aku bantu carikan orang yang tepat untuk gantikan posisi pak Daniel.”


Namun tiba-tiba saja, Algar baru menyadari akan luka memar Bian, dan dia pun segera menanyai itu.


“ Lukamu, Naufal yang buat? ”


“ Iya,” balas Bian singkat.


“ Memangnya bukti mengarah ke kamu ya? ”


Bian menghela napas. “ Pisau, entah kenapa pisaunya bisa ada di TKP. Padahal jelas-jelas di rumah masih ada benda itu.”


Algar mengernyit. “ Masih ada? Dengan kode yang sama? ”


“ Iya. Aku ngerasa lagi dijebak.”


Keduanya pun terlihat berpikir. Tapi kemudian Bian melanjutkan perkataannya.


“ Apa ada yang menggandakan ya? ”


“ Maksudnya? ” jawab Algar sambil mengernyit.


“ Mungkin ada yang iri sama aku, terus dia sengaja fitnah aku dan ngejatuhin Giovano secara perlahan sampai…”


“ POOF! Tumbang, ” ucap Bian lantang dan itu membuat Algar terkejut.


“ Biasa aja dong, kaget aku.”


Bian terkekeh pelan. “ Maaf, oh iya ngomong-ngomong kamu jadi serahin saham itu ke Naufal? ”


Algar menaikkan tangannya ke belakang dan menyandarkan badannya di sofa. “ Jadi, maaf ya karena dia yang menang.”


“ Sekarang aku gak perduli lagi.”


Ucapan Bian membuat Algar menoleh ke samping. “ Yakin? ”

__ADS_1


“ Iya. Aku udah mikir berulang kali juga, kalau seandainya aku yang menang dan aku nikahi Vanka karena taruhan…”


Bian menggelengkan kepalanya sambil tersenyum miris. “ Apa pantas aku disebut sebagai seorang pria? Bukan pria sejati, tapi pecundang.”


Sekarang Algar merasa tidak enak dengan Bian karena soal taruhan itu memanglah idenya.


“ Oke, aku minta maaf.”


“ Bukan sama aku, tapi sama Vanka. Yah lagian nasi udah jadi bubur.”


“ Tapi ngomong-ngomong, kamu tau kenapa Vanka mau nerima Naufal sebagai suaminya?”


Bian mengernyit. Dia sampai lupa ingin menanyakan hal itu pada Vanka.


“ Aku gak tau.”


Algar mendecih. “ Itu karena Vanka udah kehilangan harga dirinya.”


….


Vanka meneguk ludahnya dan dia terlihat panik. Namun Naufal masih berdiam diri dengan tatapan mengintimidasi.


“ Ada tikus ya ternyata,” ucap Naufal sambil tersenyum miring.


Vanka tidak membalas perkataan Naufal dan dia lebih memilih untuk keluar dari dalam sana lalu menutup saluran air itu kembali.


“ Ngapain kamu masuk ke dalam itu? ” ulang Naufal.


“ Aku ngambil cincin, tadi jatuh,” jawab Vanka sambil membersihkan baju kerjanya.


Vanka memutar bola matanya malas dan menghela napas pelan. Dia harus membuat Naufal percaya dengan kata-katanya.


“ Beneran! Tadi aku lagi pegang cincin kawin kita sambil mikir, ini pasti kalau dijual mahal banget ya. Eh tiba-tiba aja cincinnya jatuh ke dalam lubang itu yaudah aku ambil. Lagian di dalam sana gelap, jadi gak mungkin aku lama-lama.”


Setelah mendengar penjelasan Vanka, pria itu menghela napas dan berjalan mendahuluinya. Pada saat itu juga Vanka lega karena dia berhasil mengelabui Naufal.


Vanka kembali menatap lubang saluran air itu. Ternyata memang ada yang tidak beres pikirnya. Vanka sangat yakin jika lorong itu hanya diketahui oleh orang-orang penting saja. Atau mungkin tidak diketahui siapapun. Tapi manusia mana yang tega membunuh pak Surya sehingga sampai mengendap-ngendap dari dalam sana?


