MENIKAHI CALON MERTUAKU

MENIKAHI CALON MERTUAKU
Hasil Karya Austin . .


__ADS_3

...🏘️ Rumah Jelita...


"Sayang, mau aku melanjutkannya?" Austin pun menyudahi ken yotan nakalnya di pucuk kismis pink milik Jelita kala mata jelita yang sudah sayu seakan ingin di perlakukan lebih lagi oleh Austin.


Lalu..


"Ehem ehem boss nenek Sofia sudah menunggu dari tadi dibawah."


Austin dan Jelita seakan-akan lupa bahwa sedari tadi saat keduanya saling bercu mbu tanpa sadar kalau pintu kamar Jelita yang memang dari tadi jebol akibat terjangan kaki Cornel. Sehingga anak buah Beno pun melihat sedikit penampakan Austin yang sedang betah bermain di area da da Jelita dengan membabi buta sampai semburat merah bercampur hitam warna kulit Bogel seperti ingin pergi dari situ dengan menahan malu.


"Pergilah Bogel jangan sampai biji mata kamu aku congkel untuk ku buang ke belakang halaman rumah ini!"


Austin pun seketika membalikkan tubuhnya yang tadi menindihi gadis cantik yang setengah bagian tubuhnya tepatnya bagian atas tubuh Jelita sudah polos itu sekarang membawanya dalam dekapannya dengan membelakangi pintu kamar Jelita agar tidak ada lagi yang melihat penampakan gadis cantiknya yang begitu mulus.


"Om sih! malu tau!"


"Iya om lupa, ya sudah ayo? kita berangkat."


"Hmm tolong kaitkan lagi pengait bra nya."


"Hmmm kalo nggak usah dikaitkan gimana!"


"Isshh nggak! Nakal ih!"


Jelita pun mengumpat dalam hatinya.


...Sial om tampan ini begitu mempesona sampai aku hampir saja kehilangan kesucianku yang aku jaga hingga detik ini. Ya tuhan aku harus menyelidiki sampai mana om ini bisa ku perdaya demi suksesnya balas dendamku. Bagaimana kalo aku mulai jatuh cinta padanya. Argghh aku nggak mau di peralat dan di bodohi oleh lelaki untuk kedua kalinya ya tuhan bantu aku....


Jelita pun dengan sekuat tenaga ingin menahan rasa cinta yang sudah mulai tumbuh yang tidak bisa sedikitpun dia kendalikan.


"Hei lagi mikirin apa sih?" tanya Austin sambil membantu memasukkan baju setelan kerja untuk Jelita yang tidak perlu begitu formal. Hanya dress santai yang nyaman untuk dipakainya saat berkutat di pantry Edelweis Restaurant milik Austin besok.


"Eng enggak kok yuk deh." Jelita yang sudah berganti baju santai dan masih memakai kaos besar tapi kali ini memakai celana klok panjang sehingga tidak terlalu menggoda seperti saat masih didalam kamar.


"Kamu baik-baik aja? apa ada yang mengganggumu?"


Jelita pun menundukkan kepalanya sambil berjalan menuruni tangga untuk bertemu dengan Sofia.


"Kita jadi pindah Austin?"


"Iya Oma, aku mau Jelita dan Oma berada di dekat pengawasanku."


"Jelita ada apa dengan lehermu sayang apa si bule gila mantan tunangan kamu tadi yang menggigitmu sampai merah kebiruan begitu?"


...DEG...

__ADS_1


Mati aku! Haduuhhh ini bukan ulah Cornel Oma. Ini ulah Om bule yang lebih gila tapi sayangnya aku suka, sial banget sih gue..


Gerutu Jelita dalam hatinya hingga ingin mencakar wajah tampan Austin yang semakin hari semakin menggoda di matanya.


"Hmm Oma lebih baik jangan bahas kejadian tadi didepan Jelita, aku nggak mau dia makin trauma Oma."


"Baiklah Austin, kalau bisa jangan sampai bule gila itu di bebaskan dari penjara Austin."


Beruntung Austin yang sangat lihai dalam segala hal dapat dengan mudah mengalihkan saja rasa penasaran Oma agar tidak lagi mengungkit cu pang di leher jenjang Jelita yang adalah hasil karyanya. Jelita pun semakin mengeratkan genggaman jemari tangannya ke tangan om tampan itu sambil kepalanya di sandarkan ke dada bidang Austin hingga Austin tak henti-hentinya mengusap puncak kepala Jelita berulang kali.


30 menit kemudian setelah memasukkan semua barang-barang yang jelita butuhkan untuk kepindahannya ke Bougenville Hotel.


✨✨✨✨


...🏨Bougenville Hotel...


03.00


"Sekarang istirahatlah, Oma aku titipkan gadis menggemaskan ini, jaga dia untukku, Bonjour."


"Bonjour Austin, sepertinya Jelita masih ingin ngobrol berdua denganmu."


"Ooww heiii jangan nangis, mana Jelita yang kuat yang sangat pendendam bahkan dalam hal terkena cipratan air hujan tempo hari yang akhirnya mempertemukan kita berdua dengan suasana yang menyebalkan bukankah begitu?"


