
...Mansion Mahardika...
"Aku nggak sudi mas kalau Jelita jadi ibu tiriku nggak bisa mas aku nggak bisa. atau aku punya ide yang lebih menarik mas. Suruh Austin Lambert memilih antara mas dan Jelita lebih baik mengakui emas bagi anak dan berpisah dari Jelita daripada harus berhubungan dengan jelita lalu kita akan terus bertemu sebagai keluarga nantinya?
Minta kekayaan pada Austin Lambert dan suruh Austin memilih antara mas dan Jelita aku yakin 100% pasti Austin akan memilih mas. Tidak ada yang namanya mantan anak kalau istri selalu ada mantan istri dan mantan kekasih bukankah begitu mas?
"Memang siapa aku ini hingga dia yang katanya ayahku itu akan memilihku aku ini makhluk yang hina yang sudah menyakiti hati jelita hingga jelita jatuh ke pelukan pria lain yang kebetulannya dia adalah ayahku."
"Sudahlah mas, mas itu jangan terlalu lemah, pokoknya aku nggak mau nikah sama kamu kalau kamu mempunyai ibu tiri seperti dia titik."
...Gadis ini emang yang paling bawel banget ya, Ya tuhaan kenapa aku dulu tergoda dengan tubuhnya...
Gerutu Cornel dalam hatinya yang tidak suka dengan kehadiran Malinda.
*****
Keesokan harinya..
...Bougenville Hotel...
Ruang CEO
"Boss ada Mas Cornel ingin bertemu boss."
"Hmm suruh masuk."
"Wah wah ayahku perebut tunanganku sepertinya judul itu cocok sekali di jadikan sinetron bersambung sampai 1000 episode." Cornel pun bertingkah menjajah dengan memprovokasi Austin agar termakan oleh umpannya.
"Hmmm bagaimana kalau diganti Ayah pemikat calon menantu tersakiti sepertinya judul itu lebih cocok bagi lelaki tak bertanggung jawab sepertimu!" Austin pun berdiri dari kursi singgasananya dan mendatangi Cornel yang lebih dulu duduk di sofa ruangan CEO mewahnya.
*****
__ADS_1
"Permisi.. coffeenya mas Cornel.. Boss." Charles yang tiba-tiba datang agar keduanya yang sedang tersulut emosi agak sedikit tenang setelah meminum kopi.
"BRAKK!"
"Hahahaha aku tidak akan memanggilmu ayah jika kamu masih tetap menjadikan Jelita sebagai kekasihmu!" Cornel pun menggebrak meja tamu itu sampai gelas-gelas yang berisi kopi tadi berserakan hingga ke lantai.
"Hmm baiklah aku tidak akan melibatkan Jelita dalam masalah kita tapi aku tidak bisa memutuskannya begitu saja, Jelita adalah wanita yang sangat mulia, aku mencintainya sepenuh hatiku." Austin pun dengan jelas mengakui perasaannya pada Jelita di hadapan Cornel.
"Terus terang aku tidak hanya meminta anda memutuskan Jelita melainkan meminta hakku sebagai anak! Perusahaan, kedudukan, kekayaan yang memang seharusnya menjadi milikku!" Cornel mulai menuntut haknya sebagai anak yang memang sudah lama ingin di berikan Oleh Austin.
Aku sudah memberikanmu perusahaan sejak dulu Cornel, kalo soal hotel dan Mall maaf tapi bukan Hotel yang di Indonesia.
...Tit.. tit.. tit....
"Charles bawa berkas kepemilikan Bougenvile Singapore!"
"Baik Boss, saya bawakan berkasnya!"
Blep!
10 menit kemudian Charles kembali dengan membawa berkas yang menumpuk hanb berisi tentang akte kepemilikan perusahaan sebagai komisaris utama selalu Austin Lambert sedangkan CEO tersebar di duduki orang kepercayaan Austin di berbagai negara.
"Pegang dan kembangkan Bougenvile Singapore besarkan namanya menjadi sekuat Nirwana hotel."
Deg!
"Ya tapi mengapa harus Singapore? Apakah agar kamu bisa leluasa berdekatan dengan Jelita disini?"
Cornel pun penasaran mengapa tidak di salah satu cabang di Indonesia saja?
"Bukankah nama kamu sudah tecoreng? CEO sebuah hotel ternama di Indonesia berselingkuh dengan sekertarisnya sendiri kala sang tunangan sedang mempersiapkan acara pernikahan mereka yang di gadang gadang kurang dari satu bulan itu."
__ADS_1
"Cukup!"
Cornel pun seketika naik darah dan memotong saja percakapan yang menyindir tentang percobaan perko saan yang dulu dilakukannya pada Jelita
"Baiklah, Terima ini atau tidak sama sekali?!"
Austin yang sudah gerah tidak ingin memperpanjang pembahasan soal harta warisan kekayaan yang seharusnya belum waktunya di bagi saat sang ayah masih hidup dengan sehat walafiat. Austin pun tegas memberikan salah satu perusahaannya sesuai permintaan Cornel walau bukan di Indonesia.
"Baiklah, heh, lalu bagaimana dengan Jelita? Apakah itu berarti anda masih mempertahankan hubungan anda dengannya?"
Tanya Cornel yang tak bisa membedakan mana permintaannya dan mana juga permintaan Melinda untuk memisahkan Austin dengan Jelita dengan gigihnya.
"Sudah aku bilang aku tidak akan meninggalkannya walau apapun yang terjadi."
Mantap dan lugas cara Autsin menawan pertanyaan yang di berikan oleh Cornel bertubi-tubi itu.
"Apakah kamu nantinya juga akan mengorbankan Jelita? Jika suatu saat anda dihadapkan dengan dua pilihan antara ibu dan anak dengan sang ibu yang sedang berjuang antara hidup dan matinya, manakah yang akan anda pilih?" Jangan sampai apa yang terjadi pada ibu kandungku juga terjadi pada Jelita kelak.
Austin pun terlihat menutup wajahnya dengan kedua tangannya lalu menatap lagi Cornel yang duduk berhadapan dengannya.
"Lebih baik jangan berasumsi yang tidak-tidak, jangan terlalu percaya dengan kakekmu dalam hal ini. Sesungguhnya pria itu tidaklah sebaik yang terlihat di depan matamu. Aku belum siap menceritakannya sekarang lagipula kakekmu punya penyakit jantung yang bisa kapan saja kambuh dan mengancam nyawanya."
"Pasti kakekmu sangat takut jika penyakitnya itu kambuh karena itu berarti peluang untuk bertemu dengan yang maha kuasa akan semakin cepat dan dia tidak mungkin bisa berkelit jika demikian kejadiannya."
"Dari dulu aku menutup rahasia ini rapat-rapat karena aku tidak mau nama kakekmu semakin buruk di depan umum. Aku masih bertahan dengan pendirianku walau harus ku emban hukuman deportasi hingga tak bisa melihatmu tumbuh menjadi laki-laki yang tak bertanggung jawab seperti sekarang."
"Aku akan menuruti permintaanmu tentang kekayaan dan harta warisan, tapi mengenai kematian ibumu lalu Jelita yang tak tahu apa-apa harus di pisahkan juga dariku itu tidak akan pernah terjadi."
"Sampai kapan pun anak akan selalu jadi anak tapi istri kekasih dan tunangan itu semua tidak abadi. Pasti kamu akan mengatakan hal itu bukan?Tidak karena Jelita juga bukan sekedar kekasih bagiku, Jelita adalah ibu tirimu, sekarang dan selamanya!"
Deg!
__ADS_1
Apa?!"
To be continued