
Alena merasa pusing, dia menyapu sekeliling ruangan dan beranjak duduk. Berada di atas brankar, Alena menyadari kalau ia berada di rumah sakit dan teringat kejadian tadi pagi yang membuatnya hampir mati.
"Ini semua salah si ****** itu, seharusnya dia yang mendapatkannya bukan aku dan Leon, kemana orang itu? Tidak mungkin dia pergi kan?"
"Argh!! Semuanya tidak bisa di percaya." geramnya.
Alena melihat dua polisi wanita yang sedang berbincang dengan dokter. Salah satu polisi wanita masuk dan menatap Alena. "Dokter mengatakan nyonya Alena boleh kembali, silahkan Nyonya Alena ikut kami."
"Aku belum sembuh total, aku sakit kepala." Ucap Alena berpura-pura memegangi kepalanya. Dia tidak mau lagi berada di jeruji besi itu. Sudah panas dan ada dua tiga wanita yang menjengkelkan itu.
Bagaimana aku bisa kabur dari sini? Batin Alena.
"Baiklah, saya akan memberi waktu pada nyonya Alena, nanti malam nyonya Alena harus keluar dari sini."
"Baik," ucap Alena menyerah, namun otaknya berputar-putar mencari cara agar bisa keluar dari rumah sakit ini.
Alena kembali membaringkan tubuhnya dan memejamkan kedua matanya, ia harus pergi dari rumah sakit ini dan mencekik Hasna.
__ADS_1
...
Di sebuah tempat makan. Hasna dengan telaten melayani Serkan. Ada telur mata sapi, kangkung, tahu dan menyiapkan udang. Hasna mengupas kulit udang itu lalu memberikannya pada Serkan.
"Swety, kau ingin membuat aku gendut ya?"
"Lah kenapa kan enak gendut?" tanya Hasna balik. Baginya Serkan gendut tidak masalah.
"Suami sexy itu harus di jaga swety, swetheart supaya apa? Supaya tidak di rebut orang lain, masak suami tampan, waw seperti ku swety tidak ingin menjaganya."
Hasna mengambil garpu di sampingnya, lalu menusuk pada udang di tangannya. "Ingin keluyuran?"
Serkan menguyah makanan di mulutnya dengan pelan sambil melirik Hasna. Ia merasakan firasat tidak enak.
"Om Se tidak mau di tusuk-tusuk seperti ini kan?" tanya Hasna tersenyum penuh arti.
Serkan menunduk dan memakan dengan cepat. Dia bahkan hampir tersedak, ia menghimpit miliknya yang berada di bawah. Ia tidak ingin membayangkan milikinya di tusuk-tusuk padahal belum mencetak anu-anu beberapa kali dengan Hasna.
__ADS_1
"Ehem swety, tadi aku menghubungi pak Aren, besok pasti sudah selesai renovasinya." tutur Serkan.
"Iya," ucap Hasna. Dia seolah menjadi istri yang sesungguhnya untuk Serkan.
"Aku berencana untuk menggelar pernikahan kita, aku ingin semua publik tau siapa dirimu, kau adalah Hasna, Nyonya Serkan."
"Tidak perlu Om Se, kita sudah sah secara agama."
"Aku akan mendaftarkan pernikahan kita besok. Aku ingin kau menjadi istri seutuhnya untuk ku."
"Iya, terima kasih Om Se."
Hari ini Serkan berniat untuk libur kerja, biarlah Andreas yang mengurusi semua pekerjaannya, ia ingin bermanja-manja dengan Hasna, rasanya ia tidak ingin melepaskan Hasna sedikit pun.
Tak terasa malam telah tiba, tepat jam 07.00 Hasna membuka jendela kamarnya, udara dingin menyeruak masuk. Serkan yang baru saja datang dari kamar mandi memeluk Hasna dari belakang. Dia mencium bahu Hasna, dan Hasna memejamkan kedua matanya. Merasakan sebuah sentuhan yang nyaman.
Hasna menoleh, bibirnya langsung mencium pipi Serkan dan membuat kelakiannya bergejolak, dia langsung memutar tubuh Hasna dan mencium bibirnya
__ADS_1