
Sontak kedua orang itu menoleh, Hasna langsung mendorong tubuh Serkan.
"Tante,"
Sedangkan Serkan malah bersikap santai karena Alena sudah tau, ia sudah menjelaskan dan Alena sudah menerimanya. Jadi ia tidak perlu menjelaskan, apa lagi Hasna memang istrinya.
Kuku jari jempol Alena menancap di jari telunjuknya, ia tidak bisa mengepal dan memperlihatkan kemurkaannya karena Serkan tidak akan percaya padanya.
"Ini tidak seperti yang tante pikirkan." Hasna memperjelas kedekatan mereka tadi.
"Memangnya ada masalah suami istri melakukannya."
Hasna melotot tajam, seperti kucing yang sia menerkam seekor tikus di depannya. Sedangkan yang malah di pelototi tajam, malah mengedikkan kedua bahunya.
"Dasar kucing kecil."
"Aaaaa ...."
Serkan berteriak, tangan Hasna memang kecil, tapi kalau masalah mencubit rasa sangat sakit.
"Kau!" geram Serkan. Pinggangnya terasa sakit dan panas. "Sakit tau,"
"Biarin, suruh sapa Om Se menggoda Hasna?"
"Siapa yang menggoda mu? kau saja yang tergoda." Serkan berkilah. "Tunggu-tunggu, jadi kau sudah tergoda pada ku."
"Idih," Hasna memicingkan sebelah bibirnya.
__ADS_1
"Menggoda suami sendiri pahala loh," ucap Serkan. Perkataan itu keluar begitu saja, padahal selama ini dia tidak pernah minta di goda oleh siapa pun, tanpa meminta di goda pun sudah ada yang menggodanya.
"Om Se!" pekik Hasna.
"Ehem..." Alena berderhem dan membuat kedua orang yang tak mau kalah itu menoleh. Hasna tersadar dan tersenyum kikuk.
"Tante mau sarapan? silahkan ..." Hasna menarik kursi di sampingnya.
Alena melihat beberapa hidangan di depannya. Ia merasa jijik, dalam hidupnya ia tidak pernah memakan makanan aneh di hadapannya itu.
"Lalu aku harus bagaimana?" tanya Serkan. Bagaimana ia bisa makan dalam keadaan tidak berpakaian? ia mendesah pelan.
"Maaf Om, sebaiknya Om makan dulu sambil menunggu Andreas."
"Bagaimana kamu bisa melakukannya Hasna? kau tidak lihat suami mu, bagaimana kau bisa melayani suami mu seperti ini?" Tegur Alena.
"Sudahlah tidak apa-apa Alena." Serkan menyela, melakukan tugas seorang istri, Hasna sudah pasti merasa tak nyaman. Ia yakin, pelan-pelan Hasna akan terbiasa.
"Maaf ya Om, di sini memang tidak ada baju laki-laki, tapi ...." Hasna menyela dia ingat baju Azzam yang pernah tertinggal di rumahnya, satu kemeja berwarna navy, kaos biasa dan jaket. Saat itu mereka jalan-jalan sambil makan di pinggir jalan dan pada akhirnya pulang kehujanan.
"Kalau tubuh Om sama seperti tubuh Mas Azzam, sepertinya kemeja yang di tinggal Mas Azzam bisa Om pakai."
"Hasna bagaimana bisa baju Azzam berada di sini?" tanya Alena. Dia tersenyum tipis sambil melirik Serkan. "Kau tidak melakukan sesuatu bukan?" tanya Alena seakan memancing wajah Serkan yang penasaran.
"Em, waktu itu kami jalan-jalan sambil makan di pinggir jalan, jadi pas waktu pulang kehujanan."
"Alena kau tidak memikirkan yang tidak-tidak kan?" tanya Serkan. Dia tidak mau Alena menuduh putranya itu. "Aku percaya Hasna dan Azzam tidak melakukan apa pun."
__ADS_1
"Sayang, maksud ku bukan begitu."
"Om Se, wajar seorang ibu khawatir." Hasna menyela. "Aku mau ambil dulu."
Hasna mengambil baju Azzam yang terlipat rapi di lemarinya. Ia tersenyum dan mengelus kemeja berwarna navy dan polos itu. "Aku merindukan mu."
Serkan tersenyum, ada rasa perih di hatinya. Dia paham, tidak akan mudah membuat Hasna berpaling dari Azzam. Entah ia harus senang atau justru sedih.
Hasna berbalik, dan mendapati Serkan yang berdiri di belakangnya. "Om Se, ini."
Serkan menatap kemeja berwarna navy itu, aroma parfum itu, ya Serkan ingat. Bahkan parfum itu dia yang membelinya sendiri. Ia masih ingat, ia memesannya sewaktu ia berada di paris.
"Yah, aku akan mencobanya." Serkan mengambil kemeja yang terlipat rapi itu.
"Ya sudah Hasna keluar dulu, Om Se bisa memakainya di sini." Hasna berkata dengan lembut. Dia pun menutup pintunya rapat-rapat.
Serkan duduk di tepi ranjang, sesuatu yang tak pernah ia pikirkan. Bahkan dia memakai pakaian yang di tinggalkan putranya, itu pun di rumah istrinya sendiri, yang tak lain tunangan Azzam.
"Kau beruntung Nak, maafkan Daddy yang harus menjerat kekasih mu. Bolehkah Daddy serakah? bolehkah Daddy memakainya dan menganggap Daddy sebagai dirimu?"
Serkan membuka satu per satu kancing itu. Dia pun langsung memakainya, dia menghadap ke cermin. Baju milik Azzam sangat pas di tubuhnya, ukurannya pun sama.
"Hasna belum tau kalau ukuran pakaian mu sama dengan pakaian Daddy." Serkan melipat lengannya, sayangnya ia harus memakai handuk pink bermotif hello kity itu.
krek
Hasna menunggu di luar pintu, sesekali dia melihat ke arah meja makan, melihat ibu mertuanya yang duduk di kursi.
__ADS_1
"Om Se mirip dengan Mas Azzam."