Menjadi Selir Mantan Mertua

Menjadi Selir Mantan Mertua
#episode 1


__ADS_3

Serkan menggendong Baby Ameera sambil sesekali mencium kedua pipi dengan gemas. Awalnya ia takut menggendong baby Ameera, tetapi Hasna meyakinkannya tidak akan terjadi apa-apa pada baby Ameera selama dia berhati-hati.


"Ameera, putri Daddy."


"Sayang, Ameera sudah tidur. Kenapa tidak menaruhnya?" tanya Hasna. Dia baru saja selesai membersihkan tubuhnya di bantu dengan Ana.


"Aku tidak ingin menaruhnya, aku ingin menggendongnya," ucap Serkan. Dia tidak rela menaruh putrinya. Seandianya bisa, ia ingin menggendongnya tiap saat. Dulu dia berharap memiliki seorang putri, namun karena Tuhan memberikan bayi laki-laki, ia tidak masalah yang penting sehat.


"Tapi kasihan juga baby Ameera, dia yang lelah, hem ..."


"Iya juga ya," Serkan berpikir, bisa juga putrinyalah yang lelah karena ia gendong tiap saat.


"O iya Eli dan Andreas mau kesini," ucap Hasna. Dia mengambil gamis dan jilbabnya. "Mereka semakin lengket saja," imbuhnya lagi.


"Benarkah? Aku bersyukur kalau Andreas bisa membuka hatinya. Dia pernah jatuh cinta, tapi gadis itu mencintai orang lain, ya cinta terpendam." Serkan menaruh baby Ameera dengan lembut, kemudian beralih pada istrinya, mengambil gamis dan jilbab di tangan istrinya.


"Sayang kau mau apa? Biar aku saja," Hasna menolak suaminya saat ingin memakaikan pakiannya dan jilbabnya.


"Tidak, anggap saja aku suami mu dan pelayan mu."

__ADS_1


"Biarkan aku melayani mu my Queen."


"Baiklah, aku tidak bisa menolak suami ku ini."


Serkan membuka jubah mandi Hasna, seperti biasa dia akan melihat dua gundukan itu dan menahan sesuatu yang bergejolak di tubuhnya. Dokter mengingatkan Hasna belum bisa di sentuh dan ia harus puasa, tapi baginya tidak masalah selama ia bisa bersama Hasna.


Serkan memakaikan pakaian Hasna, lalu mengeringkan rambut Hasna dan terakhir memakaikan jilbab. Dia mencium kening Hasna dengan lembut.


"Terima kasih sayang,"


Serkan membantu Hasna duduk di tepi ranjangnya dengan hati-hati karena ada jahitan di bawah sana.


Serkan memutar kembali tubuhnya, dia membuka pintu kamarnya dan melihat Eli dan Andreas yang sedang merenteng beberapa paper bagh dan dua pelayan yang membantunya.


"Kalian," Hasna melihat banyaknya paper bagh di atas ranjangnya.


"Aku tidak tau pakaian apa yang cocok, jadi aku membeli apa saja yang aku lihat," ucap Andreas.


Eli mendengus, dia sempat bercekcok dengan Andreas masalah baju untuk Ameera.

__ADS_1


Serkan mengambil satu paper bagh dan isinya dua macam baju yang masing-masing ada tiga dengan warna berbeda.


"Terimakasih, Ameera pasti senang mendapatkan hadiah dari kalian."


"Tapi aku tidak suka berbelanja dengannya, dia itu mau menang sendiri." Adu Eli, niat hati mau beli sendiri, tapi karena Andreas datang ke rumahnya dan mengejaknya. Ia ingin menolak, tapi ibunya memaksanya untuk ikut.


Jadi beginilah dirinya saat ini, ia kesal setengah mati pada Andreas.


"Sudah tidak apa-apa, semuanya pasti cocok untuk baby Ameera."


"Semoga saja," sahut Eli.


"Aku yakin baby Ameera pasti cocok dari pada pilihan mu." Andreas mencibir pilihan Eli.


"Kau, aku tidak yakin, pilihan mu itu terlihat kuno." Eli tak mau kalah, pilihannya juga tak kalah bagus.


"Lebih bagus piliha ku daripada milik mu yang tidak berkelas." Sambar Andreas.


Serkan menoleh, dia mendengarkan bayi imutnya menangis dan sangat geram pada Eli dan Andreas yang tidak menyudahi perdebatan mereka dan malah membuat baby imutnya menangis kencang.

__ADS_1


Dengan cepat, Serkan menarik lengan Andreas dan Eli. "Kalian tidak di terima di kamar ku."


Brak


__ADS_2