
...🏚️Mansion Mahardika...
"Apa? Jadi Cornel berniat untuk menerima jika Jelita jadi ibu tirinya?"
Melinda pun akhirnya menganggukkan kepalanya seraya mencari pembenaran dan pembelaan dengan tindakannya.
"Alii Aliii kemarilah!" perintah Dika pada kepala pembantu di kediamannya.
"Ya tuan besar ada apa gerangan yang bisa saya bantu?!"
"Ali panggil Austin Lambert, Cornel dan Jelita kemari! jika Cornel menolak bilang kalau jantungku kambuh!"
"Baik Tuan besar akan saya panggil ketiganya sekarang juga."
Ali sang kepala asisten rumah tangga di mansion Mahardika itu pun lalu bergegas untuk menghubungi Austin, Jelita dan juga Cornel agar segera memenuhi panggilan sang tuan besar untuk membereskan permasalahan mereka dengan Melinda untuk meluruskan semua kesalahpahaman yang terjadi kalaupun Melinda tidak mau menikah dengan Cornel maka itu adalah keputusan yang paling ditunggu-tunggu oleh Cornel karena Cornel sadar bahwa semua yang dilakukannya dengan Melinda adalah kesalahan lalu untuk anaknya yang tidak berdosa nanti kenal tetap akan bertanggung jawab tetapi dia tidak akan mau menikahi Melinda untuk selama-lamanya.
"Sudah tuan besar mereka bertiga dalam posisi berbeda mobil jadi mungkin datangnya tidak bisa bersamaan."
1 jam kemudian..
"Ada apa ini opa?" tanya Cornel pada Mahardika saat Mahardika sedang berbaring di kamarnya dengan Farah dan berharap aktingnya itu akan dipercayai oleh Cornel Austin dan juga Jelita.
__ADS_1
"Ayah ada apa ini?"
"Ba jingan kamu Austin lagi-lagi kamu ingin menghancurkan hidupku lagi-lagi kamu ingin melukai anakmu sendiri dengan meminang Jelita! Kamu kira bisa semudah itu kamu memperistri Jelita hingga dia nanti menjadi ibu tiri bagi Corrnel dan calon istrinya Melinda?"
"Opa Ini semua bukan salah Dedi ini semua bermula dari kesalahanku aku menyesal karena aku telah menghianati Jelita selama ini. Mungkin ini adalah karma tetapi aku senang akhirnya aku dipertemukan dengan ayahku walaupun mantan tunanganku lebih memilih ayah kandungku daripada diriku."
"Karena dosa yang telah aku lakukan padanya aku menyesal dan aku ingin dimaafkan oleh mereka biarlah ayahku bahagia dengan Jelita. Jangan campuri urusan mereka karena aku juga tidak punya niat untuk menikahi Melinda."
"Aku tetap akan bertanggung jawab pada bayinya kalaupun Melinda menginginkan untuk menikahiku? Aku tidak masalah tapi mohon maaf aku tidak bisa lagi opa. Aku tidak bisa berpura-pura mencintainya maaf aku tidak bisa menjadi suami yang baik baginya."
"Jika dia tetap meminta status pernikahan denganku maka kita akan tetap berstatus suami istri di depan umum tetapi apabila kita bersama di rumah maka sebaiknya kamar kita berpisah karena aku tidak bisa lagi memaksakan rasa cintaku yang tidak pernah aku miliki selama ini."
...DEG...
Jantung Mahardika yang tadinya baik-baik saja sekarang malah terkena serangan karena keterangan dari sang cucu yang tidak pernah disangka-sangkanya tadi.
"Kurang ajar! Opa biarkan kamu malah semakin keterlaluan ya? Memang buah tidak akan pernah jatuh jauh dari pohonnya seperti ayah kamu itu dia sudah menodai kesucian ibu kamu hingga ibu kamu harus mengandungmu di bawah umur lalu kemudian keduanya pun harus dinikahkan walau mungkin perasaan ayahmu tidak pernah begitu menyukai ibumu hingga saat kelahiranmu dia malah memilih untuk membunuhnya dan memilihmu untuk hidup di dunia ini!"