Vanka pun melihat punggung Naufal yang mulai menjauh dengan tatapan yang sulit diartikan. Dan seketika itu juga Vanka mengingat jika dia pernah melihat bercak merah di hoodie yang dikenakan Bian.


Enggak, gak mungkin. Gak mungkin salah satu dari kalian berdua.


….


Segelas kopi dan beberapa cemilan dari dalam kulkas terletak di atas meja ruang tamu sambil menemani Vanka mengerjakan laporannya. Rambut wanita itu terlihat acak-acakan dan wajahnya kusut. Waktu untuk mengumpulkan laporan sudah dekat dan dia masih mengerjakan satu halaman.


Terlebih lagi dia masih memikirkan kejadian kemarin, benar-benar membuat kepalanya ingin pecah. Terkutuklah kau laporan!


“ Duh gimana sih ini?! ” teriak Vanka frustasi.


Syukur saja Naufal tidak ada di rumah pikirnya. Jika tidak, dia pasti akan dimarahi.


Namun tiba-tiba saja ponsel Vanka berdering. Dia langsung mengernyit ketika melihat Widya menelfonnya.


“ Halo Wid, ada apa? ”

__ADS_1


“ Aku tebak kamu lagi frustasi mikirin laporan!”


“ Iya iya tebakanmu benar deh.”


“ Gimana kalau kita ngerjain bareng? Kamu dateng aja ke rumah kak Algar. Nanti aku kirim lokasinya.”


Ah benar, dia sampai lupa jika Widya lumayan pintar. “ Oke, segera kirim alamatnya! ”


Tak butuh waktu lama akhirnya Widya mengirimkan sebuah alamat kepada Vanka. Wanita itu pun tersenyum puas dan dia langsung bersiap-siap menuju lokasi.


….


Baik Vanka, seharusnya kamu gak kaget lagi kalau ngeliat rumah tiga sekawan itu.


Vanka menghembuskan napasnya ketika sudah berdiri di depan rumah Algar yang sangat megah. Wanita itu segera menekan bel yang terletak di samping pagar rumah. Tidak butuh waktu lama, Widya sudah membukakan pagar tersebut.


“ Gak nyasar kan? ”


“ Kalau aku nyasar gak mungkin aku bisa di sini sekarang? ” jawab Vanka malas.


“ Iya deh iya. Yaudah yuk masuk.”


Vanka pun mengikuti Widya untuk masuk ke dalam. Dia tercengang karena melihat rumah Algar yang seperti istana. Kalau Vanka boleh jujur, rumah ini lebih luas dua kali lipat dibanding dengan rumah Naufal dan Bian.


“ Pemilik perusahaan nomor satu memang beda ya,” ucap Vanka sambil menggelengkan kepalanya.


“ Iya dong,” jawab Widya bangga.


“ Jadi ceritanya sekarang udah berasa jadi nyonya nih? ” ledek Vanka sambil menyenggol lengan Widya.


“ Apaan sih! ”


Vanka terkekeh karena melihat temannya tersipu malu. Namun Vanka merasakan jika ada yang tidak beres dengan dirinya. Ya benar, dia ingin ke kamar mandi sekarang.


“ Wid, kamar mandi dimana sih? ”


“ Kebelet? ”


“ Iya, cepetan! ”


“ Lurus aja, terus nanti belok ke kiri, udah gitu ada kayak ruangan kecil masuk aja.”


“ Ah ribet! ”


Vanka pun langsung berlari kecil menuju arahan yang dimaksud Widya. Tapi seketika itu juga dia pusing dan tersesat di dalam rumah besar itu.


“ Sialan! Punya rumah juga kok kayak istana presiden gini.”


Namun Vanka tidak menyerah untuk menemukan kamar mandi itu. Tapi secara tidak sengaja, tangannya menyentuh sebuah lemari besar yang ada di samping kanannya.


Wanita itu mengernyit ketika melihat lemari itu sedikit tergeser.


Dengan langkah pelan, Vanka pun mendekati lemari itu dan mendorongnya dengan sangat hati-hati. Hingga tak lama kemudian dia melihat sedikit celah dan manik matanya membulat.


Ada ruangan dibalik lemari ini?!

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2