Austin pun sedikit menunduk agar bisa dilihatnya wajah cantik Jelita yang tidak sampai hati dia tinggalkan begitu saja. Oma dan Jelita kali ini khusus di beri fasilitas paviliun yang lengkap dengan ruang tamu, living room, minibar dan kitchen serta 2 bedroom dengan suasana yang mewah serta aman tentunya.


"Hey Oma bisa mendengarnya dengan jelas Austin?" sarkas Sofia saat pertanyaan Austin yang sedikit berbisik ke arah gadis itu ternyata bisa didengar dengan jelas oleh Sofia.


"Hiks, nggak Oma maksud om eh maksud Austin itu apa aku mau di Nina bobo in dulu sampai aku tertidur?"


"Kalo seperti itu temani Jelita sampai terlelap Austin dan tenangkan dirinya agar tidak terlalu terguncang."


"Hmm baik Oma, siap laksanakan!"


Lalu Jelita pun lagi lagi mengaitkan jari jemarinya ke jari jemari Austin lalu sampailah mereka berdua di kamar utama paviliun itu.


"Sekarang tidurlah hmmm kamu pasti lelah, aku akan menunggumu sampai kamu tertidur pulas sayang."


"Hmmm ." Jelita pun mulai memejamkan matanya perlahan.


"Kemarilah tidurlah." Austin memposisikan dadanya sebagai bantal dan kakinya sebagai guling untuk Jelita dekap dalam tidurnya kali ini.


"Hmmm." Jelita pun dengan keadaan masih murung membaringkan kepalanya di atas dada bidang om tampan itu. Lalu tak lama kemudian tinggal hembusan nafas halus keluar dari bibir mungil nan kemerahan Jelita membuat Austin pun lega dengan berulang kali mencium puncak kepala gadis cantik itu, dengan mengatakan..


"Tidur yang nyenyak, mimpiin aku ya?!"

__ADS_1


Ucap Austin pada Jelita di kamarnya. Lalu berpamitan dengan Sofia, karena Austin harus segera kembali ke penthousenya untuk juga beristirahat.


Kemudian Austin pun berpesan kepada Sofia agar apabila terjadi apa-apa sebaiknya Sofia mengabarinya sebagai orang pertama yang mereka butuhkan. Selanjutnya Austin masih memberi ijin untuk kepala Chef Edelweiss Restaurant yang baru itu untuk beristirahat serta menenangkan pikirannya.


✨✨✨✨


08.00


...🏣Kantor Polisi...


Ruang Interogasi


"Maaf pak Mahardika harap tenang anda harus di dampingi pengacara karena yang melaporkan mas Cornellio disini adalah juga orang penting dan berpengaruh juga bukti dan saksi yang ada di tempat kejadian saat tersangka melakukan percobaan pemerkosaan pada korban.


"Siapa orang itu pertemukan aku dengannya! Lalu bagaimana caranya agar Cornel bisa dibebaskan?!"


"Dia adalah wali dari nona Jelita yang menjadi korban dari perkara ini, dan pelapor harus mencabut segala tuntutan yang di tuduhkan agar Mas Cornel bisa bebas bersyarat."


"Oh jadi yang melaporkan perkara ini adalah nenek Jelita benarkah begitu? Setahuku keluarga Jelita bukanlah orang berpengaruh tapi mengapa kalian sampai membesar-besarkan masalah saja! Arghh akan aku bunuh cucu yang hanya bisa berulah dan selalu mempermalukan kehormatan keluarga kalo dia dibebaskan nanti!" Seru Mahardika yang sudah jengah dengan masalah demi masalah yang terjadi akibat ulah Cornel.


"Permisi pak Kapolres, tuan Austin sudah datang."


"Selamat siang tuan Austin." Salam sapa Kapolres kota J menyalaminya sambil berdiri dari sofa ruang tamu di dalam ruangan Kapolres.


"Hmmm selamat siang." Setelahnya Austin pun menoleh ke sosok kakek kakek dengan kursi roda serta nenek nenek yang masih terlihat cantik walau diusir senjanya yang membuat Austin terperangah dan terkejut bukan main.


"Ayah, Ibu?" Austin pun menyapa keduanya sambil masih berdiri berseberangan dengan sofa mereka.


"Siapa ya?" jawab Farah yang bertanya-tanya siapakah pria tampan dan matang yang menyapanya dengan sebutan ibu?


"Ya tuhan Austin Lambert?!"


DEG


"Apa kamu bilang bu?! Jadi kamu Austin Lambert?! yang melaporkan Cornel tadi benar begitu pak Kapolres!"


"Ya benar Sekali pak Mahardika Tuan Austin Lambert-lah orang penting wali dari mbak Jelita yang saya maksud."


"Apa?! apa hubunganmu dengan Jelita dasar bajingan!"


"Saya atasannya!" Austin tidak mengungkapkan status hubungannya dengan Jelita sekarang di depan banyak orang.


"Heh dengar apa yang membuatmu berpikir kamu lebih membela karyawanmu dibandingkan dengan anakmu sendiri yang kamu jebloskan ke dalam penjara itu hah?!"


DEG

__ADS_1


To be continued . .


__ADS_2