
...Edelweis Restoran...
"Hmmm setelah ini kita pergi ya?"
"Yah yuk om aku udah selesai kok."
Jelita yang berbenah akan segera melepas apron chefnya yang baru saja selesai dia pakai.
"Sudah sini aku bantu."
"Om kita di pantry."
Austin pun membantu melepaskan kancing Apron istri kecilnya lalu sengaja meneruskan membuka kancing di balik apron itu.
"Omm kan? udah aku tebak ini nggak bakal berhenti disini kalo udah adegan buka bukaan."
Sambil tersenyum Jelita pun membiarkan saja suaminya membuka lagi kemejanya hingga terbukalah sudah pa yu da ra mulus yang masih tertutup bra itu hingga pengaitnya pun di buka oleh Austin.
Kini tampaklah pemandangan bagian atas sang istri yang polos menggoda ke laki-lakiannya. Jelita pun langsung menyerang sendiri bibir menggoda suami tampannya itu hingga cium an dalam pun terjadi.
"Hmmmpphhhff."
Kedua tangan Jelita pun di lingkarkan saja ke leher bidang suami tampannya hingga semakin panas saja pertukaran Saliva yang kini sudah merambat ke leher hingga pu ting pink kemerahan yang sudah tidak berbentuk lagi karena permukaannya yang di buat merah kebiruan seperti di sengat lebah tak bertuan.
Tubuh mungil itu pun kini di naikkan di atas meja pantry yang sedari tadi tidak di kunci oleh keduanya.
Sementara itu pengunjung restoran mulai pergi meninggalkan restoran pada waktu yang menunjukkan pukul 14.00 kala jam makan siang sudah harus di akhiri.
"Elo tuh Ran udah beresin pantry belum tadi?" tanya Danu yang ingin segera membereskan keadaan pantry yang pasti tidak karuan setelah di gunakan untuk membuat berbagai hidangan satu jam yang lalu.
"Sssttt di dalam ada.. duuhh gimana ya ngomongnya?"
Ucap Rani sambil terbata-bata kala sang atasan tadi datang dengan bergandengan tangan mesra bersama CEO mereka a.k.a kekasih hatinya.
"Oooww kan kita bisa ketok pintu Ran."
__ADS_1
Jawab Danu yang mengajak Rani dan Danu untuk mendekat ke arah pantry besar untuk membersihkan keadaan yang tadi sudah hancur berantakan.
"Nggak jangan jangan nggak usah ketok pintu ayo dah, elo ini pelan-pelan nggak mengendap endap aja jangan terlalu berisik nanti pasangan itu keganggu?"
"Ah lu tuh terlalu berprasangka udah nggak usah berspekulasi yang nggak-nggak belum tentu juga benar mungkin mereka tadi masuk dengan bergandengan tangan kan juga belum tentu begitu begitu di dalam ya kan?"
Keduanya pun mendorong saja pintu pantry besar itu sambil melihat lengang keadaan sekitar yang sepertinya aman.
"Nah kan aman? Tuh ayok dah nggak ada yang perlu di khawatirkan!"
"Ya udah deh gue mulai ngebersiin sebelah sini Dan!"
"Okay Dan gue bantu."
Lima belas menit kemudian mulai bermunculan suara suara misteri.
"Omm aaa hh."
Suara yang samar terdengar dari dalam ruangan Jelita sepertinya sedang merintih kesakitan tapi juga seperti keenakan dengan suara manja Jelita sampai terdengar hingga ke luar dari ruangannya.
"Sayang iya, om pelan-pelan kok."
"Wah apa mereka lagi bermesraan ya Dan? Elo yang berpengalaman apa juga begitu kalo sedang begitu - begitu ama cewek Lo?"
"Iihh sembarangan Lo Ran?! Tapi emang iya sih si cewek yang suka men de sah hebat kalo sudah di bikin basah."
Pletak!
"Aduh nggak kira-kira nih kalau mukul kepala orang sakit nih Ran!"
Rani pun gemas untuk menjitak puncak kepala Danu saat mengilustrasikan kegiatan begitu-begitu yang pernah di lakukannya dengan sang kekasih.
"Pokoknya nggak bisa diungkapkan dengan kata-katalah Ran."
Lalu..
__ADS_1
"Heh kalian ngapain disini bukannya ngebersiin pantry malah ngobrol, mana kepala chef kalian? udah disiapin makan siang mewah di meja resto eh malah nggak datang-datang gimana sih tu cewek sialan! Sok Sokan nyuruh ini itu eh dianya malah nggak dateng-dateng ke Resto katanya mau makan siang Ama orang penting eh malah masih di ruangannya kalo emang nggak niat makan ya udah biar anak-anak bersihin lagi aja mejanya jadi nggak kelamaan nunggu kan, yang lain kan juga ada kerjaan? Emangnya kita harus stand by ngelayanin dia begitu?!"
"Eh mbak Ber ehh tunggu ja..!"
Rani dan Danu yang hendak mengingatkan Bertha atas kemarahannya pada kepala Chef yang sudah disiapkan menuju makan siang istrimewa untuk Jelita dan juga orang penting yang tidak disangkanya ternyata orang penting itu adalah CEO idolanya.
BRAKK!
Bunyi suara dobrakan pintu ruangan Jelita yang memang tidak terkunci dengan sempurna. Bertha pun terkejut kala Jelita ternyata sedang ber cin ta dengan pria yang sudah menjadi pria tambatan hatinya selama bertahun-tahun lamanya.
"Ssshhh aaa hhh omm iya ee nak ehmm."
Jari jemari Austin yang sudah memasuki lubang favorit basah yang kurang selangkah lagi di hujamkan yang merupakan langkah selanjutnya menuju kepuasan tiada Tara itu pun akhirnya terpaksa terjeda.
Beruntung pakaian pria tampan itu masih lengkap menempel pada posisinya hanya Posisi Jelita saja yang sedang berada di atas meja dengan dada yang sudah polos jika dilihat dari depan maka tampaklah dengan jelas pemandangan indah itu. Namun sayangnya Bertha melihat kondisi keduanya yang hampir menempel tetapi dari samping sehingga yang tampak hanyalah jari jemari Austin saja yang berusaha memuaskan istri kecilnya yang sudah mencengkeram kepala Austin yang asyik menyu su di kedua pu ting pink Jelita.
"Ups ya tuhan? ma maafkan saya!"
BLAM!
Bertha pun kini akhirnya percaya bahwa memang Austin sudah bertekuk lutut di kaki Jelita terbukti dari kegiatan foreplay yang di lakukan Austin pada Jelita yang barusaja dia saksikan sendiri dengan mata dan kepalanya.
Austin pun tidak terlalu memperhatikan apa reaksi dari Bertha karena nafsu dan gairahnya yang sudah ada di ubun-ubun.
"Ayo sayang lanjut aja."
"Hmm iya om sayang tapi kunci dulu issh! Nanti bukan hanya Bertha yang datang yang lain juga akan datang untuk mencari tau letak suara misteri itu?!"
Lalu..
"Breng sek! Dasar ja Lang berkedok wanita suci sungguh menjijikan!"
"Eh mbak jaga mulut mbak ya? yang mbak hujat tu mbak Jelita kekasih pemilik hotel ini!"
"Heergghh!!"
__ADS_1
Geram Bertha yang masih tak terima jika pria tampan itu sudah tidak lagi available dan bisa di konsumsi untuk umum.
To be continued..