
"Jadi kamu memata mati istriku? aku harap dia memang mempermainkan aku, aku malah senang di manfaatkan olehnya?"
"Dasar gila!"
"Memang aku sudah gila, gila karena cinta, mudah di perdaya oleh cinta, baiklah aku pergi dulu!"
...DEG...
"Tunggu dulu Austin jadi kamu tidak mempermasalahkan kalo Ja Lang itu mempermainkanmu"
"Wah udah tau malah nanya!"
Ucap Austin sambil mempercepat laju langkahnya kala Nowella makin penasaran padanya yang tak marah sama sekali jika Jelita mempermainkannya.
"Maaf ibu tidak boleh masuk batas pengantar hanya sampai disini!" Ucap security bandara saat Nowella tiba-tiba melewati batas pengantar yang harus menunjukkan tiket pesawat jika melalui penjagaan itu.
Austin pun melanjutkan langkahnya sambil melambaikan tangannya tanpa menoleh ke arah Nowella yang tampak sangat kesal sampai menginjak injakkan kakinya ke lantai bandara itu. Nowella yang tak terima dengan sikap Austin yang tenang dan biasa-biasa saja menyikapi keusilan Jelita yang hanya mempermainkannya saja.
*****
Keesokan harinya
Edelweis Restoran
"Hah akhirnya selesai juga ya mbak, restoran ini bener-bener nggak pernah serame ini sih, ini tuh sejarah, baguslah mbak Jel datang keuntungan menjelang."
Danu pun berseru mengemukakan pendapatnya atas pencapaian Edelweis Restaurant yang mulai ramai karena rasa masakan berbeda hingga sekarang di padati oleh pengunjung sampai waiting list untuk reserved agar mendapatkan tempat saat tepat di waktu makan siang.
__ADS_1
"Ya alhamdulillah Dan Ran kalau memang keberadaanku bisa membuat kita bisa maju bersama."
"Hemmm Jel, sebagai chef kepala yang baru seharusnya lu tuh disiplin jangan dikit-dikit izin jangan dikit-dikit pulang duluan mentang-mentang ada yang ngebaking di belakang lo, jangan begitu lah, kasih contoh tuh bawahan lu yang baik-baik."
"Heh elu tuh ya gue biar biarin makin nyolot aja, dari awal udah ngegunjingin gue bikin rumor yang nggak-nggak tentang gue apa sih masalah lo? Lo sakit hati sama gue? gue diem bukan berarti gue mau diinjak-injak ama lu ya? Asal lo tahu gue diem karena gue nggak mau memperbesar masalah yang nggak penting!"
Semakin lama dibiarkan memang si Bertha semakin menjadi-jadi pasalnya Jelita pernah dirumorkan yang tidak-tidak karena Jelita hanya rakyat jelata yang tidak cocok untuk disandingkan dengan Austin yang notabene adalah seorang konglomerat dari keluarga terpandang.
Melihat adu mulut antara Berta dan Jelita itu pun akhirnya mengundang banyak mata dari beberapa karyawan yang lain banyak dari mereka saling mendatangi pantry tempat jelita mencari sesuap nasi tiap harinya hingga suasana pensi itu pun penuh.
"Gue sudah cukup bersabar selama ini! Sekarang gue tanya sama lo apa sih masalah lo ke gue sebenernya? gue punya utang ya ama lo kok lo sampai mati-matian ngehujat Gue di depan anak buah lo kalau emang gue punya utang sama lo gue bayar sekarang sebutin gue udah hutang apa ama lu yang nyawa, utang duit?"
"Gak usah bertingkah deh lo mentang-mentang ada yang ngebakingin gue ya terus terang ada lo nih di restoran ini jadi penghalang buat gue tau nggak?"
"Penghalang apaan?"
"Penghalang kisah cinta gue dengan pemilik hotel ini? Elo tuh anak baru yang tiba-tiba dengan nggak tau diri ngerebut perhatian boss, baru aja gue mau pasang kuda-kuda eh situ udah seribu langkah lebih gercep dari gue!"
Lalu seseorang yang sudah ditunggunya selama berhari-hari akhirnya datang juga untuk mencarinya sambil mengerutkan keningnya saat melihat Pantrynsang istri sudah dipenuhi oleh para karyawan yang seharusnya tidak memenuhi pantry tersebut.
"Ada apa ini?"
Austin yang datang dengan masih membawa kopernya pun akhirnya mengusir para karyawan itu agar meninggalkannya berdua dengan Jelita.
"Malam pak CEO." Salam sapa Bertha yang di balas saja dengan gelengan kepala Austin sebagai kode untuk wanita itu agar segera angkat kaki dari sana dan memberi kesempatan untuknya dan Jelita berbicara empat mata.
"Hai om." Jelita langsung saja mendatangi tubuh tinggi menjulang dengan ketampanan paripurna tiada tara itu kemudian mencium bibir Austin mesra lalu kedua tangan Jelita pun di lingkarkan ke leher tegap pria matang itu sambil tangan Austin mengimbangi ciuman itu dengan memegang pinggang ramping istrinya.
__ADS_1
"Hmmppffhh kenapa bibirnya nggak di buka?"
"Kalo dibuka lanjut buka ini itu, kita di pantry om, jangan berbuat macam-macam itu cctv itu yang sebelah situ juga"
"Apakah mereka tadi menyulitkanmu? Apa mereka suka membully mu? Karena aku nggak mau kalau istriku merasa tidak nyaman di ruangannya sendiri, aku akan menindak tegas siapa saja yang suka membully rekan kerjanya sendiri!"
"Hmm om, balik yuk, aku capek?!"
"Sayang aku ingin menanyakan sesuatu yang sangat ingin aku dengar jawabannya dari mulut mungilmu ini."
"Jelita Asyafani Suroso apa sebenarnya perasaanmu pada om hanyalah permainan saja? Apa Om ini hanya kamu peralat untuk mengalihkan sakit hati yang kamu rasakan pada Cornel dan Sebaliknya kamu bisa membalas Cornel dengan lebih sadis jika pasanganmu itu adalah aku?"
...DEG...
"Om ngomong apa sih?"
Jantung Jelita pun berdetak begitu kencang kala Austin tiba-tiba menanyakan lagi hal yang sudah pernah mereka berdua bahas sebelumnya.
"Om dengar dari seseorang bahwa istri om ini nggak benar-benar serius sama om. Om cuma di peralatnya saja sebagai ajang balas dendam pada mantan tunangannya."
Austin pun mengibaratkan si pemberi informasi tadi adalah temannya dan bukanlah Nowella.
"Ya sudah percaya aja ma temen om itu, percuma aku jelasin panjang lebar om juga nggak percaya kan ma aku? Om soal ini sudah pernah Jelita bahas ama om di Paris bahwa awalnya karena saking sakitnya hati ini aku ingin banget membuat Cornel makin tersiksa dengan mengajak om berkencan terang-terangan di depan matanya."
"Eh nyatanya semua sirna, perasaan cintaku telah berhasil menggagalkan rencanaku itu om."
"Buktikan kalo kamu memang cinta ama om, dengan ber cinta di pantry ini!"
__ADS_1
...DEG...
To be continued..