
Setelah kepergian Hasna, Serkan langsung menuju ke makam Azzam. Pria yang dulunya pernah rapuh, kini semakin rapuh. Kedua matanya terasa panas dan terus mengeluarkan cairan bening. Dia menatap satu foto yang berada di depan batu nisan atas nama putranya.
"Sayang ini Daddy," lirihnya dengan tenggorakn tercekat. Seakan sakit hatinya tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata. Dia menunduk dan merasa malu pada putranya.
"Kau pernah berkata pada Daddy kalau Daddy akan suka pada Hasna setelah mengenalnya dari dekat. Ya, Daddy akui, Daddy menyukai bukan hanya sebatas suka, perlahan Daddy menyadari kalau ada hasna di hati Daddy. Katakan pada Daddy, apa Daddy salah? Apa Daddy tidak pantas? Daddy tidak bisa menghentikan perasaan Daddy Azzam."
Kedua tangan Serkan bergetar meraba foto putranya. "Daddy salah, kalau kau mau menghukum Daddy silahkan. Asalkan jangan bawa Hasna. Daddy berjanji akan melakukan apa pun, Daddy berjanji akan membahagiakan Hasna."
"Azzam ....." Serkan memeluk batu nisan putranya. Dia menangis meraung-raung sambil menyebut nama Azzam.
"Daddy mencintai Hasna Azzam." Awalnya ia tidak percaya kalau ia akan jatuh cinta pada Hasna.
Sebuah cahaya membelah langit, angin bertiup kencang. Hujan deras membasahi bumi. Di tengah derasnya air hujan tidak membuat Serkan pergi, dia justru semakin ingin bersama Azzam. Seandainya Azzam berada di depannya, dia akan memohon pada putranya itu.
Pak Aren bernafas lega, akhirnya dia menemukan Serkan. Bahkan dia mendatangi rumah Hasna, namun wanita itu tidak ada di rumahnya. Sepertinya Hasna belum sampai, dia pun meminta Andreas untuk mencari Hasna dan menceritakan semuanya. Sedangkan ia akan mencari Serkan dan pikirannya langsung melayang ke makam tuan mudanya.
"Tuan," sapa Pak Aren. Dia memayungkan tubuh Serkan yang telah basah. "Jangan seperti ini, tuan muda Azzam pasti sedih. Saya yakin tuan muda pasti mebgerti."
"Aku takut Azzam marah dan mengambil Hasna."
Pak Aren menggeleng, semuanya hanya salah pada keadaan saja. "Pulanglah tuan, tuan bisa sakit."
__ADS_1
"Aku tidak mau, Azzam pasti marah pada ku."
"Hah, tuan harus memikirkan caranya untuk membuat nyonya Hasna percaya dan luluh pada tuan, percuma tuan sedih dan menangis seperti ini." Nasehat Pak Aren.
"Nyonya Hasna tidak ada di rumahnya tuan, tuan harus mencari keberadaan nyonya Hasna." Pria yang terpaksa mengatakannya. Awalnya ia ingin merahasiakan saja agar keduanya berpikir jernih.
"Apa? Hasna menghilang?" Serkan langsung berdiri dan berlari menuju ke arah mobilnya, sedangkan pak Aren mengikutinya dari belakang dan masuk ke kursi belakang.
"Pak Aren kau sudah menghubungi beberapa pengawal untuk mencari Hasna."
"Hanya tuan Andreas yang saya hubungi." Ucap Pak Aren.
Pak Aren mendesah pelan, bagaimana ia harus mencari sang nyonya, jika sang tuan menghilang. Semua yang di lakukannya seakan salah. "Maafkan saya tuan."
...
Sedangkan Hasna, dia berjalan sambil merenteng sebuah tas hitam di bawah derasnya air hujan. Air matanya terus berderai dan seakan air hujan itu tau kalau dirinya saat ini sangat rapuh.
Dia menepuk dadanya yang terasa nyilu, kenapa terasa sakit saat dia memutuskan pergi? Inilah yang dulu ia mau, pergi dari kehidupan Serkan, tapi kenapa rasanya sesak dan nyilu?
Tangannya menjatuhkan tas yang ia renteng, dia duduk menekuk kedua lututnya dan menyembunyikan wajahnya, dia menangis tersedu-sedu mengikuti alunan sesaknya di dadanya.
__ADS_1
"Kenapa? Kenapa sakit? Azzam."
Hasna teringat kebersamaan dengan Serkan. Pria itu mirip dengan Azzam. "Aku pasti sedih karena pergi dari kehidupan orang terdekat Azzam, tidak mungkin aku menyukainya. Tidak, rasa ini salah."
"Hasna!" Serkan merasa lega telah menemukan Hasna. Beberap jam dia mencari Hasna dan akhirnya menemukan Hasna. Ia sangat hafal postur tubuh Hasna. Dia pun menghentikan mobilnya di samping Hasna. Sedangkan pak Aren memilih diam di mobilnya dan memperhatikan jarak jauh.
"Hasna, kenapa kau di sini? Ayo pulang, aku antar."
Hasna menepis kasar tangan Serkan. Dia menatap pria di depannya dan menghapus air matanya. "Jangan temui Hasna lagi Om,"
"Kenapa Hasna?"
"Om tau, Azzam tidak pernah membuat ku sedih, Azzam tidak pernah membiarkan aku mengeluarkan air mata setetes pun." Hasna memperlihatka ujung jarinya. "Dia menjaga ku dengan baik, bahkan luka sekecil pun akan membuatnya menangis, tapi semenjak kedatangan Om, hidup ku hancur, hidup ku hancur Om, kenapa Om tidak pergi saja dari hidup ku, denga begitu aku akan merasa bahagia." Ucap Hasna dengan nada marah.
Serkan membeku, air matanya langsung keluar. Perkataan Hasna menancap langsung di hatinya. Bagaikan sebuah pedang yang membelah hati dan jantungnya.
"Pergi Om!"
Serkan tersenyum dengan rasa pahit di hatinya. "Aku antar, setelah itu aku tidak mengganggu mu." Ucap Serkan dengan suara pelan. Mungkin kedatangannya hanya membuat Hasna terluka.
Pak Aren yang mengerti kondisi pun langsung turun. "Nyonya Hasna, ikutlah dengan kami pulang." Bujuknya.
__ADS_1