
"Sampai kapan pun anak akan selalu jadi anak tapi istri kekasih dan tunangan itu semua tidak abadi. Pasti kamu akan mengatakan hal itu bukan?Tidak karena Jelita juga bukan sekedar kekasih bagiku, Jelita adalah ibu tirimu, sekarang dan selamanya!"
Deg!
"Hiduplah di Singapore dengan istrimu dan jangan ganggu Jelita lagi."
"Tapi.. arghh! Aku masih tak bisa, aku nggak percaya bagaimana kalian bisa menikah tanpa persetujuanku?"
Austin yang tampak aneh mendengarkan penolakan dari Cornel tentang pernikahan ayahnya, status Austin sebagai ayahnya yang baru saja di ketahuinya kemarin itu.
"Andai kamu masih kecil Cornel, aku ingin sekali menggendongmu membawamu bersamaku ke Prancis. Tapi semua terlambat karena kakekmu yang begitu membenciku, setelah kesalahan."
Lalu..
"Om sayang.. ngapain?" Jelita yang tiba-tiba datang tanpa permisi sambil menoleh ke kanan ternyata ada sang mantan yang sudah menghancurkan hatinya menjadi berkeping-keping.
Jelita pun tak peduli dengan tamu Austin yang adalah anak tirinya kini. Entah harus bagaimana Jelita dan Cornel bersikap kini. Jelita juga segan untuk bersikap marah di depan sang suami yang juga adalah ayah dari pria yang dibencinya seumur hidupnya.
"Hmmm sebaiknya aku pergi aku tak mau mengganggu lagi."
__ADS_1
Jelita pun semakin mengeratkan pelukannya ke perut hingga dada suaminya. Jelita pun diam tak berkutik.
"Tunggu pikirkanlah baik-baik yang aku tawarkan tadi, kamu bisa mulai memanggilku ayah. Aku akan sangat senang jika kamu melakukannya Cornel."
Austin pun menarik tangan Jelita dan mempersilahkan Cornel untuk meminta maaf pada ibu tirinya itu.
"Sayang kamu mau kan memaafkan Cornel, dengar dia akan menikah karena calon istrinya sudah mengandung. Aku juga ingin sekali mendapatkan keturunan darimu sayang hmm?"
Austin pun meraih saja tangan Jelita lalu di bawanya ke depan Cornel agar keduanya sama-sama melepaskan segala sakit hati.
"Bagaimana Cornel kamu siap kan untuk berdamai dengan masa lalu kamu juga sayang?"
Akhirnya dengan sangat terpaksa setelah kehilangan sampah dari hidupnya yaitu Cornel, Jelita kini mendapatkan sebongkah berlian yang tak ternilai yaitu Austin. Jelita pun dengan berbesar hati akhirnya mau menjabat tangan Cornel yang tak diinginkannya sama sekali sebenarnya.
"Om pergi yuk abis ini makan siang ayoo aku harus nyiapin hidangan pengunjung."
Lalu..
"Dad, bolehkah aku pinjam Jelita sebentar aku ingin berbicara dengannya sebentar saja."
__ADS_1
Austin pun menganggukkan kepalanya dan meninggalkan Cornel dan Jelita untuk berbicara dari hati kehati agar sudah tak ada lagi dendam diantara keduanya.
"Boo oh sorry Lita, aku benar-benar menyesal semua ini harus terjadi Lit. Maaf tapi memang sudah lama aku menunggu untuk menanyakan tentang hal ini kepadamu. Sebenarnya bagaimana sih perasaanmu padaku dulu? Sebenarnya apakah kamu pernah ingin bermesraan denganku dulu?"
"Tolong jawablah dengan jujur Lit, karena terus terang aku sangat cemburu dengan kemesraanmu dengan ayahku yang tak pernah kudapatkan dulu? Sebenarnya apa kamu pernah punya perasaan cinta padaku atau suka barang sedikit saja? Kenapa bibirmu tak pernah boleh aku cicipi sama sekali."
"Jangan melemparkan kesalahan yang tak pernah gue lakukan dan tak pernah ingin mengkhianati hubungan kita waktu itu. Gue nggak tahu mungkin yang gue baru sadar selama ini nggak pernah berhasrat ama lo. Namun saat gue ketemu pertama kali ama bokap lo gue ngerasain ada getaran lain yang ngga gue dapet dari hubungan kita. Iya mungkin elo bener gue baru ngerasain jatuh cinta saat ketemu bokap lo."
"Tapi gue nggak ngerasa bersalah ama Lo karena selama kita menjalin hubungan gue sama sekali nggak ada niat buat selingkuh dari Lo ngerti Lo?! Udah deh gue mau kita sekarang buka lembaran baru. Gue nggak mau dendam ke elo karena elo udah berhasil gue buang dari hidup gue dan Alhamdulillahnya gue dapat imbalan setimpal dari kejadian itu, gue jadi bisa ketemu ama Mr. Right."
Cornel pun akhirnya mau mengakui kesalahannya dan manggut manggut seolah sadar jika semua ini berjalan karena takdir yang membawa keduanya kearah yang tak di sangka sangka.
"Ehem Cornel sudah kan ngobrolnya? Yuk sayang aku antar ke restoran. Oh iya segera urusi pernikahanmu kapan pun kamu membutuhkan Daddy hadir disana Daddy akan datang."
Austin pun meraih tangan lentik istri kecilnya lalu membawanya ke arah lobby karena restoran itu terletak juga di lobby untuk mengantarnya menyiapkan hidangan makan siang pengunjung resto yang sudah ketagihan dengan enaknya masakan sang istri dan membuat bisnis Bougenvile Hotel semakin maju.
"Om kok di gandeng sih tanganku emang om udah ngumumin pada karyawan om kalo aku ini Nyonya Austin?"
Deg!
__ADS_1
...To be continued ...