MENIKAHI CALON MERTUAKU

MENIKAHI CALON MERTUAKU
Ah Cinta..


__ADS_3

...🌁 Penthouse Bougenville Hotel...


Oh God bagaimana aku bisa menolak pesona cantiknya gadis kecil ini yang begitu menggemaskan sekarang berada di gendonganku.


"Ooom, Om mau kemana? jangan tinggalin aku cup .. cup .."


"Kamu ngga mabuk lagi kan?" tanya Austin dengan sejuta keraguan di dadanya kala ingin sekali di lemparnya sekarang tubuh mulus yang kini nemplok di dadanya agar pergi dari hidupnya. Namun apa mau dikata has ratnya lebih kuat dari penolakannya.


"Enggak aku nggak mabuk aku sadar kok, terus kenapa om ngomongnya jadi kasar gitu sih? apa Om marah ama aku? baiklah kalau memang nggak mau ngebales ciuman ku turunkan aku. Aku akan pergi dari sini. Pergilah! Aku nggak akan peduli lagi sama Om! pergi yang jauh! Om juga mau ninggalin aku kan?"


Jelita pun turun dari gendongan Austin sambil menangis tersedu. Gadis cantik itu turun dari tangga dengan air matanya yang sudah tak terbendung. Lalu dengan sigap Austin memencet tombol lock untuk mengunci otomatis pintu penthousenya.


Austin bermaksud untuk menahan kepergian Jelita dari kediamannya dengan hatinya yang sedang hancur. Baru saja kemarin Jelita mengalami kejadian yang sangat memilukan yang mungkin tidak akan pernah bisa Jelita lupakan seumur hidupnya.


"Sayang maafkan om, sekarang kemarilah." Austin pun mendekati Jelita dengan berat hati bagaikan merengkuh seorang wanita yang sudah menjalin kasih dengan anak kandungnya sekian lama dan sekarang malah jatuh hati padanya. Bagaimana bisa seorang ayah begitu tega dan semena-mena saat kekasih anaknya pun sekarang malah menjadi kekasihnya.


"Heyy gadis nakal kenapa kamu yang unik, yang bengis, kasar, suka uring-uringanlah yang sangat menggodaku, membuatku ingin selalu berada di dekatmu."


"Ya sudah pergi sanah kalo masih ingin lihat aku jadi bengis lagi!"


"Hap, duduklah, kemarahanmu, kejutekanmu mengapa semuanya semakin memikatku? cup cup cup." Austin pun mengangkat tubuh mungil itu untuk naik diatas minibar yang terletak di pinggiran pantrynya. Sambil memejamkan matanya Austin menghindari dirinya makin bergai rah saat bibir mungil nan manis itu begitu menggoda ingin sekali di ses apanya tapi Austin dengan sekuat tenaga menghindari bibir manja itu. Austin hanya bisa memberi kecupan dan mengendus endus wangi alami gadis cantik itu di ceruk leher jenjangnya sampai Jelita menginginkan lebih dengan menengadahkan kepalanya ke atas.


Lalu keduanya pun larut dalam suasana haru karena sepertinya gadis itu sudah sedikit jinak dan kemarahannya bisa sedikit di kendalikan oleh Austin. Lalu terlintas lagi di benak Jelita saat Austin terpergok mengepak barang-barangnya di dalam kamar utama tadi.


"Maukah kamu membersihkan bulu brewokan om?"


...DEG...


"Hmmm." Jelita semakin salah tingkah di buatnya. Austin berhasil membuat detak jantungnya berpacu dengan waktu yang memburu penuh naf su.


"Om janji nggak akan ngapa-ngapain kamu."


"Gampang aja kalo om ngapa-ngapain nanti biar om aku lukain pakai pisau cukur om."


"Ahahhaha ampun." Austin pun akhirnya bisa tertawa kembali saat hanya gadis cantik itulah yang bisa membuatnya tertawa.

__ADS_1


Kemudian keduanya pun sampai ke kamar mandi untuk membantu Austin mencukur kumis dan brewokan yang sudah lebat menutupi pipi bibir dan juga dagunya.


"Jadi ini yang bikin geli." Ucap spontan Jelita saat sudah menyalakan mesin pencukur bulu milik Austin dan memberi cream gel untuk lancarnya laju mesin cukur itu agar tidak melukai kulit Austin.


"Tunggu bagian mana, yang geli?"


...BLUSH...


Jelita seketika tertunduk malu malu kucing ketika Austin bertanya untuk memastikan memangnya bagian mana yang sudah tersentuh oleh bibir dan bulunya.