"Dan kamu Jelita jangan dikira kamu akan hidup bahagia dengannya karena lihat saja nanti di saat kamu meregang nyawa antara hidup dan mati dalam melahirkan bayimu maka Aku pastikan dia tidak akan memilihmu untuk hidup di dunia ini dia akan lebih memilih bayimu lalu dia akan bersenang-senang di atas penderitaan kita semua melihatmu meregang nyawa sedangkan dia sudah melirik wanita lain untuk dinikahinya menjadi istrinya yang kesekian kalinya."
"Cukup! Cukup ayah cukup Sudah Ayah membullyku selama ini Ayah selalu menuduhku dengan tuduhan-tuduhan yang tidak benar sudah waktunya untukku membuka kebenaran ini aku akan menceritakan secara gamblang Apa yang sebenarnya terjadi hingga aku terpaksa harus memilih Kornel yang hidup di dunia ini dan bukanlah Ratri.
__ADS_1
saat diketahui bahwa Ratri hamil sebenarnya Ratri sudah memiliki penyakit di rahimnya terdapat kanker yang sangat mematikan waktu itu memang masih ada harapan untuk ratu hidup jika bayinya dikorbankan tetapi Ratri sudah berpesan sebelum masuk persalinan bahwa jika memang ajalnya sudah dekat di saat kelahiran Cornel maka aku harus berjanji untuk memilih Cornel untuk hidup di dunia menjadi bayi yang sehat itulah janji yang aku pegang saat hati mengancamku untuk melakukannya dengan terpaksa."
DEG
"Apa?! Ratri memiliki penyakit? Mengapa kita kita tidak pernah tahu pah tentang penyakit yang di derita oleh Ratri? Kenapa kita sebagai orang tua tidak pernah sedikitpun menyadari bahwa Ratri ternyata memiliki penyakit separah itu?!"
"Iya Bu, Ratri memang memiliki penyakit Dia menyuruh saya merahasiakannya dari kalian karena dia ingin tetap melahirkan bayi kami dan tidak mau mengorbankannya. Ratri lebih memilih untuk meninggalkan dunia ini dengan tenang tanpa harus merasakan penyiksaan menderita kanker rahim yang menggerogoti nya beruntung Ratri masih bisa memiliki seorang anak namun jika keadaan terbalik dan Ratri terpaksa harus dilakukan perawatan intensif maka tidak mungkin dia hidup dengan rahim normal kembali, karena dokter harus mengangkat rahim itu dikarenakan komplikasi penyakit lain yang sudah menyebar ke seluruh tubuhnya."
"Dulu saya diam karena Ratri menyuruh saya merahasiakan hal ini sampai Cornel besar. Maaf tapi saya mencintai Jelita dengan sangat tulus, tidak ada sedikitpun niat saya untuk mengkhianati cintanya." Austin pun menggenggam erat tangan istrinya lalu mengecup permukaan tangan mulus nan lentik milik Jelita dan mengelus-elus tangan itu lagi sebagai tanda sayangnya pada gadis cantik itu tanpa tergantikan oleh apa pun juga.
"Om.. Trimakasih akhirnya om mau membagi rahasia yang om simpan selama puluhan tahun pasti Tante Ratri almarhum sudah tenang di alam sana. Ungkapkanlah semua rahasia yang om pendam selama ini karena semua itu hanyalah akan terus menerus merongrong hidup om. Agar om juga tidak terus menerus di salahkan oleh orang orang yang tak bertanggung jawab."
"Ayo kita pergi dari sini, urusan kita sudah selesai om, biarlah Cornel menyelesaikan urusan pernikahannya yang belum kelar jangan sampai om di salahkan lagi, buah tak pernah jatuh jauh dari pohonnya selalu pepatah itu yang terlintas di benak mereka. Apapun keburukan yang dilakukan Cornel selalu saja di kait-kaitkan denganmu om karena kamu ayahnya."
"Heh padahal Cornel pun sudah besar, aku lihat dan aku telusuri tak ada sifat Cornel sedikitpun yang sama denganmu, Jadi opa Dika dan Oma Farah jangan lagi-lagi menyamakan Cornel dengan suami saya, aku peringatkan pada kalian berdua!"
...DEG...
"Apa?! Suami?!"
To be continued
__ADS_1