"Eh enggak, lepasin dulu ah bajunya nanti bulunya ke baju om semua." Saking malunya Jelita pun mengalihkan pertanyaan Austin ke hal lain.


"Lepasin dong?" Austin pun mulai sedikit melupakan rasa tersayat-sayatnya saat mengingat Jelita adalah juga gadis yang di cintai oleh anaknya.


"AIssh om a h dari tadi mancing-mancing terus, ya udah sini!"



Penampakan tampan Austin yang seperti ini bagaimana Jelita bisa berpaling darinya.



"Ishh sengaja ya biar aku buka blouseku?" Jelita pun tersadar dan mencubit saja hidung mancung Austin.


"Awww ahahhaha, iya sih sedikit." Senyum Austin pun merekah seakan lupa dengan tujuan awalnya yang ingin segera pergi dari sisi gadis cantik itu secepat mungkin. Hubungan ayah dan anak sampai kapanpun tidak akan bisa menjadi mantan anak dan mantan bapak. Kalau hubungan kekasih akan selalu bisa menjadi mantan kekasih.


Jadi kesimpulan yang bisa ditarik dari pemikiran Austin adalah Austin harus bisa mengambil sikap untuk melepaskan Jelita agar hubungannya sebagai ayah dan anak dengan Cornel bisa diperbaiki.


"Hmmm sudah bersih, tapi aku lebih suka kalo om brewokan."


"Ohh ya? kok bisa?" tanya Austin sambil semburat merah terpancar di wajah tampannya kala Jelita ternyata lebih suka melihat penampilan Austin yang garang berbulu.


"Iya nggak ada alasan!" Jelita yang culas pun menundukkan wajah cantiknya karena malu. Austin selalu menanyakan alasan disetiap kata yang Jelita ucapkan tanpa di buat-buat.


Kini Jelita semakin mendekatkan wajahnya pada wajah om tampan yang berada di bawahnya. Jelita kini semakin lihai memberikan Austin ci uman mesra, panjang dan lama berkat ajaran dari pria matang itu.

__ADS_1


"Hmmppffhh ssshh." Akhirnya Austin tersadar dan menghentikan ciumannya yang sampai membuat Jelita yang tadinya terbuai akan ciumanya menjadi kesal karena terputus di tengah jalan.


"Sayang kalo kamu lanjutkan apa kamu sudah siap?" tanya Austin terus terang.


Jelita pun masih tidak berani untuk mengungkapkan isi hatinya agar Austin tetap melanjutkan cum buannya tadi.


"Ugh! selalu itu?"


"Kalo aku pegang disini suka tidak?" tanya Austin dengan menunjuk titik sensitif Jelita di bagian dada dan juga sesuatu diantara kedua kakinya. Jelita pun bereaksi dengan menggigit sendiri bibir bawahnya dan merubah matanya menjadi sayu seketika.


"Ssshh om." Jelita pun menghindari tatapan tajam Austin dengan duduk di pangkuannya dan menenggelamkan wajah cantiknya di ceruk leher pria tampan itu karena tak tahan ingin di perlakukan lebih lagi.


"Sekarang katakan om tadi mau pergi kemana?" sambil dengan manja menggambar lingkaran di pipi Austin yang kini polos tanpa bulu.


"Om akan kembali ke Perancis untuk sementara waktu.."


...DEG...


"Apa?! Jadi benar kan tebakanku tadi? Om mau pergi ninggalin aku?" Seketika Jelita pun berdiri dari pangkuan Austin yang dengan sekuat tenaga menahan naf sunya untuk menyerang pertahanan gadis itu.


Sesi percintaan yang lagi-lagi harus bubar di tengah jalan itu pun membuat Jelita seketika meneteskan air matanya.


"Aku nggak apa-apa kok, semua yang aku sayang ninggalin aku, dan ngekhianatin aku om, hiks hiks, pergilah, pergi dari hidupku. Hiks aku pergi dulu Oma pasti udah nungguin aku!"


"Jelita, tunggu ini pakailah dan gunakan untuk kebutuhanmu. Bukalah nanti di kamarmu, kalo kamu nggak mau memakainya dan keberatan kembalikan saja pada Charles."


"Om sekali lagi aku nanya satu hal, apa om mencintaiku? hiks.. hiks.."


Sambil masih sesenggukan Jelita pun menanyakan perihal perasaan Austin yang sebenarnya padanya.


...DEG...


Ya tuhan apa yang harus ku katakan padanya..


To be continued

__ADS_1


__ADS_2